Jumat, 10 Januari 2014

Another sotoy comment buat Lontara Rindu

Source gambar
Judul: Lontara Rindu
Penulis: Gegge Mapangewa
Penerbit: Republika
Perolehan: Dipinjami temannya Go Ku draGom Bal

Novel ini bercerita tentang seorang anak bernama Vito yang bayangan tentang Ayah dan saudara kembarnya begitu samar2. Ia masih belum sekolah ketika Ayah dan saudara kembarnya Vino pergi. Terlalu banyak pertanyaan tentang kedua orang yang ia sayangi itu. Namun begitu ia tidak tau mereka dimana. Bahkan hanya untuk sekedar mencari informasi ttg mereka ia pun tak bisa. Mama dan Kakeknya selalu menghindar jika disinggung sedikit tentang Ayahnya. Usianya saat dalam cerita ini adalah berkisar 13-14 tahun (Kelas 1 SMP).

Suatu kali ada kejadian di Sekolah yang membuatnya tertekan. Vito yang periang dan suka bercerita berubah menjadi pendiam. Dalam momen puncak saat ia tertekan itu, ia bahkan semakin merindukan Ayah dan saudara kembarnya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan Pak Saleng, makelar ternak yang dulu pernah berteman dengan Ayahnya. Darinya akhirnya Vito tau, Ayahnya dan saudara kembarnya pernah bekerja di Kalimantan. Selang beberapa waktu, Mamanya akhirnya juga membuka mulut tentang keberadaan Ayahnya.

Singkat cerita, Vito akhirnya tau kalau perpisahan orangtuanya dikarenakan pengkhianatan Ayahnya. Dan itu terjadi karena Ayahnya yang tidak bisa meninggalkan keyakinan agamanya, agama khas Sidenreng Rappang (latar dari cerita ini) yaitu Tolotang (di KTP disebut Hindu). Kisah pernikahan kedua orangtuanya pun tidak mudah. Ini diceritakan secara pararel oleh penulis.

Akhirnya setelah sebelumnya mencari sendiri dan tidak berhasil, Vito bertemu dengan Ayahnya dan Vino lewat drama penculikan yang membuat panik Ibu dan Kakeknya. Vito sendiri tidak merasa diculik, karena ia dibawa baik2 oleh orang suruhan Ayahnya. Namun ia menemukan Ayahnya dalam keadaan tidak sadar bahkan sampai ia meninggalkannya. Vito kembali pada Ibunya yang dipastikan sangat mengkhawatirkan dirinya.Tapi ia berjanji pada Vino dan Ayahnya untuk kembali setelah meminta izin pada Ibunya. Kisah berakhir disitu.

Heuu aku kok nggak nangis ya..? Baik selama atau setelah baca buku ini. Dengan segala endorsmet dan sinopsis yang ada di sampul bukunya, juga tanggapan2 pembaca lain di goodreads, kupikir setidaknya kalaupun tidak menangis akan ada perasaan hangat yang menyeruak. Ini memang pandangan yang subjektiv, tapi dari orang yang mudah tersentuh. He he... 

Saat baru selembar dua lembar membacanya, aku kok merasa penulisnya agak mengadopsi atau setidaknya terinspirasi sekali dengan gaya penulisan Andrea Hirata ya? Dengan warna lokal yang kental itu, ironi2 kehidupan yang diceritakan, menertawakan kehidupan, mimpi dan perjuangannya. Hanya saja penggunaan sudut pandang orang ketiga yang tau segala-galanya seperti Tuhan disini agak mengganggu. Memang tidak mungkin menggunakan Vito yang masih SMP menjadi pencerita disini atau sudut pandang orang pertama. Kecuali jika alurnya dibuat mundur. Tapi, menggunakan orang ketiga yang ada dicerita itu sepertinya akan lebih baik. Seperti Pak Amin, atau mungkin Ibunya. Karena, ada cerita yang diceritakan oleh narator/penulis disini yang pada akhirnya diceritakan lagi oleh salah satu tokoh dalam cerita. Jadi numpuk kan. Misal, kalau memang kisah tentang nenek Malomo itu akan ada di bagian cerita yang disampaikan oleh Pak Amin ke murid2nya, apa yang disampaikan di prolog itu tidak perlu.

Oh ya, kisah ini tidak hanya tentang Vito, tapi juga tentang teman2nya, guru2nya, dan orangtuanya. Tapi sayangnya perpindahan dari cerita satu ke cerita lain terasa kurang halus. Kalau dari cerita Vito ke cerita Ilham dan Halimah--yang merupakan orangtuany-- oke laah.. Tapi yang tiba2 pindah ke Irfan (teman Vito) misalnya atau Pak Amin, agak kurang halus.

Satu lagi. Kisah ini juga agak kurang natural. Aku memang tidak paham bagaimana umumnya pola kekerabatan orang2 Sulawesi. Apakah ekspresi kasih sayang seperti memeluk, mencium, dan mendekap dari belakang saat tidur itu wajar disana. Tapi secara umum, orang desa, beradat, apalagi laki2 tidak seekspresif itu. Itu tabu.

Di Laskar Pelangi seri 2 atau Sang Pemimpi beda. Dia natural. Justru ketika digambarkan hubungan Ikal dan Ayahnya yang begitu kaku dan dingin, ada emosi yang sangat terasa disana dan sampai pada pembaca.

Hadeuuh,,aku ini. Penulis juga bukan, apalagi juri lomba nulis, tapi komentarnya sungguh terlalu. He he.. Padahal ini sama jurinya aja udah dijadiin novel terbaik. Yahh, ini hanya tanggapan umum seorang penikmat karya sastra. Jadi sebenernya, ndak usah digubris ajja.. Dimana-mana pengamat memang selalu bisa berkomentar macam2. Padahal dia sendiri belum tentu bisa.

Oya, kalau soal konten dan ide cerita sebenarnya ini sangat bagus :)

Sabtu, 04 Januari 2014

Review buku JODOH beneran =)

Judul: Jodoh Dunia Akhirat—Merayu Allah, Menjemput dalam Taat
Penulis: Ikhsanun Kamil & Foezi Citra Cuaca (ada tambahan keterangan di bawahnya di sampul: Romantic Couple wkwkwk)
Penerbit: Mizania
Tahun terbit: 2013
Tebal: 288 hal
Perolehan: Dipinjemin Mbak Wid

“Jengngng, dirimu harus baca buku ini!” beberapa kali temanku itu (Mb.Wid) menyuruhku membaca buku ini. Bahkan memotret dan mentag buku ini di FBku. Akunya W.O.L.E.S. Masang muka kayak gini ni : -_____-. Hello.. please deh, guwe udah kenyang baca buku begituan. Dari yang ditulis ustad sampe praktisi psikologi pernikahan luar negri. Dari Salim A.Fillah sampe siapa tu yang nulis Mars & Venus. Apa bedanya? Lagian seumuran kalian ini (aku nggak termasuk ya) sudah waktunya mempraktekkan! Membaca buku begitu disaat sudah seharusnya mempraktekkan itu menambah penderitaan. Kataku, tapi dalam hati saja. Hee..

Sampe kemarin, entah kesambet apa, merasa perlu untuk baca buku ini. Gggg.. Yah, dan disuatu malam, saat aku curiga Indonesia sedang diserang tentara sekutu atau pemberontak dari negerinya sendiri aku terbangun. Gilee ni taun baru di Surabaya kenapa segininya si? Bunyi petasan memekakan telinga. Wiiiiing… jedor jedor jedor jedor.. Wiiiiing… jedor jedor jedor jedor.. Beneran kayak bunyi peluru. Dan di saat nggak bisa tidur itulah aku baca buku ini. Tengah malem menjelang jam 00.00. Ini ngaruh, soalnya di Bab awal-awal isinya pembaca disuruh muhasabah. Koreksi diri. Jadinya tersinggung kemana-mana deh.. ha ha..

Well well, jadi saya akui buku ini beda sama buku bertema pernikahan yang lain. Kalau buku pernikahan yang dibikin ustad-ustad itu ya pembaca bakal terkompor-kompori buat nikah muda. Karena emang bukunya provokatif abis. Gawatnya, kalau udah terkompor-kompori tapi tetep bingung gimana merealisasikannya, jadi galau. Galau, galau, galau. Nah kalau buku ini, seperti yang saya sampaikan diatas, pembacanya diminta untuk terlebih dahulu menengok kembali niat yang mungkin belum lillah. Juga cara-cara yang mungkin belum biidznillah.

Formula yang dirangkai oleh penulis untuk “menjemput jodoh dunia akhirat” ini ada 3 langkah:
  1. Cleansing
  2. Upgrading
  3. Selecting
Sebelum membahas itu, pembaca diajak dulu untuk “menikahi penantian” (cieee, aduh jadi mules). Katanya: jangan Cuma menanti pernikahan, tapi nikahilah penantian dulu. He he.. Analogi yang disampaika penulis begini:

Bila kita menabung di Bank yang pengunjungnya ramai setiap hari, hal yang harus kita lakukan adalah mengambil nomor antrian dulu, kan? Mengambil nomor antrean adalah komitmen kita untuk bersabar sampai batas waktu giliran nomor antrean kita dipanggil, agar kita “sah” untuk mendatangi teller dan menabung yang kita disana. Apa jadinya kalau kita tidak mengambil nomor antrean? Tentu sampai Bank tutup pun kita tak akan pernah mendapat giliran untuk bisa mendatangi teller, kemudian menabung. Kecuali bila petugas Bank berbaik hati menjadikan kita pengunjung terakhir atau diingatkan oleh satpam.
Lalu, apa jadinya bila telah mengambil nomor antrean tapi kita melakukan hal-hal di luar prosedur? Missal, menyerobot nomor antrean, meninggalkan bank sejenak hingga nomor antrean lewat, atau melakukan tipudaya licik agar nomor antreannya disegerakan. Tentu, boleh jadi kita didenda, nomor antrean di pending, atau malah ditolak untuk melakukan transaksi. Gitu! Araso!?

Nah, ngapain aja selama masa “menikahi penantian”? Pertama, mantapkan hati dulu bener2, beneran udah mau nikah? Nggak takut terbatasi, nggak takut cerai? Ha ha.. kok jadi horror. Mungkin maksudnya disini adalah buat ngecek niat.. Ya! jadi langkah kedua, luruskan niat. Hemmbb,, kubuatin table aja ya langkah2nya. Gini ni..

Tabel ceklist dalam masa “menikahi penantian”
No
Langkah-langkah
Item ceck
Ceck it!
Ya
Belum /Bukan
1 Mantapkan hati Beneran mau nikah?



2 Niat nikah Karena bosan sendiri



Pengen kabur dari rumah



Panas dan terhasut euphoria menikah



Iri sama yang sudah menikah



Menjadikan menikah sebagai perlombaan/pembuktian



Terlanjur jatuh cinta pd “dia” yg membuat jadi ingin menikah (jleb!)



3 Urai penghambat menikah Orangtua



Keluarga dan adat istiadat



Kemapanan (biasanya cowok ni..)



Trauma masa lalu



Jodoh (jleb, jleb!)



4 Sudahkah benar cara cari jodoh Pacaran



HTS (hubungan tanpta status. Jleb, jleb, jleb!)



Ta’aruf asal (kyak beli kucing dlm karung)





Nah, baru beranjak ke Bab selanjutnya: Cara benar cari jodoh

Cleansing: Karena bisa jadi jodoh kita itu terhijab oleh kesalahan2 atau dosa2 kita hii…
  • Dosa diri
Disini ada dua permbahasan atau contoh. Pertama, Cidaha (cinta dalam hati). Asli, baru tau singkatan ini. Kasus, kayak gini banyak ya kawand? Terutama Perempuan. Tapi kalo menurut riset penulis, Pria juga banyak og. Bedanya itu Cuma masalah keliatan atau nggak keliatan. Yaah, kalo perempuan itu kan lebih ekspresif, suka cerita gitu deh. He he.. Menurut riset penulisnya juga, hal ini ngaruh banget boi. Perlu banget buat diselesaikan. Maafkan diri sendiri trus minta ampuuuun sama Allah. Karena bisa jadi kita telah menduakan atau malah me-multiple-kan cintaNya, yang membuat Allah murka. Yuk berdamai dengan diri sendiri. Dan itu bisa lho kawand, asal kita sungguh2, minta pertolongan sama Allah. Kan memang Dia yang memegang hati kita. Yang kuasa membolak-balikkannya. Saya sudah membuktikan (lohhh!!)

Yang kedua, mungkin ada dosa lain yang juga masih mengganjal di diri kita. Kalau contoh di buku ini adalah seorang yang terbiasa menonton film porno gitu,, walapun awalnya nggak sengaja. Kebiasaannya berlanjut ke hal2 seperti onani/masturbasi gituu.. he he.. Hadeuh jaman sekarang ini kondisi yang nyata. Ini juga kudu tobattt bener bener dah..

  • Dosa orangtua
Mungkin ada hal-hal yang belum terselesaikan sama orangtua. Ada yang masih ganjel. Ada dendam yang tersembunyi. Padahal oh padahal, yang namanya ridho orangtua itu yaa.. dikatakan dalam sebuah hadist mewakili ridho Allah subhanahuwata’ala. Jadi kalo sampe orangtua kita nggak ridho, heuuu.. Tapi dibuku ini bukan itu saja yang dibahas, Antara lain:

Pertama, efek alam bawah sadar. Orangtua adalah pembentuk mindset anak pertama kali. Ini jika buruk akan menumpuk dan menimbulkan demdam yang mungkin tak ketara, tapi tersistem dalam alam bawah sadar. Perlakuan orangtua dari kecil yang mungkin “menyakiti” kita. Begitulah, hal ini banyak terjadi kurasa

Kedua, peniruan tingkah laku. Modelling thd perilaku orangtua. Missal kita sering dicurhatin ibu tentang betapa bejatnya Ayah kita. Atau bapak suka memarahi ibu karena pekerjaannya tidak beres dll. 

Ketiga. Nggak deket sama ortu. Pengaruhnya adalah:

Jika tidak dekat dgn ayah
    Bagi anak laki2: akan bermasalah dalam menanjaki karier atau dalam pencarian nafkah, sulit untuk berkembang. Katanya lebih lanjut, orang2 yang tergila-gila ingin jadi public figure itu sebenarnya sedang mencari pembuktian supaya mendapat pengakuan terutama dari ayahnya. Heee..
    Bagi anak perempuan: akan sibuk dalam pencarian cinta shg dengan mudah terjebak dalam hubungan pacaran bahkan sejak masih muda. Ini seperti pencarian sosok lelaki sebagai pelindung. Hiii..
Jika tidak dekat dgn Ibu
    Bagi anak laki2: akan kesulitan untuk mendeskripsikan serta mengaplikasikan cinta dan kasih sayang yang sebenarnya. Yang paling parah bisa melakukan tindakan tidak terhormat pada perempuan, menjadi sosok yang tega menyakiti, mengkhianati dan tidak bertanggungjawab atau melakukan kekerasan terhadap wanita. Wuuh, complicated ini.
    Bagi anak perempuan: akan merasa tidak betah dirumah. Ada perasaan ingin kabur. Dan seringkali alasannya adalah dengan menikah itu tadi. 

Keempat. Dampak ketidaksengajaan orangtua. Jadi cinta yang dipahami dengan salah mungkin ya. Jadi si anak ngerasa gini, padahal niat ortu gitu. 

Nah, ini semua termasuk yang harus di cleansing. Harus dibersihkan. Hahhh, jadi pengen cerita pengalamanku. Bukan ttg jodoh tapi yak. Tentang skripsi, yang ternyata malah bisa jadi momen kedekatan kita T_T. Tapi nggak usahlah ntar kepanjangan.
  • Hapus Dosa Orang Lain
Ada, fakta dipaparkan dibuku ini, dan mungkin juga dialami oleh orang lain. Mengalami dendam dan iri terhadap orang lain yang terkait dengan pernikahan. Bahkan bisa dari saudara sendiri. Ini di cek juga ya..

Cara cleansingnya yaitu, berdamai dengan diri sendiri. Yaitu dengan menerima. Dikunyah. Ditelen. Ya emang itu kita yang ngelakuin, itu yang terjadi sama kita. Mau lari, lari kemana. Jadi satu2nya pilihan adalah menerima. Terusss, disyukuri. Ini mengingatkanku sama buku Tere Liye yang Berjuta Rasanya dan Sepotong Hati yg Baru. Ada reviewnya di blog ini. Setelah itu, maafkan. Maafkan diri sendiri. Karena kita telah melukai diri sendiri, mendzolimi diri sendiri. Selanjutnya, lepaskan. Biarkan ia mengalir ke muara yang tepat. Teruuuss, melangkah ke depan. Rasakan, kamu akan merasa lebih ringan. Lebih free. Bisa merancang ulang apa yang bener-bener kamu mau. Abis itu plonggg deh… Ini akan lebih sangat-sangat ngaruh kalau kita minta pertolongan sama Allah. Bener-bener minta tolong. Just, do it! I was.. he he
Kamu akan move up. Bukan saja move on. Tapi Move Up.
  
Upgrading

Nah, abis bersih-bersih. Saatnya upgrading. Menaikkan kemampuan dan kapasitas diri. Karena memperbaiki diri = memperbaiki jodoh. Sambil juga memperkuat magnet jodoh. Ha ha.. bahasanya menggelikan ya? Atau istilahnya diganti Radar juga boleh. Biar kayak film Perahu Kertas. Dengan radarku, menemukanmu… heuheu..
Nah, upgrading ini meliputi:
  • Upgrade pengetahuan. Apapun itu butuh ilmu kawand. Apalagi soal menikah. Kalau yang disarankan di buku ini setidaknya ada 3 hal yang harus kita upgrade: Ilmu pernikahan, ilmu jemput rezeki sama ilmu Relationship. Bagi yang udah kenyang makan ilmu begituan. Emm tetep harus belajar.
  • Upgrade skill. Mempraktekkan ilmu yang sudah dipelajari.
  • Upgrade hati. Punya ilmu dan kemampuan kalau nggak diimbangi hati yang lapang, ikhlas dan tulus juga nggak bagus. Jadi ini juga harus dilatih.
  • Upgrade sepanjang masa. Proses upgrade ini bukan hanya dilakukan kalau mau nikah aja! Udah nikah juga harus tetep dilakukan.
Selecting
Nah, kalau udah sampai sini, langkah-langkah selanjutnya ini banyak bertebaran di buku-buku nikah lain. Kalau versi di buku ini, kita harus membuat acuan-acuan atau tolak ukur. Antara lain: visi dan misi pernikahan kita. Ini kudu ditentuin. Kalau belum jelas diperjelas. Heu heu.. Trus selanjutnya yang harus ditentukan adalah kriteria pasangan yang diingin dan harus spesifik. Eh mungkin bukan spesifik ya, tapi definitif. Bukan yang umum-umum. Kalau bingung caranya, ini dikasih tau juga sama penulisnya.

Pertama: mirroring. Ngaca! He he.. kita harus kenal sama diri kita dulu supaya tau apa yang kita butuhkan. Supaya bisa menentukan kira-kira kita butuh orang yang kayak apa. Dan sekarang banyak sekali teori2 kepribadian yang bisa membantu kita. 

Kedua: Matching. Kenali pasangan. Ini bagi yang udah ada calon pasangannya berarti. Wakakak.. hal-hal yang jangan sampai luput, yiatu: Masa lalunya, karakter pribadinya, keluarganya.

Ketiga: kenali diri dan pasangan. Ini adalah proses seumur hidup. Waktu udah nikah.

Di bab selecting ini juga ada pembahasan cara menjemput jodoh. Gggg… ini juga kurasa banyak di buku pernikahan. Disini pembahasannya dipisahkan Antara yang buat laki-laki dan buat perempuan. Dijelaskan oleh penulisnya, kalo untuk laki-laki itu relative gampang. Kalau udah punya calon tinggal datengin orangtuanya. Kalau belum, yaa.. minta tolong cariin. Pokoknya lebih gampang lah.. disini kalau udah sampe di bab ini emang mindset nya udah siap nikah. Udah tinggal action! Jadi soal preparing kaum laki2 yang katanya lebih rumit itu nggak dibahas disini. Harusnya emang udah selesai.

Hummm,, tapi aku jadi kembali mengingat statement beberapa laki-laki: “Bagi kami menikah itu tidak semudah, segampag dan sesimpel perempuan”. Oke-oke. Araso, araso! Kalau gitu harap diselesaikan dulu ya urusan anda dengan diri anda sendiri. Oh ya, kalau kata bapakku, salah satu hal lagi yang menghambat laki2 susah sekali untuk menjemput jodoh itu rasa minder. Ini terbukti dengan.. Jadi aku punya temen perempuan, dia ini dewasa sekali. Pokoknya dia itu senang membantu temannya untuk mendapatkan jodoh. Dicariinnya juga biasanya sama temen2 sendiri juga. Beberapa kali dia cerita. Kalau dia menghubungi temannya yang laki2 dan ditanya sudah siap menikah belum? Mereka pikir2. Terus kalau ditanya emang kriterianya gimana? Mereka akan menyebutkan beberapa dan yang terakhir kalimatnya selalu begini: “yang penting mau sama saya”. Wakakakak.. ketauan banget mindernya. Tapi ada juga kok yang pede. Atau keterlaluan pede.

Bagi perempuan. Kalau mau dibikin simple juga bisa sebenernya. Tapi ya, banyak tapinya. Gimana coba perempuan harus memulai? Pasang iklan? Jadi pilihannya adalah: menanti dengan taat untuk dilamar, mengajukan diri untuk dilamar atau pakai proposal pernikahan. Nah, tak tambahin lagi ya.. yang banyak terjadi di lapangan itu, yang perempuan udah berani2in diri buat mengajukan diri. Udah sampe bertapa ribuan tahun. Trus jawaban lakinya cuman: “saya belum siap nikah”. Dong deengggg. Kalo gitu, siklusnya kudu balik lagi. Cleansing lagi. Emang perempuan itu lebih cepat dewasa ketimbang laki2. Bahkan ada ahli psikologi yang mengatakan laki2 itu tidak pernah dewasa. Hwe he .. *aku kedengaran curcol nggak sih? Wakakakak.. percayalah ini hasil riset juga.Nggak percaya? Baca ini.

Dan nggak kerasa aku dah nulis 6 lembar. Ni review terpanjangku kayaknya. Semoga review ini tidak membuat orang males beli bukunya. Menurunkan angka penjualan dan memusingkan marketing penerbitnya. Yang pasti, akan lebih puas kalau baca bukunya sendiri. Nah, jadi inget. Kalau ada kelemahan di buku ini adalah tampilannya. Jadi aku melanjutkan baca buku ini di bus menuju Tuban keesokan harinya. Berarti tanggal 1 Januari 2014. Liburan, dan aku memilih mengunjungi temanku yang terbuang di pengasingan. Sewaktu baca di bus itu, aku mikir, ni buku mencolok banget ya.. Berani taruhan, kalau laki-laki/ikhwan/ikhtong (ikhwan sepotong) bakal ngumpet di kamar, dan mengunci diri kalau mau baca buku ini. Bentuknya melebar (kayak buku dongeng), warnanya ungu, judulnya gede (ya iyalah): JODOH DUNIA AKHIRAT, trus layout dalemnya banyak yang di block warna pink dan banyak ornament love-love nya gitu… ekekekek.. cute beuuudh deh. Kayak gini ni:

Widya's colection on FB
Well di bab akhir, penulis menceritakan proses pertemuan dan pernikahan mereka berdua yang juga tak sempurna. Tapi mereka berdua mengupayakan untuk terus berada di jalur yang benar yang diridhoi oleh Allah, makanya mereka menikah. Hingga mereka merasa perlu membantu orang lain makanya bikin buku ini, dan buku sebelumnya. Bahkan bikin seminar dan workshop. He he..

Dan di awal tahun ini antara Januari-Februari, sudah ada setidaknya 6 pemberitahuan pernikahan ataupun undangan dari saudara dan teman. Beberapa tau cerita "behind the scene"nya dan benar-benar membuat terharu. Yang bener2 warrior perempuannya, sampe yang unbelieveble dan bikin heboh. Kapan hari juga baca TL ttg proses pernikahan Ust. Anis Matta dgn istri keduanya yang juga mengharukan. Poin yang bisa diambil dari situ, saat menjalani prosesnya itu (sebenernya si proses apa aja dalam hidup) harus ikhtiar bumi dan langit, jujur sama diri sendiri ttg apa yang dirasakan, ikhlas, menyerahkan hasilnya pada takdir yang sudah ditentukan. Lillahi ta'ala. *how wise :D

Ditulis buat ukhti-ukhti solikhah beloved,  teruslah Merayu Allah, Menjemput dalam Taat. Kalian baca ini dulu aja ya, karena aku juga minjem. Very helpfull insyaAllah. he he.. Selamat berikhtiar.. :P


Senin, 30 Desember 2013

Memotret dengan Canon Power Shoot A810

Jaman sekarang DSLR itu bukan sesuatu yang terlalu istimewa. Maksudnya, sudah jadi barang konsumsi umum. Kalau dulu, kalau bukan fotographer professional kayaknya jarang yang punya. Sekarang asal punya kocek cukup, gampang aja mau punya. Masalah cara pakenya bisa belajar. 

Suatu kali waktu sharing2 dengan teman kantor soal mimpi2, salah satu mimpiku tu kan punya kamera. “Kamera pocket aja” kataku. Terus aku diketawain. Katanya, “Mbok ya sekalian DSLR gitu mbak”. Akunya kekeh, “Nggak pak, saya kamera pocket aja cukup”. Ha ha,, ini bukan semacam minder atau apa ya.. Cuman emang saya pengennya kamera pocket. Bisa disakuin. Dan poin pentingnya, kalau gambar yang kita hasilkan atau teknik yang kita kuasai atau minat kita sama fotografi nggak gede2 amat ngapain punya kamera DSLR. Mubadzir. Pemborosan. Nanti pabriknya mengira minat akan DSLR makin tinggi, maka dia meningkatkan produksi, maka akan menyedot banyak sumber daya alam untuk membuat sebuah kamera DSLR yang lebih rumit itu. He he.. 

Beberapa waktu lalu waktu jalan2 nyari tempat yang ijo royo2 di Big City Surabaya, saya bawa kamera Canon Power Shoot A810 punya kantor. Saya pergi bersama temanku. Temanku ini mimpi banget punya DSLR. Nah, pas dia tau kamera pocket yang kubawa ini bisa menimbulkan efek blur di belakang focus di depan dan sebaliknya, di excited. Katanya “waaa,, kayak DSLR jeuung, ini berapa MegaPixel?”. “Enam belas” jawabku. Dan dia makin heboh. Katanya, dia mau beli ini aja sebelum punya DSLR.

Ini hasil jepretan temanku:

 
Jadi kamera ini spesifikasinya sbb (yg sebenernya aku juga nggak ngerti ini maksudnya apa) :
  • Ukuran (L x W x H cm)     9.47 x 6.13 x 2.98 cm
  • Berat (kg)     0.12 kg
  • Ukuran Layar (in)     2.7
  • Zoom Optik     5.0
  • Megapiksel     16.0
  • Fitur     HD Recording|Image Stabilization|Wide Angle
  • Output     Component Video|Composite Video|USB
  • USB Port     Ya
  • Resolusi Layar     230000 dot
  • Tipe Baterai     AA
  • Format Foto     JPEG, DPOF
  • Ukuran File Foto     4608x3456
  • Format Video     MOV
  • Video HD     Ya
  • Resolusi Video     1280 x 720
  • Focal Length     5-25 mm
  • Image Stabilization     Ya
  • Range Aperture Lensa     f/2.8-6.9
  • Zoom Digital     4x
  • ISO Range     100 - 1600
  • Range Shutter Speed     1 - 1/2000 detik
  • Built in Flash     Ya
  • Tipe Memory Card     SD, SDHC, SDXC
  • Tipe Layar     TFT
 Sumber: http://hargakameraa.blogspot.com/2013/04/harga-kamera-canon-powershot-a810.html

Aku kan suka mootret wajah orang. Tapi belum pernah secara serius motret wajah orang pakai kamera ini.Cuma, masih di lokasi yang sama kita poto2an hi hi..


Tapi sepertinya kualitas foto dengan kamera ini tergantung banget sama ketersediaan cahaya. Foto diatas dilakukan sore hari di spot yang entah bagaimana mendukung. Coba kita bandingkan dengan jepretan teman saya di lain waktu, di bawah tenda biru: 

Atau di luar ruangan yang spotnya biasa aja kayak gini:

Hasilnya juga bisa sebiasa ini. Atau ini bagus ya sebenernya? Entah tekniknya entah modelnya : 
 
Dia agak bermasalah jika kekurangan cahaya. Atau perlu pengaturan khusus. Ini contohnya ketika mengambil foto malam hari baik jarak jauh atau yang di fokuskan ke objek:

Kecuali jika yang difoto adalah cahaya itu sendiri atau pemotret berada di bawah cahaya:

Nah, kalo ini asli pamer hasil jepretanku:


Jadi, Pocket Camera is not too bad you know.. Setidaknya sebelum saya melihat hasil jepretan saya pakai kamera DSLR, yang akan saya ceritakan di potingan berikutnya :)
 


Jodoh pasti bertemu--Sebuah resensi buku marketing

Judul: We are All Weird—Saatnya Menjadi Orang Aneh
Penulis: Seth Godin
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: Kaifa-Entrepreneurship, PT. Mizan Pustaka
Tahun: 2011
Tebal: 104 h; 20,5 cm
Perolehan: Beli sendiri dengan harga 5 ribu rupiah di IBF Malang bersama teman2 relawan tanggal 2/12/13 :p

Menurutmu dengan sampul seperti ini, ini buku tentang apa?
Source Gambar di sini
Haa,, kupikir ini semacam buku psikologi/kepribadian kontemporer. Atau setidaknya buku lawak. And I was wrong! Tottaly Wrong! Bahkan synopsis di belakangnya pun tak mampu membantuku untuk mengetahui jenis buku apa ini. Bahkan juga gambar kurva lonceng di belakang. Kupikir, novel saja ada yang pakai teori Fisika, kenapa buku lawak tidak mungkin. He he.. Kecuali jika aku lebih jeli memperhatikan logo penerbit yang ternyata ada tambahan kata “Entrepreneurship”nya. Atau barcode belakangnya yang ada tulisan “Bisnis Manajemen”.

Buku ini ditulis oleh Seth Godin. Ia sudah menerbitkan 13 buku, blogger popular & seorang entrepreneur sukses. Buku2nya telah diterbitkan ke dalam lebih dari 35 bahasa. Ia adalah pendiri dari Squidoo.com, salah satu dari 100 situs web paling popular di AS. Godin juga kolumnis di Fast Company & Harvard Bussiness Review. Ia juga sudah pernah ribuan kali menjadi keynote speaker di berbagai perusahaan, lembaga pemerintah dan lembaga nirlaba.

Ya, jadi tentang kurva lonceng yang saya sebutkan tadi, anda tau kan? Yang bentuknya seperti bukit atau punuk unta. Itu adalah kurva distribusi normal. Apa itu normal? Normal adalah yang ada di tengah dari kurva itu. Yang paling banyak jumlahnya. Kalau ahli statistika dalam hal ini cukup serius untuk mendefinisikannya: Dalam teori probabilitas, distribusi normal (atau Gausian) adalah distribusi kontinu… Ketinggian rata2 pria dewasa di AS adalah sekitar 70 inci (175 cm), dengan standar deviasi sekitar 3 inci (7,5 cm). ini berarti bahwa kebanyakan pria (Sekitar 68%, dengan asumsi distribusi normal) memiliki ketinggian lebih atau kurang dari 3 inci dari rata2, satu standar deviasi. Jadi jika tinggi anda Antara 167,5 cm atau 182,5 cm, orang di kelas statistic akan mengatakan Anda berada dalam standar deviasi dari rata2. Di kelas Bahasa inggris, anda akan disebut normal.
Source gambar di sini

Dalam buku ini selanjutnya dijelaskan dan dipaparkan banyak contoh yang intinya mengacu pada kesimpulan bahwa: Kurva distribusi normal itu makin lebar. Atau lebih parah, ada banyak kurva dalam satu diagram. Oh ya, kalau yang normal itu adalah yang ada di tengah kurva. Nah yang ada di pinggiran itu adalah yang aneh. Jadi kalau kurvanya melebar, yang aneh itu makin banyak.

Masalahnya disini bagi para pemasar, dan produsen. Atau industry, atau pabrik yang memproduksi dan memasarkan barang secara massal. Tiba-tiba mengurangi penurunan jumlah konsumen. Pabrik sepatu, pakaian, elektronik, minuman soda bahkan penyedian jasa hotel. Disini dicontohkan banyak sekali kasus. Tapi karena kasusnya adalah barang2 produksi AS yang tidak saya mengerti, saya ambilkan contoh yang saya mengerti saja:

Kata si penulis: Teman saya Chip memiliki jaringan hotel di daerah San Fransisco. Diawali dua puluh lima tahun yang lalu, setiap hotel bersifat personal dan autentik—serta berbeda. Ketika berjalan masuk ke dalam salah satu hotel itu, Anda akan berkata, “wow, tempat ini khusus untukku”. Atau mungkin anda berkata “Apa-apaan ini?”. Detailnya pas. The Phoenix berada di lingkunhan San Fransisco yang buruk, dan bahkan bukan sebuah hotel. Melainkan motel dengan kolam renang yang dilukis tangan dan pesta sepanjang malam.

Ketika tren hotel butik berubah dan bertumbuh, beberapa pelaku bisnis hotel pasar massal (seperti Hyatt) mulai melihat-lihat dan berkata, “Baiklah, ini adalah hotel-hotel murah dengan harga relatife tinggi. Mari kita tumbangkan sebagian dan naikkan harga untuk bagian baru dari pasar massal.” Saya menuliskan ini dari meja di kamar saya di Hotel Andaz, Los Angeles, upaya Hyatt untuk menjadi aneh. Tapi hotel ini tidak aneh, setidaknya bagi saya. Masih belum pas benar.

Di kasus barang-barang produksi massal ini lebih parah. Sekarang makin banyak produsen yang bahkan mau menyediakan sepatu yang bisa didesain sendiri. Jika anda hanya punya satu kaki, Anda dapat membeli sepatu tunggal dari Nordstrom Online. Merekalah yang akan mencarikan pembeli untuk yang sebelah lagi. –Intermezo: Saya jadi ingat Budi, teman saya yang Cuma punya satu kaki. Suatu kali saya pernah bertanya, “kamu kalau beli sepatu, yang sebelahnya diapain Budi?”. Dia menjawab agak bingung,”yaa dibiarin aja mbak, kalau yang bagus tak simpen he he”

Dan kenapa ini semua terjadi? Jawabannya adalah karena seluruh penduduk dunia sekarang ini bisa terhubung, kapanpun dimanapun.
  • Memang banyak jenis orang yang menekuni hobi aneh seperti mereparasi mesin tik, sepeda klasik, koleksi kaset/VCD klasik. Tapi sebelumnya mereka sendirian. Kini mereka bisa terhubung, dua arah dan bertukar informasi tentang keanehan mereka.
  • Menjadi vegetarian atau Zoroastrian di Amerika itu aneh. Tapi tidak di India. Mendukung dan mengkampanyekan partai politik di tengah masyarakat passive itu aneh. Tapi tidak sekarang ketika Anda terhubung dengan internet.
  • Internet juga memungkinkan anda untuk mencari benda teraneh, hobi teraneh, dan apapun aneh yang lain.
Factor lain adalah kenyataan bahwa masyarakat sekarang makin kaya. Masih menurut penulis: Kaya disini bukan berarti banyak harta. Kaya adalah istilah Saya untuk seseorang yang mampu untuk membuat pilihan, yang memiliki lebih dari sumber daya yang memadai untuk bertahan hidup. Anda tidak perlu pesawat pribadi untuk menjadi kaya, tetapi anda perlu cukup waktu dan makanan dan kesehatan dan akses agar dapat berikteraksi dengan pasar untuk barang-barang dan untuk ide-ide. Seorag Swami yang saya jumpai di India adalah kaya. Bukan karena ia memiliki rumah mewah atau mobil (dia tidak memilikinya). Dia kaya karena dia bisa membuat pilihan dan dia dapat membuat dampak pada sukunya. Bukan hanya pilihan tentang apa yang akan dibeli, tetapi pilihan tentang menjalani hidup. Haaa.. Aku suka definisi ini, karena kalau begini aku masuk kriteria kaya :D

Buku ini juga berbicara dengan baik tentang pendidikan yang juga produk massa. Anak-anak disiapkan untuk menjadi SDM pekerja yang menjadi komoditi pabrik pembuat produk massa.

Yah, jadi intinya aku tertipu. Ini buku tentang entrepreneurship/marketing/manajemen bisnis. Ya, semacam itu. Tapi karena aku adalah pembaca yang tidak mudah menyerah akhirnya setelah hampir sebulan selesai juga buku ini. Dengan ketipisannya harusnya 2 hari juga selesai. Tapi kenyataan bahwa dengan ketipisannya ini pada akhirnya aku tidak bisa berhenti untuk menulis reviewnya itu aneh. Aku jadi pengen semacam menulis ulang buku ini versi Indonesia supaya lebih bisa dipahami orang banyak. Kemudian menyebarkannya.
Terus terang di Review ini banyak alur dan kerangka pikir penulis yang aku bolak-balik. Mengikuti apa yang aku pahami setelah membaca buku ini. Karena seperti biasanya buku terjemahan, buku ini susah sekali dibaca. Aku bahkan tanpa sadar membaca ulang halaman 15 misalnya, padahal seharusnya aku sudah sampai halaman 24. Karena aku lupa sudah membaca halaman itu sebelumnya. Padahal fakta buku ini valuable banget. Menurutku.

Nih ya, aku bekerja di lembaga nirlaba. Tepatnya zakat. Aku cukup tau kalau lembaga ini, juga mungkin lembaga lain yang bergerak di bidang yang sama sedang mati2an mengejar target. Macam2 strategi dilancarkan. Di sisi lain—IMHO—menurut SWOT, di bagian treat itu, bayak sekali list ancaman dari luar. Dalam hal ini pesaing. Yang dalam hal ini juga pesaingnya aneh-aneh. #SR (Sedekah Rombongan) misalnya, komunitas SeBung (Sego Bungkus), Makelar Sedekah, mereka ini ngePOP baget gila! Dan cuman lewat Twitter! Catet! Lewat Twitter! Belum lagi kasus2 dadakan kayak: Koin untuk Prita, Tasripin dll. Mereka ini nggak cetak baliho, spanduk, banner. Nggak nerbitin majalah bulanan, laporan tahunanan dll. Nggak punya banyak karyawan yang harus digaji. Tapi apakah mereka pesaing yang tidak patut untuk diperhitungkan? He he.. nggak taulah, cuman arah trend jaman sekarang memang aneh. Oh ya, ini terlepas sama yang namany Fastabiqul Khoirot lhoo yaa.. 

Intermezo lagi. Mungkin saking keliatan aku berusahanya menyelesaika buku ini, teman kosku sampai berkata “Udah nggak usah dipaksaian kalau nggak suka”. Aku bersikeras “Aku tu pantang mbak baca buku nggak selesai. Sejelek apapun!”. Dan lagi (kali ini hanya dalam hati) aku ini sedang belajar mati2an untuk melihat segala sesuatu secara positive, lebih dekat serta mencoba menikmati apa yang ada. Dan memang, baru beberapa lembar baca buku ini (walaupun tersiksa), aku mulai agak optimis untuk memulai ide usaha kemasan untuk UKM atau menjual buku-buku Rekam Medik. 

Atau yang agak sedikit lebih gila, setelah diajak ngobrol tentang “Teh” sama temanku. Coffee Shop kan banyak ya? tapi kalau Tea Shop, ada nggak sih? Bikin satu kayaknya keren deh. Wakakak.. menyediakan Teh yang diseduh ala Jepang, ala orang Jawa, ala orang sunda, ala Bapakku. Yang mungkin di campur melati, bunga krisan, kayu manis, lemon, strawberi, nangka, wakakak. 

Haaah, akhirnya, satu kesimpulan absurd yang juga nggak nyambung (biar total anehnya) adalah keyakinanku bahwa, bertemu buku itu adalah jodoh. Kenapa dia sampai ada di tangan kita. Meski sepertinya itu mustahil. Jangan ketawa! karena aku benar2 pernah mengalami hal yang lebih magis. Dari aku yang salah duga tentang buku ini. Tentang sampul, judulnya dan isinya yang nggak sinkron. Sebel? Pasti. Tapi pada akhirnya ini sudah jadi milikku. Keputusan untuk menikmati atau merutukinya ada di tanganku. Keputusan untuk aku baca habis atau tidak juga ditanganku. Pada akhirnya setelah diupayakan, aku benar-benar mendapatkan ilmu yang keren.

Everything happen with a reason right? Jadi, kenapa aku sampai membeli buku ini juga pasti ada maksudnya. Emang udah jodoh. Jodoh pasti bertemu. Ha ha.. 

Oh ya, satu lagi. Disini penulisnya ngasih tau, kalau yang disampul buku itu namanya Jeremy. Salah seorang peserta kompetisi janggut dan kumis sedunia. Dia bangga menjadi aneh, dan cukup kaya untuk memilih passionnya. –beeh, dia nggak tau aja, di Indonesia banyak yang begini :D



Minggu, 22 Desember 2013

Kesan Natural di Film 99 Cahaya di Langit Eropa

Gambar dari sini
99 Cahaya di Langit Eropa. Judul film ini pasti tidak asing terdengar di telinga pecinta buku. Ya, ini adalah versi film dari buku berjudul sama: 99 Cahaya di Langit Eropa. Saya sendiri belum sempat membaca buku ini. Namun justru karena itu, disini saya akan benar-benar hanya menulis tentang filmnya tanpa membandingkannya dengan bukunya—suatu hal yang pasti terjadi dari film yang diangkat dari buku adalah pembandingan.

Film ini berkisah tentang pengalaman Hanum Rais (Acha Septriasa) di Wina Austria, dalam rangka menemani suaminya Rangga Almahendra (Abimana) menyelesaikan studi. Disana ia mengalami kebosanan karena tidak mempunyai kegiatan. Ia habiskan waktunya dengan jalan-jalan dan mencari pekerjaan. Namun karena Bahasa Jermannya yang kurang baik, hal itu agak susah. Hingga pada suatu hari ia membaca leaflet tempat kursus Bahasa Jerman. Ia benar-benar mengikutinya. Dan disanalah ia bertemu dengan Fatma (Raline Shah). Perempuan muslim asal Turki yang juga tinggal di Wina. Dari perkenalannya ia kemudian mengenal Aisye (Gecchae), anak Fatma yang periang dan menginspirasi orang-orang di sekelilingnya. Kisah selanjutnya adalah tentang Hanum yang banyak belajar tentang Islam pada Fatma dan Aisye. Bukan mengenai tata cara, karena Hanum sendiri sesungguhnya termasuk muslim cukup taat. Tapi lebih kepada bagaimana menjadi muslim seharusnya di tengah-tengah masyarakat. Mungkin itu tidak akan terlalu penting jika kita berada sebagai anggota mayoritas. Tapi di negeri orang, dimana muslim adalah minoritas, justru identitas muslim harus dijaga. Muslim yang sejatinya penuh dengan kasih sayang, penebar kebaikan, kedamaian dan toleransi . Bagaimana menjadi agen muslim yang baik. 

Tidak hanya perjalanan Hanum yang menjadi fokus cerita di film ini. Perjalanan suaminya, Rangga Almahendra (Abimana) yang sedang kuliah di sebuah universitas di Wina juga diceritakan dengan apik. Masih tentang bagaimana seorang muslim yang minoritas menyesuaikan diri dengan lingkungan yang mayoritas bukan muslim. Bagaimana ia bersama temannya yang sepertinya digambarkan sebagai muslim Asia Selatan/Tengah yaitu Khan (Alex Abbad) melaksanakan sholat di sudut ruangan kampus dan akhirnya harus pindah karena ditegur temannya Maarja (Marissa Nassution). Mereka diberitahu bahwa sudah disediakan tempat khusus untuk ibadah, yang setelah di lihat ternyata bercampur dengan tempat ibadah agama lain yang minoritas seperti Ko ngu chu, Budha dll. Berbeda dengan temannya yang tempramen dan frontal, Rangga adalah sosok yang lebih nrimo. Rangga juga mempunyai sahabat lain yang sering bertanya bahkan protes tentang agama Rangga (Islam) yaitu Stefan (Nino Fernandez)

Latar film ini tidak hanya ada di Wina-Austria. Dikarenakan proposal riset Rangga yang bagus menurut Prof. Reinhart (dosennya) ia diberi kesempatan untuk mempresantasikannya di Paris-Perancis. Hanum berkesempatan ikut dengan suaminya. Berkat bantuan dari Fatma, ia bertemu dengan Marion (Dewi Sandra). Sejarawan muslim yang juga teman Fatma. Disini pemahaman Hanum mengenai jejak-jejak peninggalan Islam di Eropa makin jauh dan memebekaskan kekaguman.

Kesan yang langsung terasa dari film ini adalah kesan alamiah, natural. Seperti bukan film melainkan kisah perjalanan yang direkam sendiri. Ya, semuanya begitu natural. Ceritanya, pemainnya, alurnya, plotnya bahkan dramanya. Mulai dari narasi tokoh utama pembuat cerita (:Hanum Rais) di awal film yang begitu personal. Perpindahan Bahasa baik dari Inggris atau Jerman ke Indonesia dalam percakapan yang begitu halus. Kemudian diperkuat dengan para pemainnya yang juga bermain sangat natural. Saya dan teman-teman saya terus terang selalu suka adegan dimana Hanum bercakap-cakap dengan suaminya Rangga Almahendra. Cara mereka bercanda, gimmicknya, pilihan katanya, semuanya natural. Seperti sedang tidak main film. 

Seperti saat pertama Hanum menceritakan kisah pertemuannya dengan Fatma kepada suaminya dan suaminya malah berkata bahwa istrinya itu akan terlihat cantik memakai jilbab, Hanum berdiri dan bergumam “kamu ah nggak nyambung” dengan reaksi yang natural. Comtoh lain adalah percakapan antara Rangga dan salah satu temannya atau keduanya yang seringkali bertema tentang agama selalu terdengar begitu renyah dan menggelitik penuh dengan anekdot. Ini juga menambah kesan natural dari keseluruhan film. Juga saat pertama kali Hanum dan suaminya bertemu dengan Marion yang ternyata berhijab. Cara memandang suaminya yang kemudian diprotes oleh Hanum membuat penonton ikut geli melihatnya. Seperti melihat teman kita sedang bercanda dihadapan kita.

Bukan hanya Acha dan Abimana, pemain-pemain lain tak kalah bagus tentunya. Gacchea sangat bagus dan natural dalam memerankan Aisye. Dewi Sandra, Nino Fernandes, dan Marissa Nasution yang sangat Eropa. Raline Shah dan Alex Abbad yang islami. Bahkan tetangga yang memprotes bau ikan asin dan suara TV yang terlalu keras itu juga bagus. Kalau ada satu karakter dan plot yang terkesan agak dipaksakan itu justru saat Hanum bertemu dengan Fatin yang sedang Syuting video clip. Walaupun terlihat juga usaha sutradaranya untuk membuatnya senatural mungkin.

Latar dan cerita di film ini tidak hanya memanjakan mata penonton dengan pemandangan tentang Eropa yang luarbiasa, tapi juga membuka wawasan penonton mengenai sejarah dunia dan sejarah Islam. Cukup provokatif dan membuat ingin merasakan dan melihat sendiri apa yang dipaparkan di film tersebut.

Jadi, salute buat para pemainnya, penyusun skenario, dan terutama sutradaranya: Guntur Soeharjanto yang meramu semuanya begitu apik, yang terus terang baru saya ketahui debutnya di film ini. Trimakasih.

Minggu, 24 November 2013

Buku yang susah dibaca :(

Gambar dari sini
Judul: JEJAK KAFILAH - Pengaruh Radikalisme TImur Tengah di Indonesia
Penulis: Anthony Bubalo dan Greg Fealy
Penerbit: Mizan
Jumlah halaman: 202
Perolehan: Beli sendiri :)

Haaa.. ini buku sudah kubeli dan langsung mulai kubaca dari… dari kapan ya? Dari 6 sampai 8 bulan yang lalu mungkin. Tapi tak habis-habis. Aku bukan tipe orang yang bosan karena tema. Tapi karena gaya tulis. Buku ini entah kenapa kurasa diterjemahkan dengan cara yang kaku. Atau memang naskah aslinya begitu. Atau otakku yang nggak nyampe. Satu rangkaian kalimat itu bisa dipenuhi istilah yang rumit dan independen. Tapi baiklah karena tema buku ini adalah tema yang kusuka, mari kita coba kaji lagi. Dan aku memilih untuk mencoba menelusuri kerangka pikir penulis.

Latar belakang buku ini bisa dilihat dari Sub Judulnya yang bahkan tertera di halaman sampul: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia. Kalau kita mau mengikuti tahapan penulisan karya ilmiah maka kita harus menjabarkan judul tersebut dalam pengertian-pengertian. Jejak Khafilah itu lebih ke judul komersil, jadi tak usah dibahas. Judul yang eye catching. Maka kita langsung ke Sub Judul saja.

Pengaruh: adalah hubungan 2 variabel dimana varibel bebas mempengaruhi variable terikat.
Radikalisme: berasal dari kata radic (=akar) dan Isme (=paham). Jika digabung menjadi suatu paham yang mempertahankan akar sebuah keyakinan. Dalam hal buku ini yang dimaksud radikalisme adalah salah satu aliran gerakan islam garis keras. Mudahnya Islam Radikal. Itu maksdunya.
Timur Tengah: Suatu kawasan yang terkadang disamakan dengan “Arab”. Ini adalah sebutan orang Eropa kepada dunia yang ada di Timur wilayahnya tapi tidak terlalu timur. Seperti orange asia menyebut Eropa dan Amerika sebagai “Barat”.
Indonesia: Negara kita.

Jadi kurang lebih penulis ingin mendeskripsikan sejauh mana pengaruh radikalisme itu mempengaruhi Indonesia. Kalau dilihat dari sini, berarti pertanyaan yang sebelumnya seharunya muncul yaitu: apakah ada pengaruh radikalisme Timur Tengah di Indonesia? Sudah terjawab. Jawabannya: Iya, positive ada pengaruh. Maka dari itu buku ini lebih kepada menjawab pertanyaan: Sejauh mana pengaruh radikalisme Timur Tengah di Indonesia dan Apa saja Pengaruhnya, Apa saja implikasi, Bagaimana menanganinya. Ya, kira2 begitu.
Latar belakang, tujuan dan batasan masalah yang asli tertulis di Bab Pendahuluan. Kurang lebih begini skemanya:

Jejak Kafilah: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia

Pendahuluan:
  1. Benturan Ideologi
Islam adalah ideology. Bersaing dengan ideology dunia lainnya yaitu: Komunis dan Kapitalis. Islam pernah bertemu dengan komunis di Perang Afghan. Komunis pernah bertemu Kapitalis di perang dunia I dan II. Islam bertemu dengan Kapitalis adalah saat ini.
  1. Islamisme, Timur Tengah, dan Indonesia
Islamisme itu ideology islam. Atau golongan orang yang menjadikan islam sebagai ideology karena ada juga yang tidak.
Timur Tengah: Episentrum ideology islam/islamisme
Indonesia: ya, kenapa Indonesia? Karena Indonesia adalah contoh par excellence masyarakat muslim yang awalnya cenderung lembut namun kemudian mengalami radikalisasi.

Tujuan dari penulisan ini:
  1. Kontribusi intelektual untuk memperkaya perdebatan lebih luas tentang peran yang dimainkan kelompok islamis di kancah politik Indonesia kontemporer.
  2. Menguji dampak gagasan-gagasan islamisme dari Timur Tengah di Indonesia
  3. Kontribusi untuk emmahami secara lebih luas evaluasi islamisme di Timur Tengah maupun di Indonesia
  4. Menguraikan beberapa aliran Islamisme Kontemporer dan religiositas islam yang berbeda-beda dan menjawab pertanyaan menyangkut hubungan islamisme dan demokrasi
  5. Memberikan masukan bagi para penentu kebijakan dalam menanggapi fenomena isamlamis di hampir semua dimensi dari penyebaran ide-ide yang mendasari terorisme hingga peran partai-partai islamis dalam proses demokratisasi
Kurasa sudah jelas arahnya ketika melihat pendahuluan ini. Maka selanjutnya isi dari buku ini dibagi menjadi 4 bab. Dan ditutup dengan kesimpulan dan saran-saran.

Isi dari buku ini setidaknya merangkum hal-hal sbb:

Bab I: Kebangkitan, radikalisme, dan Jihad
Isinya tentang berbagai gerakan atau aliran atau organisasi atau manhaj islam di timur tengah. Siapa tokoh-tokohnya dan bagaimana ia awalnya muncul, pola gerakan, visi umum gerakan dan penyebarannya. Tapi yang dipaparkan disini adalah gerakan Arus Utama atau yang dominan. Antara lain: Wahabi, Salafiyah, Ikhwanul Muslimin. Yang dari islamisme arus utama ini kemudian memunculkan gerakan-gerakan lain lagi entah dengan mengambil sepeduhnya nilai-nilai gerakan tersebut, mengelaborasi kedua atau ketiga gerakan tersebut atau menambahkan sedikit versi yang dikembangkan. Kemudian timbul salafi tradisional yang lebih mengurusi hal-hal tentang kesalehan pribadi, salafi kontemporer yang kemudian lebih “berjuang” dengan cara-cara radikal atau teroristik, Hizbut Tahrir yang visi besarnya adalah pendirian khilafah, Al-Qaeda, IM versi Sayyid Qutb dan juga radikal Syi’ah yang dimotori Ayatullah Khomeini. Kemudian penulis mencoba mengerucutkan mana yang radikal dan yang biasa saja. Ia melihat radikalisme utamanya dipengaruhi oleh Sayyid Qutb. Kemudian gerakan radikal ini mendapatkan wadah perjuangannya terutama saat Perang Afghanistan melawan Uni Soviet. Inilah awal mula munculnya Al-Qaeda dan kelompok jihadis lain. Selain juga apa yang kemudian terjadi di Palestine sebagai perlawanan kepada Israel.

Bab II: Politik Kegagalan
Ini adalah gambaran bagaimana gerakan-gerakan tersebut bergerak di negaranya masing-masing. Keberhasilan dan lebih banyak lagi kegagalan mereka. Dalam hal ini bahkan untuk menegakkan visinya di negaranya sendiri. Perjuangan melawan pemerintahan yang bersifat represif bahkan penghapusan gerakan tersebut oleh rezim yang berkuasa. Kemudian bagaimana gerakan-gerakan tersebut pada akhirnya meninjau ulang pola gerakan mereka. Antara lain kearah penyesuaian ide-ide Negara seperti demokrasi dalam nilai-nilai islam, penyelenggaraan Negara dan lain-lain. Namun ada pula yang kemudian mengganti pola perjuangan bukan untuk melawan pemerintah negaranya sendiri melainkan melawan Barat dalam hal ini lebih khusus pada Amerika. Lagi-lagi mengerucut pada geraka Al-Qaeda dan salafisme-jihadis. Yang menjadi bukti nyata adalah peristiwa 11 September di Amerika.

Bab III: Dari Timur Tengah ke Indonesia
Di bab ini, dipaparkan vector-vektor yang menyebabkan islamisme masuk ke Indonesia dan gerakan apa saja yang diimpor ke Indonesia. Transmisi islam ke Indonesia utamanya melalui antara lain:
  • Geraka-gerakan social
Yaitu hubungan yang secara alamiah timbul dari aktivitas social. Mulai dari perdagangan, belajar ke negara2 di timur tengah, bantuan-bantuan Negara-negara Timur Tengah kepada Indonesia melalui pemerintahan atau nonpemerintah (LSM), juga pengiriman mujahid2 dari Indonesia saat perang Afghan.
  • Pendidikan dan Dakwah
Bisa dari pelajar Indonesia yang belajar di Timur Tengah atau pendirian lembaga pendidikan oleh Timur Tengah di Indonesia, atau dosen-dosen Timur Tengah yang mengajar di Indonesia. Untuk yang pertama contohnya seperti Al-Azhar. Banyak pelajar Indonesia yang melanjutkan studi ke Universitas di Mesir itu. Untuk yang kedua contohnya seperti LIPIA. Untuk saluran ini, ide-ide yang tertransmisi adalah salafi-wahabi dan Ikhwanul Muslimin (yang sayangnya justru tidak diduga)
  • Publikasi dan Internet
Akses terhadap informasi yang makin mudah memungkinkan apa yang disebut dalam buku ini sebagai “umat virtual”. Dimana siapapun bisa mengakses informasi mengenai ide-ide gerakan tersebut dan kemudia menyebarluaskannya.

Bab IV: Setiap Benih yang Kau Tanam di Indonesia Pastilah Tumbuh
Bab ini membahas gerakan apa yang tumbuh subut di Indonesia. Yaitu antara lain:
  1. Ikhwanul Muslimin
Muncul sejak penghujung tahun 1970-an dan awal 1980-an. Lebih dikenal sebagai gerakan Tarbiyah. Di kampus gerakan ini mendapat respon massif. Tercatat turut serta menggulingkan pemerintahan Orde Baru melalui KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), dan mendirikan Partai Keadilan di Pemilu pertama pasca Orde Baru yang kemudian berubah menjadi PKS untuk memenuhi electoral threshold. Partai ini bertahan hingga sekarang
  1. Kelompok Salafi
Diwujudkan dalam institusi-institusi pendidikan seperti Yayasan Al-Sofwah, Yayasan Ihsa At-Turots, dan Al-Haramain Al-Khairiyah. Jumlah pengikutnya tidak terlalu banyak, tapi bukan berarti tak berpengaruh. Gerakan salafi yang tebesar dalam sejarah terakhir adalah Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jama’ah (FKAWJ) dan kekuatan paramiliternya Laskar Jihad.
  1. Kelompok Jihadi
Yang paling menonjol adalah Jama’ah Islamiyah. Dan kelompok asli local yaitu Darul Islam.

Untuk kesimpulan secara umum penulis menjelaskan bahwa islamisme baik yang ada di Timur Tengah maupun yang pada akhirnya bertransmisi di Indonesia tidaklah Monolitik. Visinya macam-macam dan mereka seringkali berseberangan. Gerakan-gerakan yang ada di Indonesia adalah gerakan yang khas Indonesia. Meski dipengaruhi dari TImur Tengah namun gerakan Indonesia mengalami "penyesuaian". Termasuk juga di dalamnya motiv-motiv lokal. Oleh karena keberagamannya harapannya para pengamat atau peneliti lebih teliti dalam memilah jenis gerakan. Perlu juga diperhatikan penamaan suatu pola gerakan yang dapat menyinggung pihak yang dimaksudkan. Saran yang lain adalah agar lebih sering menyelenggarakan diskusi-diskusi lintas agama yang melibatkan gerakan ini.


The -Must Read- Book: Dari Puncak Baghdad-Sejarah Dunia Versi Islam

Gambar dari sini
Judul: Dari Puncak Baghdad – Sejarah Dunia Versi Islam
Penulis: Tamim Anshari
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit Indonesia: Zaman
Tahun terbit Indonesia: 2012
Perolehan: Pinjem Esti. Esti pinjem “calonnya” ha ha..

Judul asli: Destiny Disrupted: A History of the World through Islamic Eyes
Penerbit Asli: Public Affairs
Tahun terbis asli: 2009

Apa ya?
Buku ini, emejing! Dan Asik!
Kalian tau kan sejarah dunia versi buku sekolahan? Tentang babilonia, yunani kuno, bizantium, konstantinopel, Roma, Zaman kegelapan Eropa, ekspedisi-ekspedisi maritime, penemuan benua Amerika, revolusi industry, munculnya Kristen protestan. Yah begitulah. Disisi lain di pelajaran agama atau di madrasah atau TPA sore hari, ustad bercerita atau memberi pelajaran tentang Tarikh Islam. Sejarah Nabi-nabi. Dan yang paling gamblang Nabi Muhammad. Nah, pernahkah anda terusik dengan pertanyaan. Waktu Nabi lahir itu Roma lagi ngapain ya? Kan Agama Kristen sudah menyebar tu dan jadi agama mayoritas disana. Trus katanya Nabi itu pernah mengirimi surat kaisar Roma ngajak masuk islam. Memang sejauh apa hubungan mereka? Bagaimana pada akhirnya konstantinopel pusat kerajaan kriten Eropa TImur jadi Turki dan jadi Negara muslim? Kenapa Timur (Dunia Islam) dan Barat (Eropa dan Amerika) itu kayak dua dunia yang berbeda? Apakah mereka tidak pernah saling bersentuhan? Lalu, pertanyaan paling penting: Sejarah Umat Islam yang kita pelajari di madrasah atau TPA yang begitu waow itu kenapa sedikit sekali dibahas di buku sejarah sekolah? Paling Cuma pas perang salib atau penakhlukan konstantinopel. Tidak lebih. 

Nah, jawabannya ada di buku ini. Maksudnya, kalau kita biasa memahami sejarah dunia di sekolah yang sumbernya banyak dari Barat. Maka ini adalah buku sejarah dunia tapi dari kacamata Dunia Islam.
Baiklah, pengantarku itu kurang menarik dan meyakinkan sepertinya. Maka saya kutipkan saja pengantar penulis aslinya yang ada di buku ini (yang dalam kasusku, membaca pengantarnya saja saya sudah tau kalau buku ini asik):

Sejarah dunia selalu merupakan cerita tentang bagaimana “kita” sampai di sini sekarang, sehinggan bentuk narasi secara mendasar bergantung pada siapa yang kita maksud dengan “kami” dan apa yang kita maksud dengan “di sini dan sekarang”. Sejarah dunia Barat tradisional mengandaikan bahwa di sini dan sekarang adalah peradaban industrial (dan pascaindustrial) demokratis. Di Amerika Serikat anggapan lebih lanjut menyatakan bahwa sejarah dunia mengarah pada kelahiran cita-cita pendirinya tentang kebebasan dan kesetaraan serta akibatnya pada kebangkitan sebagai sebuah adidaya yang memimpin planet menuju ke masa depan. Premis ini menetapkan arah bagi sejarah dan menempatkan titik akhir di suatu tempat di ujung jalan yang sedang kita tempuh sekarang. Itu membuat kita rentan terhadap dugaan bahwa semua orang sedang bergerak dalam arah yang sama, meskipun sebagiannya belum begitu jauh melangkah –entah karena mereka mulai terlambat, atau karena mereka bergerak lebih lambat—yang karena itulah kita menyebut Negara-negara mereka “Negara berkembang” (haa.. haaaa asik kan?)
Ketika masa depan ideal yang dibayangkan oleh masyarakat pascaindustrial demokratis Barat yang diambil sebagai titik akhir sejarah, bentuk narasi yang menuju ke di-sini-dan-sekarang mencakup tahapan-tahapan sebagai berikut:
  1. Kelahiran peradaban (Mesir dan Mesopotamia)
  2. Zaman klasik (Yunani dan Roma)
  3. Zaman kegelapan (kebangkitan Kristen)
  4. Kelahiran kembali: Renaisans dan Reformasi
  5. Pencerahan (penjelajahan dan ilmu pengetahuan)
  6. Revolusi (Demokrasi, Industri dan Teknologi)
  7. Bangkitnya Negara-Bangsa: Perjuangan demi Kerajaan
  8. Perang Dunia I dan II
  9. Perang Dingin
  10. Kemenangan Kapitalisme Demokratik
Tapi bagaimana kalau kita melihat sejarah dunia versi Islam? Apakah kita cenderung menganggap diri kita sebagai versi kerdil Barat, berkembang menuju titik akhir yang sama, tetapi secara kurang efektif? Saya kira tidak. Salah satu alasannya, kita melihat batas berbeda yang membagi tentang waktu menjadi “sebelum” dan “sesudah”: tahun nol bagi kita adalah tahun Nabi Muhammad bermigrasi dari Makkah ke Madinah, Hijrahnya, yang melahirkan masyarakat muslim. Bagi kami, komunitas ini mewujudkan arti dari “beradab”, dan menyempurnakan cita-cita ini akan terlihat seperti dorongan yang telah memberi bentuk dan arah sejarah.
Tetapi pada beberapa abad terakhir, kita akan merasa ada sesuatu yang kacau dengan arus itu. Kita akan tahu masyarakat itu telah berhenti berkembang, telah semakin bingung, mendapati dirinya dirasuki oleh arus berlawanan yang bergejolak, arah sejarah yang bersaing. Sebagai ahli waris tradisi muslim, kita akan dipaksa untuk mencari makna sejarah dalam kekalahan, bukan kemenagan. Kita akan merasakan konflik antara dua dorongan: mengubah pemahaman kita mengenai “beradab” agar sejajar dengan arus sejarah atau melawan arus sejarah untuk menyelaraskannya dengan pemahaman kita mengenai “beradab”.
Jika masa kini yang terhambat sebagaimana dialami masyarakat Islam itu yang akan diambil sebagai di-sini-dan-sekarang yang harus dijelaskan oleh narasi sejarah dunia, maka ceritanya barangkali akan terbagi ke dalam tahapan-tahapan sebagai berikut:
  1. Zaman Kuno: Mesopotamia dan Persia
  2. Kelahiran Islam
  3. Kekahlifahan: Pencarian Persatuan Universal
  4. Perpecahan: Zaman Kesultanan
  5. Bencana: Tentara Salib dan Mongol
  6. Kelahiran kembali: Era Tiga Kekaisaran
  7. Perembesan Timur oleh Barat
  8. Kemenangan Modernis Sekuler
  9. Reaksi Islamis
Nah, gitu. Kebayang ya, asiknya buku ini? Yang menjadi kabar bahagianya lagi si penulis itu mengibaratkan ia mengisahkan sejarah ini seperti misalnya kita bertemu dengannya di warung kopi kemudian bertanya “Apa sih sejarah dunia pararel itu?”. Begitu! Jadi tidak ada penanggalan yang rumit disini. Juga penyebutan garis keturunan suatu tokoh dalam sejarah Islam.
Maka, buku ini terdiri dari beberapa Bab sebagai berikut:
  1. Dunia Tengah
  2. Hijrah
  3. Kelahiran Kekhalifahan
  4. Perpecahan
  5. Kerajaan Bani Ummayah
  6. Zaman Abasiyyah
  7. Ulama, Filsuf, dan Sufi
  8. Masuklah orang Turki
  9. Malapetaka
  10. Kelahiran Kembali
  11. Sementara itu di Eropa
  12. Barat mendatangi Timur
  13. Gerakan Reformasi
  14. Industri, Konstitusi, dan Nasionalisme
  15. Munculnya Sekuler Modernis
  16. Krisis Modernitas
  17. Arus Balik
Buku ini layaknya novel yang kita tidak akan bisa berhenti membacanya sebelum selesai. Juga tidak akan membolak-balik halaman sebelumnya karena lupa rentetan ceritanya. Kita juga akan mempunyai gambaran yang cukup gamblang tentang pertanyaan “Kenapa?” yang sering menggelayut ketika melihat fenomena tentang Islam saat ini, tentang kapitalisme, tentang system ekonomi yang berkuasa, tentang demokrasi, tentang konflik antar Negara, tentang kekuasaan adidaya dll yang mungkin perlu belajar sejarah sampai S3 jika kita tidak bertemu dengan buku ini.

Jika ada kekurangan dalam buku ini adalah perasaan seperti.. “tabu” ketika sang penulis menggambarkan tentang islam. Seperti ini contohnya:
"Di antara banyak kuil di Makkah ada bangunan berbentuk kubus dengan sebuah batu yang dimuliakan di pojoknya, sebuah batu hitap mengkilap yang jatuh dari langit pada zaman dahulu kala –sebuah meteor, mungkin. Kuil itu disebut Ka’bah, dan dongen suku-suku mengatakan bahwa Ibrahim sendirilah yang membangungunnya, dengan bantuan putranya Ismail. Dst…"

Bagi kita yang biasa membaca sejarah Islam dari kitab-kitab tarikh atau Siroh, membaca ini rasanya pengen marah-marah karena penggunaan bahasanya. Tapi kemudian pikirkanlah bahwa buku ini terbit dan diedarkan di Amerika. Maka kita akan sedikit maklum. Terlepas itu, mungkin sang penulis dianggap sebagai orientalis yang oriental he he..

Nah, membaca buku ini atau resensi saya, mungkin timbul pertanyaan: “Memang penulisnya tu siapa sih?”. Maka, berikut saya kutipkan profil penulis yang ada di halaman belakang buku ini:

Tamim Anshari adalah sejarawan dunia, penulis memoir West of Kabul, East of New York. Dan penulis pendamping korban ranjau darat Afganistan Farah Ahmadi buku terlaris New York Times, The Other Side of the Sky. Dia telah memberikan kontribusi besar pada beberapa buku pelajaran sejarah sekolah menengah di Negara-negara Barat. Dia menulis kolom bulanan untuk Encarta.com dan telah menerbitkan esai dan komentar di San Fransisco Chronicle, Salon, Alternet, TomPaine.com, Edutopia, Parade, L.A. Times, dan di tempat lain. Direktur San Fransisco Writers Workshop ini sekarang tinggal di San Fransisco.

Dari pendahuluannya juga diketahui bahwa dia dibesarkan di Afghanistan muslim. Katanya lebih lanjut: 

Bukan saja saya dibesarkan di sebuah Negara Islam, tapi saya juga dilahirkan dalam sebuah keluarga yang pernah memiliki status social yang tinggi di Afghanistan berdasarkan sepenuhnya reputasi keshalehan dan pembelajaran agama kami. Nama belakang kami mengindikasikan bahwa kami adalah keturunan Ansar “penolong”, orang-orang Madinah pertama yang menganur Islam dan membantu Nabi Muhammad melarikan diri dari pembunuhan di Makkah dan dengan demikian memastikan kelangsungan hidup misinya.

Yang paling terakhir, kakek dari buyut saya adalah seorang mistikus muslim local terhormat yang makamnya menjadi tempat suci bagi ratusan pengikutnya sampai hari ini, dan warisannya berlanjut hingga ke masa hidup Ayah saya, menanamkan dalam marga kami rasa kewajiban untuk mengetahui hal-hal ini dengan lebih baik daripada rata-rata orang. Saya terbiasa mendengar anekdot muslim, komentar, dan spekulasi di lingkungan saya dan sebagiannya meresap dalam, meskipun temperamen saya sendiri entah bagaimana perpaling secara tegas kea rah sekuler. Setelah saya pindah ke Amerika serikat, saya lebih tertarik dengan Islam daripada yang pernah saya alami selama hidup di dunia muslim. Minat saya bertambah ketika adik saya memeluk islam “fundamentalis”. Saya mulai menyelidiki filsafat islam blab la bla..

Jadi buku ini is very very recomemded!

Senin, 18 November 2013

TKVDW: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Gambar dari sini

Judul: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Pengarang: HAMKA
Penerbit: Bulan Bintang
Tahun terbit: 2005 di cetakan ke 29
Jumlah halaman: 236 (21 cm)
Perolehan: Pinjem Esteh

Ini novel sastra jadul. Orang kadang menyebutnya Roman. Harusnya, aku sudah baca buku ini dari dulu. Tapi nyatanya memang baru ketemu sekarang. Aku tidak tau apakah karangan fiksi pada saat itu menggunakan bahasa seperti di buku ini atau tidak. Aku tidak tau, sebuah novel disebuat dimasukkan ke golongan buku sastra itu yang seperti apa. Atau roman. Aku tidak tau. Tapi memang tata bahasa yang dipakai di novel ini berbeda. Novel dari pengarang angkatan lama yang pernah say abaca selain ini adalah: Para Priyayi, Umar Kayam dan Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer. Keduanya bahasanya tidak seperti ini. Apa karena latar dan setting novel yang ada di ranah melayu minangkabau. Atau apakah ini memang gaya bahasa HAMKA? Aku tidak tau, karena baru satu inilah karya HAMKA yang pernah saya baca. Tapi intinya, gaya bahasa novel ini beda.

Kalau tentang muatan cerita, yaaa kisah cinta. Harusnya, dengan kisah seperti ini dan dengan masa terbit kisah ini pertama kali yakni tahun 1908, kisah ini bisa jadi roman cinta fenomenal. Romeo n Julietnya Indonesia. Atau Layla Majnunnya Indonesia. 

Mungkin, novel ini akan punya kekuatan seperti Romeo n Juliet atau Layla Majnun atau ohya! Sampek Ingtay jika judul novel ini adalah Zainudin Hayati.
*mbayangin buya HAMKA baca tulisan ini terus nyariin aku buat mentung kepalaku dan bilang: “Anak muda, kau tau apa?” haaaa. Tapi asli. Mendengar judulnya untuk pertama kalinya ditambah pengetahuan akan pengarangnya yang berasal dari tahun sebelum kemerdekaan, terpikirnya ini adalah buku yang bercerita tentang perjoeangan melawan pendjadjahan. Yang mungkin ada kisah tjintanya. Tapi tema besarnya adalah itu. Bukan soal budaya dan ras.  

Pesannya sampai kurasa. Di zaman itu, terbit tulisan seperti ini pastilah sangat cetar. Menggerakkan pemikiran. Menimbulkan kritik social. Menyadarkan beberapa orang akan ketimpangan karena adat budaya. Sangat pantas jika karya ini tak lekang. Karena bahkan hingga detik ini sekalipun isu ini masih sangat bisa dibahas dan diulas.

Ya. jadi buku ini isinya totally kisah cinta boiiii. Kisah cinta tak sampai. Karena adat yang kolot. Zainuddin, anak orang terbuang. Bapaknya minang yang matrilineal dan ibunya bugis yang patrilineal seperti kebanyakan penduduk dunia. Maka, ketika kedua orangtuanya meninggal. Dia bukan orang bugis dan bukan orang minang. Tak ada garis adatnya. Menjejakkan kaki di minang, tanah impiannya sejak kecil berkat dodoaian Ayahnya, ia harus menanggung kecewa karena kenyataan tersebut diatas. Beruntung ia orang yang berbudi baik. Jadi ia cukup disenangi oleh masyarakat minang walau tak sampai menganggap saudara. Hidup tak bersanak keluarga disana ia kesepian. Bertemulah ia dengan Hayati. Gadis minang kembang desanya. Bertemu kali pertama di pondok milik oranglain saat berteduh dari hujan. Terbitlah cinta itu. Cinta yang bagi zainuddin bak gelandangan menemukan sandaran dan bagi hayati cinta yang penuh empati belas kasihan.
Namun mereka tak bisa bersatu karena adat. Karena zainuddin tak berbako. Sebab bimbang pula hati hayati karena pemahaman dari teman-teman dan mamaknya tentang hal itu. Maka hayati lebih memilih orang lain yang lebih aman.

Kesedihan tak terperi melanda zainuddin. Tak lama berselang dari orang tua angkatnya yang juga meninggal ia harus menerima kenyataan ditinggalkan oleh hayati. Satu-satunya sandaran hidupnya. Tapi Allah masih berbaik hati. Menguatkan raganya. Juga jiwanya melalui orang-orang yang masih peduli dengannya.
Singkat cerita merantaulah ia ketanah jawa. Berbekal bakatnya dalam menulis dan pendidikan yang pernah ia tempuh di minang, ia menjadi penulis ternama. Dari Jakarta pindah ke Surabaya, nasib baik masih menaunginya. Di Surabaya juga akhirnya ia bertemu lagi dengan Hayati dan suaminya. Oleh karena beberapa sebab yang timbul lagi dari masa lalu, pernikah hayati dan aziz berakhir perceraian. Hayati diserahkan oleh aziz kepada zainuddin. Yang diserahi menolak. Dendam di hatinya terlalu besar. Hayati dipulangkannya ke minang naik kapal Van Der Wijck dari pelabuhan SOerabadja. Dalam pada itu, tenggelamlah kapalnya.
Di akhir cerita, hayati masih sempat bertemu zainuddin yang memag mencarinya setelah tau kabar itu. Mereka kembali. Zainuddin kembali menerima hayati, begitupun sebaliknya. Namun, taka da penyatuan raga. Hayati meninggal setelah dituntun membaca syahadat oleh zainuddin.
Haaa aku ketularan gaya bahasanya.

Ada kutipan yang aku senangi di dalam surat-surat zainuddin pada hayati:
"Bagaimanakah maka hati saya berkata begitu? Itu pun saya tak tau. Lantaran tak tahu sebabnya itu, timbul kepercayaan kepada kuasa gaib yang lebih dari kuasa manusia, kuasa gaib itulah yang menitahkan…"
Yah demikianlah kisah cinta ini berakhir. Sejak dulu beginilah cinta. He heee…

Oya, seorang teman yang asli Lamongan suatu kali bercerita kalau novel ini akan di filmkan. Dan dalam rangka membuat film itu, sang sutradara mencari sumber kebenaran cerita dari penduduk setempat. Kakek temanku itu adalah salah satu sumber yang dapat dimintai keterangan. Melalui anaknya (Ayah temanku) didapatkan cerita bahwa orangtuanya dulu ikut membantu mengevakuasi korban saat Kapal ini tenggelam di suatu malam menjelang subuh. Dan atas bantuannya itu kakek temanku itu mendapat hadiah perahu dari Belanda.

Kita tunggu saja ya filmnya.. semoga sebagus novelnya :)