"Ibarat pertandingan, yang menjadi tujuan di mataku adalah
bermain sebaik-baiknya, bukan untuk menang! Dan bermain sebaik-baiknya itu
berarti menikmati setiap menit prosesnya"
Butet Manurung
Bisa dibilang, aku telat banget baca buku ini. Telat bingiiiiit.
Ini yang kubaca aja yang covernya udah si Prisia Nasution. Alias versi filmnya.
Ini aja bukunya minjem. He he.. Sebenernya udah lama ketemu buku ini di
koleksinya temenku yang rajin bacan dan beli buku. Jaman2 jadi relawan professional
3 tahun lalu. Waktu itu udah suka baca tapi nggak rajin. Ha ha.. Walaupun udah
kepo karena rekomendasi temen2 waktu itu, tapi kalah sama prioritas lain.
Begitulah. Malasnya aku.
![]() |
Bersama pembuat filmnya. Ini Sumber Gambar-nya |
Beruntungnya jadi bisa baca tambahan dari penulisnya tentang
refleksinya setelah sekian lama sokola rimba mulai dirintis. Dan dibagian
refleksi itulah ketemu kata2 mejik di atas.
Pertama-tama aku mau tebak orang seperti apa si embak Butet
ini dari caranya menulis dan memaparkan sesuatu. Yang pasti dia sederhana. Tulus.
Humble dan bijak. Hanya orang bijak yang bisa dan suka menertawakan diri
sendiri. Ha ha.. Orangnya cukup realistis sepertinya, dan pastinya humanis. Mwehehehe..
Yahhh ini Cuma tebak2 buah manggis. Boleh percaya lebih disarankan untuk tidak.
Yah, jika anda membaca buku ini anda akan mendapatkan cerita
perjalanannya menjadi fasilitator pendidikan di Rimba Bukit Duabelas Jambi. Cerita
yang pada awalnya hanya dia coret2 di kertas seadanya. Sebagai saluran
kegalauan dan kegundahannya dalam menjalankan tugasnya dan melihat realistas. Benar2
cerita apa adanya. Bahkan ketidaksepakatannya terhadap banyak hal di lembaga
tempatnya mengabdi: WARSI. Mungkin kalau versi asli coret2annya lebih urakan. Ha
ha…
Betapa idealismenya berbenturan dengan platform lembaga. Berbenturan
dengan realita. Keberpihakan Vs tuntutan objektivitas. De es te. Yang aku yakin
ini dialami oleh hampir semua orang yang pegiat social. Apapun sektornya. Lah,
guwe aja yang sekedar bantu2 salurin ini, salurin itu, foto sana foto sini
galaunya bisa tingkat propinsi. Hadeuuuh..
Sudah kubilang tadi kalau dia ini sepertinya orang yang
humble dan bijak. Dia sering mengatai dirinya bodoh, dan sering bercerita
hal-hal bodoh yang dia alami selama di rimba. Hal-hal bodoh yang dia pikirkan
juga yang sanggup membuatku terbahak-bahak ketika membaca dan membayangkannya. Tapi
ya dia tidak bodoh lah yaa.. Kalau iya, masak bisa menginisiasi program keren
kayak gitu. He he.. Makanya aku suka sama kata2 yang kukutip di awal. Sesuatu
banget menurutku. Sederhana tapi dalem. Heee..
Ah, aku tidak bisa bercerita banyak2 mengenai isi bukunya. Intinya
isi bukunya ya itu perjalanan dia dari awal gimana bisa nyasar ke Rimba sampai
bisa menginisiasi program pendidikan untuk kaum adat. Sampai 2013 lembaga
serupa sudah berdiri di 14 cabang. Yang menakjubkan, murid2nya yang orang rimba
itu jadi kader pengajar juga (tu kan aku tendesius.. –memang aku termasuk orang
yang kudu diluruskan otaknya). Gitu deh.
Buku ini recommended buat para pegiat social di berbagai
bidang. Banyak pelajaran di dalamnya. Pelajaran yang mengajak pada perenungan
tentang hakikat “menolong/membantu orang lain”. Karena menurutku kegiatan yang menjadikan
manusia sebagai objeknya (mau nggak mau diawal kan gitu, meski selanjutnya jadi
subjek) itu seni. Seni rumit sekaligus bisajadi sederhana, yang ilmunya nggak
ada di kampus2. Kita sendiri sebagai pelaku/pegiat social juga jadi variable utama
yang menentukan keberlangsungan kegiatan social itu. Dan bahkan kita yang
tadinya subjek, akan jadi object. Begitulah. Bahasaku mbulet2 ni.
Jadi selamat bagi anda yang sudah lebih dulu membaca buku
ini dan menyerap saripatinya. Dan bagi yang belum, bacalah untuk memperkaya
rasa ha ha… Terimakasih.
![]() |
Ini yang cover perdana. Gambar diambil dari sini |
Owiya. Diceritakan di buku ini kalau salah satu anak rimba bernama Peniti Benang suka sekali menulis. Waktu dia pergi ke Makasar untuk jadi kader pengajar lewat Jakarta ia mengalami guncangan budaya yang bertubi-tubi. Ia tulis semua pengalamannya itu. Tulisan itu dipinjam oleh Butet dan ia perlihatkan kepada Iwan Fals. Sama Iwan Fals dibikinkan lagu dengan judul nama anak itu: Peniti Benang. Ini dia lagunya.
Peniti Benang-Iwan Fals
Lagu anak rimba yang dibawa teman sejalan
Sampai hatiku terdalam
Ia titipkan salamIa doakan kesehatan
dan keselamatan
Ia harapkan kebebasan saling hormat saling membantu
Lagu anak rimba yang kebingungan
Karena hutannya di jarah orang
Bagaimana kok bisa begini ?
Bagaimana mengatasi masalah ini ?
Taman-tamannya banyak yang pergi
Lagu anak rimba yang haus akan pendidikan
Kalau pandai ia bisa atasi permasalahan
Begitu banyak yang ingin ia ketahui
Agar hutannya terjaga dan tidak dijarah orang
Lagu anak rimba yang pergi ke kota
Melihat begitu banyak ketidakadilan
Orang miskin berkubang sampah dan penyakitan
Karena tidak bebas dan tak punya hutan
Lantas ia cerita tantang masa lalunya
Saat di hutan masih utuh
Ia merasa hanya ia manusia di bumi
Walau ternyata tidak
Dan satu persoalan lagi
Adalah dengan orang desa
Karena lahan mereka lebih banyak daripada orang rimba
Orang tuanya cerita
Orang luar banyak yang jahat
Sering tidak bertanggung jawab terhadap perempuan
Itu sebabnya perempuan rimba jarang yang keluar hutan
Lagu orang rimba yang tak mau di rumahkan
Karena hidupnya lebih bebas
Banyak air dan makanan
Lagi pula ia tak rugikan orang lain
Berburu binatang yang diizinkan
Lagu orang rimba bicara tentang Tuhan
Tuhan itu milik kita semua bagi yang baik
Saling hormat sopan santun
Dan bukan untuk yang tidak baik
Yang terpenting baik budi sabar dan saling memaafkan
Bagi yang muda janganlah mudah terpengaruh
Sadarlah
Nasihat orang rimba
Jangan melawan orang tua
Terutama ibu kandung
Yang membuat kita lahir ke dunia
Meskipun mereka galak dan pemarah
Tapi sebenarnya marahnya itu karena ulah kita sendiri
Lagu orang rimba tentang TV dan berita-berita
Ia sedih melihat pelacur dan orang-orang miskin
Mengamen hanya untuk dapat uang buat makan
Kolong jembatan rumah kardus untuk tempat tinggal
Dan banyak orang buang sampah sembarangan
Hingga penyakit datang
Ia sedih rumah-rumah penuh sampah
Lagu orang rimba yang mengkritik pemerintah
Karena kebodohanlah
Kemiskinanlah dan kejahatan muncul
Pemerintah juga harus memberantas narkoba
Dan kenapa yang jadi pejabat hanya orang kaya dan pintar saja ?
Tapi tak pikirkan orang kecil
Peniti Benang namamu
Ia ingin menangis
Diluar begitu banyak ketidakadilan
Kenapa manusia berlomba-lomba mencari uang ?
Kenapa manusia merasa dirinya paling adil dan benar ?
Kenapa selalu membeda-bedakan berdasarkan harta ?
Bukankah semua itu sama ?
Semua yang milik kita adalah milik Tuhan juga
Tak lama ia dikotaTak betah karena bising
Begitu banyak suara mesin merasa seperti di neraka
Ia rindu hutannya
Ia rindu teman-temannya
Ia pun khawatir hutannya habis
Ia mengadu pada Tuhan agar menjaga hutannya
Ia tak mau hidup di luar
Ia mau hidup di alam bebas
Sang pohon memberikan nyawa padanya
Teman-temannya yang baik tak bisa ia lupakan
Peniti Benang minta di ajari computer
Karena malu pada pemipinnya
Dan orang-orang mulai mempertanyakannya
Apa yang bisa ia lakukan untuk menjaga hutan dan melindungi ?
Ia sekolah dan belajar baca tulis dan berhitung
Agar tak di tipu
Soal surat perjanjian tanah misalnya
Menjaga hutan memang sulit sekali
Orang pemerintah saja tak bisa
Apalagi saya yang baru bisa baca tulis dan hitung
~Dari KapanLagi.com
0 komentar:
Posting Komentar