Senin, 18 November 2013

Tutorial. Cara membuat “BaKuSe”: Bakso Kuah Sederhana


Jeng jeng,, haaa jinja! I miss this blog sooo much. I miss to share some absurd things for you all. Mwe he he… Nah, kali ini saya akan berbagi cara membuat bakso yang very very simply. 

Jadi kalo kamu di suatu senja yang gerimis laper dan pengen makan bakso. Tapi dalam waktu itu juga malas tingkat dewa mau keluwar. Mau makan mi instan kok ya udah bosen. Cobalah buat menu sederhana ini.

Syaratnya, sebelum tiba waktunya males itu, kamu udah punya stok beberapa bahan di bawah ini:
  1. Mie instan/ Mie kuning biasa boleh
  2. Bakso
  3. Sawi Hijau/Kol/Sawi Putih atau berbagai macam sayuran hijau yang saat itu kamu temui di kulkas kepepetnya juga boleh deh..
  4. Seledri (Kalau ada)
  5. Bawang putih
  6. Bawang merah
  7. Merica bubuk (yang masih bulet berarti gimana caranya dibikin bubuk)
  8. Garam
  9. Gula
Then,, ikuti langkah-langkah memasak yang nggak sampe 10 menit ini:
  1. Rebus air kira-kira 500ml










  2. Kalau kamu punya panci satu lagi dan kompornya dua tungku, berarti rebus air juga di tungku satunya. Yang ini airnya terserah. Mau segentong juga boleh kalau pancinya muat. Atau, kamu nggak punya panci? Emm pake wajan juga boleh.
  3. Sambil nunggu air rebusannya menguap, kupas bawang merah dan bawang putih. Bersihkan sayur dan seledri dan cucilah mereka semua.
  4. Jika rebusan air yang 500ml sudah menguap, masukkan bakso kedalamnya.










  5. Bawang putih di keprek (dipukul pakai pisau yang posisinya ditidurkan) kemudian cincang halus. 










    Masukkan kedalam rebusan bakso. Masukkan juga merica bubuk, garam secukupnya dan gula sedikiiiiit aja.
    Merica buatan Rudi Chairudin he he











  6. Dalam perhitungan waktu seperti diatas, kalau anda memakai 2 panci tadi maka panci satunya juga pasti sudah mendidih. Jika iya, masukkan mie kuning atau mi instan ke dalamnya.










  7. Sambil menunggu keduanya matang, irislah bawang merah.










  8. Tiriskan mie kuning atau mie instan yang direbus. Ganti dengan wajan yang diberi minyak sedikit saja.
  9. Goreng bawang merah di wajan tersebut.
  10. Cicipilah kuah bakso yang tadi sudah anda buat. Jika rasanya aneh, saatnya mengeluarkan senjata rahasi: bumbu mie instan! (ingat sedikit saja) he hee.. atau anda bisa menambah garam+gula.
  11. Terakhir, potong-potong sayur sawi dan juga seledri.










  12. Bakso siap di racik dan dihidangkaaaaaan,, tadaaaa…


    Cuku demikian resep sederhana dari saya, yang sebenernya nyontek kakak. Selamat menikmati.



Sabtu, 31 Agustus 2013

Samitha membuatku pengen ke Mojokerto

Judul: Samitha
Pengarang: Tasaro GK
Penerbit: DAR! Mizan
Tahun terbit: 2008
Tebal: Lupa
Perolehan: Beli sendiri dung.

Baca novel berlatar sejarah itu selalu menimbulkan pertanyaan: Is that real? Kan sejarahnya sungguhan ada, tapi detail cerita seperti di novel tetap fiktif kan? Ha ha rancu. Setidaknya itulah yang kurasa ketika dulu membaca novel Taj Mahal dan novel Samitha ini. Novel kedua yang kusebut tak begitu terkenal. Ya setidaknya tak seterkenal Kinanthi yang ditulis oleh penulis yang sama: Tasaro GK.

Well, novel ini bercerita tentang Hui Sing alias Samitha yang dikisahkan sebagai murid perempuan laksamana Cheng Ho. Tau dong Laksmana Cheng Ho? Bahariawan yang beberapa kali mengunjungi Nusantari. Dimasa Majapahit berkuasa. Nah si Hui Sing ini ikut dalam ekpedisi gurunya ke tanah Jawa.

Singkat cerita dalam interaksi Hui Sing dengan orang-orang baru yang ia temui di bumi Majapahit. Ia berteman dan bersahabat dengan beberapa orang, bahkan jatuh hati. Orang-orang yang berinteraksi dengannya ini jugalah yang kemudian melibatkan Samitha dalam beberapa konflik.

Persahabatan dengan Ramya, anak Ki Legowo, Lurah Simongan yang juga mantan pejabat Bhayangkari Majapahit, berakhir pada cerita Ramya yang berubah menjadi siluman. Ia begitu karena perjuangan menuntut balas atas kematian Ayahnya oleh pasukan Majapahit dan terenggutnya kehormatannya sebagai seorang perempuan oleh salah satu wali Majapahit di suatu wilayah.

Di kerajaan Majapahit, Samitha berteman dengan Dewi Anindita. Perempuan yang digambarkan sangat halus dan mempunyai budi pekerti sangat tinggi layaknya Putri Ningrat. Ia juga bertemu Sad Respati ketua pasukan Bhayangkari Majapahit. Ketiganya terlibat cinta segitiga. Sad Respati dan Samitha saling menyukai ketika mereka berkenalan. Hanya saja saat tinggal hitungan hari Sad Respati harus menikahi Dewi Anindita. Cinta Samitha dan Sad Respati tak dapat bersatu karenanya. Meski pada akhirnya setelah melalui perjalanan yang panjang dan bertubi-tubi Respati dan Samitha bersatu dalam pernikahan dan mempunya anak bernama Soma.

Oya, Samitha juga punya 2 teman seperguruan yang ditengah cerita juga berkonflik dengannya. Diceritakan diantara Juen Sui dan Sien Feng, sala satunya dicurigai mencuri kitab Kutub Beku jurus andalan Laksamana Cheng Ho. Konflik ini berakhir dengan kematian Sien Feng, yang ternyata selain mencuri kitab juga bersekongkol dengan Dewi Anindita dalam aksi pembunuhan salah satu pejabat Majapahit. Bahkan bernafsu ingin membunuh Cheng Ho, gurunya sendiri.

Samitha juga diceritakan berhubungan baik dengan gerombolan pemberontak dari Blambangan. Saat ia bekerja di Rumah Makan yang menjadi kedok gerombolan itu.

Banyak sosok-sosok lain dalam cerita ini. Pada akhirnya cerita ini sempat Happy Ending dengan kebersamaan Samitha dan Respati. Tapi kemudian ada salah paham lagi yang terjadi antara padepokan yang didirikan Respati dengan pasukan Majapahit yang menimbulkan pertumpahan darah. Sedangkan anak Samitha yang baru saja lahir dicuri oleh Dewi Anindita, mantan istri Respati yang ternyata masih menyimpan dendam. Pencurian dilakukan saat Samitha sedang membantu suaminya melawan pasukan Majapahit.

Cerita berakhir dengan Samitha yang berhasil mempermalukan Raja Majapahit dalam aksi penuntutan balas atas kematian suaminya, tanpa membunuhnya. Samitha berjanji akan menghabiskan usianya untuk mencari anaknya.

Begitulah. Pada akhirnya... agak ngambang.

Hemm, membaca novel ini membuat saya ingin mencari tau falsafah-falsafah Jawa. Meski ini cerita orang China perantauan, tapi latar belakangnya yang budaya Jawa kuno sangat bagus disampaikan oleh penulisnya. Ia memperkenalkan banyak falsafah dan budaya jawa dalam latar dan percakapan antar tokoh. Nilai historical novel ini juga sangat kental, meski, sekali lagi, jadi susah membedakan mana fakta Sejarah, mana fiksi.

Trus aku juga jadi pengen pergi ke Mojokerto, untuk melihat kerajaan Majapahit langsung :) i will.

*tulisan nggak diedit karena keburu-buru. harap maklum :D

Minggu, 09 Juni 2013

Nasi goreng magelangan dari nasi sisa



Udah masak nasi banyakan tapi nggak dimakan dengan berbagai alasan. Trus nasi tersebut menguning, mengeras, dan membuat hilang selera tapi masih toyib? Mari kita ubah jadi sesuatu yang “pengen dimakan”

Pertama,
Siap kan nasi sisa itu dan diulen-ulen pakai sendok nasi (semacam gerakan yang sedimikian sehingga bisa memisah-misahkan nasi yang keras)





Kedua
Siapkan mie instan goreng/ rebus tapi lebih disarankan yang goreng.





Ketiga
Buat bumbu nasi goreng. Untuk yang ini cari sendiri ya.. kan ini bukan tips memasak, tapi tips Gerakan Pantang Mubadzir. Tapi sih tak cantumin aja deh.
Bumbu nasi goreng standar:
Untung dua centong nasi dan 1 mie instan:
-          2 buah cabai merah besar + 3 cabai kecil
-          5 siung bawang merah
-          3 siung bawang putih
-          Garam secukupnya
-          Gula seujung kuku

Keempat
Rebus mie instan tanpa ditaburi bumbu. Sambil menunggu matang uleglah bumbu nasi goreng tersebut diatas. Jika mie sudah matang, angkat dan tiriskan. Lanjutnya ngulegnya jika belum selesai.

Kelima
Goreng bumbu nasgor yang sudah diuleg sampai wangi. Pakai api kecil aja ya.

Keenam
Tuangkan nasi sisa ke sisa ulegan bumbu nasi goreng dan tekan-tekan dengan pelan menggunakan ulegan. Selain ini mampu membersihakan ulegan, juga agar bumbu yang nempel di ulegan termanfaatkan.

Ketujuh
Campur nasi sisa yang sudah di uleg dengan bumbu sisa ke bumbu nasi goreng. Aduk-aduk

Kedelapan
Jika sudah cukup rata, masukkan rebusan mie instan. Cicipi.


Kesembilan
Jika rasa nasi goreng magelangan tersebut aneh atau bahkan tidak ada rasanya, tambahkan bumbu mie instan yang tadi tidak terpakai. Dijamin pasti enak.



Kesepuluh
Berdo’alah sebelum makan =)
Nasi goreng magelangan dari nasi sisa
Semua foto koleksi pribadi

GPM = Gerakan Pantang Mubazir (InsyaAllah)


Sebuah gerakan pengoptimalisasian barang, makanan dan apapun di sekitar supaya punya daya guna yang lebih. Prinsipnya hampir sama dengan gerakan Go Green: Reduce, Reuse, Recycle. Kenapa InsyaAllah? Karena saya sendiri tidak selalu bisa merealisasikannya. Cuma kecil-kecilan yang terjangkau sama hormon antimalas yang sedang aktif.

Gambar dari sini
Nah, untuk selanjutnya, saya akan membagi pengalaman, tips, trick dan hal iseng lain dalam rangka perwujudan gerakan tersebut. Gerakan ini memang belum massif. Bahkan baru saya gagas dan jalankan sendiri. Jadi anda masih punya kesempatan yang sangat besar untuk menjadi pelopor (setelah saya) tentunya. Dan itu berarti nanti, bagi 4 orang pertama yang ikut mengkampanyekan aksi ini akan saya ajak ke acara Kick Andy kalau diundang. 

Mau ikut gerakan ini? Caranya gampang:
1.     Up Date terus postingan saya di Blog ini,
2.    Re Post di seluruh jaringan Soc Med yang kalian miliki dengan melinkan ke halaman aslinya
3.    Menkreasikan semacam tips, tick, pengalaman dan hal iseng lain buatanmu sendiri dalam rangka Gerakan Pantang Mubadzir (InsyaAllah). Sosialisasikan dan kabarkan juga pada saya.

Jika peserta sudah mencapai 5 orang, maka akan saya buatkan akun twitter, fanpage bahkan web dengan nama yang sama. Sekian. Terimakasih.

Selasa, 04 Juni 2013

9S10A dan komentarku yang sotoy :)



Judul: 9 Summers 10 Autumns
Penulis: Iwan Setiawan
Penerbit: Gramedia Pusataka Utama
Genre: Novel
Tebal: 221 Halaman
Perolehan: Pinjem Mbak Widya
Haaa kesan yang tidak bisa lepas saat membaca buku ini adalah komentar pikiranku (yang spontan) pada interaksi antara penulis dan anak kecil yang mengenakan baju SD. Anak kecil yang dia ajak bercerita. Pikirku: "Ini penulisnya kayak pedophil". Haaa aku nggak sopan!! Jadi kata-kata kayak: 'Aku mengelus rambutnya dan beberapa kali kukecup keningnya' tu kubayangkan sebagai sesuatu yang amat menggelikan. He he..

Gambar dari sini
Yeah, it's about dream. No no no.. it's about a brave heart. Emmm apa ya? Sampai pada saat sebelum aku membaca sub judul terakhir, aku bertanya: "Ni si tokoh utama ni berarti sakit hati, terluka atau kecewa berat dengan masalalunya ya? Atau keluarga (takdir) yang harus ia lalui waktu kecil?" Maksudnya, kok sampai-sampai ia harus melakukan semacam healing/penyembuhan & pendamaian dengan dirinya sendiri. Ada rasa kecewa yang teramat besar yang menghantuinya.

And i think the child is himself, isn't it? Fiktif. Semacam teman khayal untuk diajak diskusi atau cerita. Apa? jadi selain dia pedophil, dia juga kena sindrom schizoprenia? O_O hi hi. The fact, we always need someone or somethink to talk to. Yay! yang hanya mendengar dan tidak menghakimi. Bila tidak ada yang seperti itu yaa ciptakan sendiri dalam alam khayal, atau tulisan, syair, lagu etc.

Yah, itu tadi gumpalan-gumpalan pikiran yang keluar saat aku membacanya.

Sampai akhir kisah, anak SD itu memang absurd (gile, emang die kagak punya orang tue ape? Nguntitin orang aje kerjaannye? Trus bajunye kagak pernah ganti lagi!!). Dan si tokoh utama memang bukan pedophil, karena dia cerita juga kalau dia suka sama cewek di beberapa sub judul. Kalo schizoprenia-nya bener kayaknya (errrr). Trus ternyata benar bahwa tokoh utama pernah mengalami peristiwa mendalam yang ia ceritakan di akhir. Sebuah titik yang mengantarkan ketekad-annya. Sebuah Loop atau apa ya namanya? Pokoknya ada teorinya di Supernova-KPBJ nya Dee.

Actually, IMHO cerita ini bisa jadi buku tebal atau berseri-seri (baca "e" nya kayak "dendeng" jangan kayak "empal") dengan eksplorasi yang lebih. Kisah masa kecilnya didetailkan sampai jadi 1 buku, kisah perjuangan di Bogor satu buku, tahap ia merintis karir satu buku. Just like another Laskar Pelangi. Dengan ironi-ironi dan kalimat sarkastik. Menertawakan hidup de es te. But it doesn't easy at all.

Well, i apriciate this novel. Karena aku juga belum bisa bikin yang kayak gini:)

Minggu, 19 Mei 2013

Baca buku jalan-jalan


Ha ha.. hari minggu itu time for hot chocolate and the books. And well, I’ve finished one book again. Masih buku soal jalan-jalan. Nggak terkenal sih bukunya (eh, apa terkenal ya? Karena versiku, buku terkenal itu kayak laskar pelangi, supernova de el el), tapi asik. Awalnya aku agak terganggu sama editing (baik tulisan maupun konten) yang kurang halus menurutku. Tapi okelah, tetep asyik kok

Gambar ini asli, jepret sendiri :)
Buku yang pertama, judulnya The Journey – nya Gola Gong. Ni buku nemu sehabis melakukan JOURNEY selama -/+ 4 jam di atas sepeda ontel mengelilingi Surabaya. Maksud hati nyari Stasiun Gubeng, nemunya Stasiun Pasar Turi pake bonus nyasar. Nah, disebelah Sta. Pasar Turi itu ada toko buku bekas. Dan ketemu deh sama buku ini. Dibeli seharga 15.000 atau 5.000 gitu, lupa! Terus perjalanan pulang udah malem, hujan rintik2, sendirian. Aku pengen nangis karena kecapekan.. (ha ha.. cururocol).

Trus.. trus.. buku kedua judulnya The Journal karya Neneng Setiasih. Ni buku juga didapet dari JOURNEY – nya temenku Jogja – Bojonegoro mampir Surabaya naik kereta api. “Mbaaaaak kamu harus baca buku ini!!” katanya, waktu ketemu. Oya, perjalanan nyasar-nyasarku yang sebelumnya itu dalam rangka nyariin temenku itu tiket balik Surabaya-Jogja dari Bojonegoro.

Yah, 2 buku ini ceritanya tentang jalan-jalan modal dengkul alias Backpacking. Sangat sangat persuasive dan provokatif buat yang punya jiwa bebas dan petualang walau sedikit saja kayak aku. Di dua buku ini, penulisnya adalah pelaku backpacking itu sendiri. Sebenernya ada satu buku lagi yang isinya juga jalan-jalan backpacking tapi fiktif karangan Dee : Supernova : Akar. Tokoh fiktifnya namanya Bodhi.

Sumber Gambar
Nah, si Bodhi sama Gola Gong ini sama-sama menjelajahi Asia Tenggara (kalau Gola Gong bahkan sampai Asia Selatan dan Tengah). Saking samanya jalur track mereka dan emang aku bacanya hampir bareng, aku sampai berpikir kalau Bodhi itu Gola Gong. Hue hue.. bahkan saat aku berusaha mengingat cerita 2 buku itu, memoriku ketuker-tuker. And, ternyata emang endorsement di buku The Journey – nya Gola Gong tu yang nulis Dee. Nggak nyambung kan? Heeee..  Kalau buku The Journal, tokohnya pada akhirnya ke Asia Tenggara sih, tapi nggak diceritakan.

Yeah, kesimpulan dari buku-buku ini adalah bahwa Backpacking itu asik, nggak susah-susah amat dan nggak butuh banyak duit. Bagi yang ngekos sebulan duaratus rebu bisa dikonversi kos-kosannya jadi bus ato kereta api buat ganti tempat tidur (he he.. yang ini versiku).

Nih ya, berdasarkan 3 buku ini bisa disimpulkan juga bahwa jalur backpackers tu rata-rata sama. Untuk keliling Asia Tenggara biasa dimulai dari Indonesia. Berujung di Medan, trus nyebrang ke Malaysia lewat selat Malaka. Nah yang orang Indonesia ya langsung ke Medan aja. Dari Malaysia terus naik ke atas lewat Thailand, Vietnam, Laos, Myanmar, Srilangka, Bangladesh, India, Himalaya.

Hu hu ngiler ya? Kalau Gola Gong ongkos perjalanan ia cari sambil jalan. Dia tulis kisah Backpackernya dikirim ke majalah dan dapet honor. Kalau si Neneng Setiasih ini pakai uang tabungan project2 penelitian gitu. Belakangan dia juga nulis kisahnya dan diterbitkan di majalah. Kalau Bodhi, aku lupa! Buku ini cucok bagi day dreamer buat ngegedein mimpinya, ngebuletin tekadnya, trus action!

Yang terpenting, yang ada dalam ketiga buku ini, pelaku backpacking ini sama-sama menemukan pengalaman spiritual selama perjalanan mereka. Bertemu banyak orang yang lebih beragam. Melihat kenyataan hidup dari berbagai sudut pandang dan akhirnya ketika keindahan alam terekspos di mata mereka, mereka akui kebesaran sanga pencipta. Eh, kalau si Bodhi ceritanya agak beda ding. Dia sih keliling-keliling untuk menjauhkan kutukan pada dirinya dari orang-orang di sekelilingnya

Jadi inget kapan hari nonton acara 2 tamu di Metro TV yang ada Sudjiwo Tedjo – nya. Katanya: Jalan-jalan ke Gunung, Pantai dll bahkan memasak itu akan memberikan kita pengalaman spiritual sehingga kita tidak akan lari ke orang-orang yang kita anggap memiliki kemampuan spiritual. Ha.. ha .. I like that.
Well, I’m totally agree dengan simpulak-simpulan di atas. I were. Meski perjalananku nggak ada apa-apanya dibanding 2 buku nyata dan 1 buku fiktif itu. Tapi aku cukup merasakan magisnya sebuah perjalanan. Dengan catatan, perjalanan harus penuh ketidakpastian kayak Bancpacking. Mengenali kerumunan manusia, merasakan waktu bergulir, jarak yang tertempuh dan kayaknya duitnya memang harus pas-pasan supaya sensasinya ada. Dan dalam perjalanan pula, aku selalu merasa mengerdil. Layaknya butiran debu di padang pasir. Noor Hidayati di Himpunan Semesta, for what?