Senin, 16 Maret 2015
Rabu, 10 Desember 2014
The things they carried
Kemarin saat pindahan Surabaya-Jogja-Lampung, packing barang-barang dan menemukan lagi buku dengan judul diatas. Buku yang belum selesai dibaca. Tulisan Tim O'brien. Beli dari taun jebot di pameran atau obral buku Gramedia, lupa! Yang pasti harganya murah.
Tim O'brien ini Veteran perang Vietnam. Terekrut karena wajib militer. Selesai dari tugasnya hidup damai di kotanya bersama keluarga. Kemudian menuliskan kisah-kisahnya selama perang secara fiktif_dia bilang begitu. Tapi aku yakin, sefiktif-fiktifnya pasti banyak yang sungguh-sungguh pernah terjadi.
Diceritakan secara garing dan datar luar biasa. Aku sampe mati bosan. Ini sebenernya juga belum selesai aku bacanya. Kurang 2 bab.
Bayangkan ada 2 atau lebih laki-laki (yang hidupnya keras) usia 40an. Duduk di kedai kopi atau angkringan. Mereka mengobrol sambil menerawang tentang kehidupan masa lalu yang penuh perjuangan sekaligus kekonyolan khas anak muda. Sambil sesekali menghisap rokok, menenggak kopi dan mengunyak kacang. Terbatuk, mendengus dan tertawa singkat, haha! Maskulin banget pokoknya. Yah begitulah kira-kira. Garing. Nggak asik.
Udah gitu, banyak kisah yang diceritakan berulang tapi dengan tujuan berbeda. Dengan sudut pandang beda. Sudut pandang ia waktu kejadian berlangsung banding sudut pandang saat ia menuliskan kisah tersebut. Kadang pengulangannya karna 2 tema berbeda. Satunya bicara tentang kematian. Satunya tentang keberanian yang banyak/ keberanian yang sedikit (pengecut).
Begitulah...
Tapi tiba-tiba, ada ide yang nyangkut di kepala gara-gara novel garing ini: bikin cerita kayak gini tentang relawan. Ha ha ha. Kalau dipikir-pikir, aku sekarang sedang ada di fase seperti O'brien saat menulis novel ini. Veteran relawan, tinggal kesepian di kota_desa_nya dan kurang kerjaan. Waha! Oh satu lagi, terlalu banyak kenangan untuk diendapkan begitu saja. Mweheee...
Lagipula, kalau diingat-ingat, meski aku sering nulis, aku jarang banget nulis tentang relawan. Di note FB kayaknya kurang dari 5. Di Blog sama sekali ndak ada. Kecuali tentang personalnya. Dan yang di FB itu lebih ke laporan kegiatan. Dan padahal kemaren ada lomba nulis cerita dari relawan. Temanya tentang berbagi. Aslinya pengen ikut. But have no idea.
Subuh-subuh bertapa mengaduk memori. Apa yang kurasakan tentang berbagi, slama ini, di relawan. Berharap bisa menimbulkan hasrat buat nulis. Tapi tidak terjadi apa-apa. Blank. Gelap! Kyaaa... Jadi curiga, jangan-jangan nikmat/hikmah berbagi selama ini belum pernah aku rasain. Kerasanya aku yang nerima banyak malahan. Kayaknya gitu. Hummm... Intinya nggak bisa nulis. Nggak ikut lomba dan nggak menang. Yeeee -_-
Jadi, tulisan-tulisan setelah ini adalah serial kerelawanan. Fiktif! Yang terinspirasi oleh kisah nyata dan akan segera difilmkan. Wohooo... Apabila ada kesamaan cerita/karakter/peristiwa itu adalah sebuah kesengajaan. Semoga ndak ada yang merasa dirugikan. Kritik dan saran bisa dikirim ke nunungnhd@gmail.com atau langsung aja komen :)
Sabtu, 06 Desember 2014
The rain will fall the rain will fall..
Hujan. Aku lupa, kapan terakhir kali sengaja menghujan-hujankan diri. Kalo ndak salah pas masih ngekos di Jogja di tempat jemuran :D
Kalau kehujanan di jalan sering. Pake atau nggak pake mantel. Atau pas ada kegiatan terus hujan padahal harus wira-wiri, hujannya ditabrak aja. Yang begitu juga sering. Nggak pernah mikir bakal kenapa-kenapa kalo kena air hujan. Kecuali barang-barangku yang bakal kenapa-kenapa kalau kena hujan. Kalo udah gitu milih nunggu sampe reda. Bersyukur banget kalo di tas lagi ada tas kresek. Barang masukin situ semua, baru dimasukin ke tas. Abis itu lanjuuut.
Aku punya kenangan yang pekat saat hujan. Tentang keceriaan, kepolosan dan jiwa tanpa bebannya kanak-kanak. Juga tentang kepasrahan sekaligus pengharapan yang sangat pada Yang Maha mengatur hidup. Meski masih kanak-kanak. Kenangan yang nggak akan pernah hilang. Kalau lagi nggak di rumah, trus hujan, trus inget kenangan ini bisa mewek dan kangen berat sama Babe.
Lama setelah masa kanak-kanak itu tak pernah memikirkan tentang hujan. Sampai saat pikiran suka mengejawantahkan satu-satu apa yang dirasakan. Dan yang terpikirkan saat aku abis kehujanan adalah, wajahku jadi seger dan berseri-seri. Semacam jadi agak cantik dikit. Huahuaaa... *tukan mau bikin tulisan melow gajadi
Alasan itu adalah alasan yang mirip dengan alasanku pake jilbab: Aku suka melihat bayanganku di siang bolong kalau lagi pake jilbab. Dengan kain menjuntai-juntai di kepala ala Annida. Ikon majalah muslimah waktu itu. Alasan yang aneh -_-"
Aku pernah cerita hal itu ke Bapak-bapak kantor, bahwa kalau lagi di jalan trus hujan aku malah menengadahkan kepalaku membiarkannya menyegarkan wajahku. Trus tau dong apa reaksi mereka. Iya, aku diketawain. Tapi biarin :p
Ada banyak lagu manis juga tentang hujan. Hujan-Utopia. Waktu hujan turun-SO7. Hujan jangan marah-ERK. Perempuan hujan-The Rain. Rindu pelangiku-Sherina. Menjemput impian-Kla Project. It's gonna rain-Ost. Samurai X. Tears drop in the rain-Lagu Korea gatau sapa yang nyanyi. Dan yang most Vavorito: The rain will fall-Mocca.
All that i need now
Is the rain to fall from the sky
To wash away my pain inside
All that i need now
Is the rain to fall from the sky
The rain will fall
The rain will fall
Hahaa.. Emang kalo mau nangis tapi nggak ketauan nangisnya sambil hujan-hujanan.
Kemaren abis hujan-hujanan di jalan. Senyum-senyum sambil ribut memanjatkan do'a. Salah satunya: semoga busi motornya nggak konslet dan bikin mogok lagi haaa... Sampe rumah disuruh nganter ibu kondangan. Langsung laksanakan tanpa ganti baju. Ikut masuk dan makan pake baju basah. Waaa...
Trus ini aku kutipkan tulisan kece badai tentang keberkahan hujan dari buku lapis-lapis keberkahan karya Salim A Fillah. Biar ni tulisan nggak cuma curhat doang. Hee...
Dalam hujan di lapis-lapis keberkahan, Nabi Shalallahhu 'Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk mentauhidkan Allah sebagai satu-satunya yang kuasa menurunkan karunia. Tersunahkan ucapan: "Umthirnaa bifadhlillaahi wa rahmatih. Kami dikaruniai hujan dengan karunia Allah dan rahmatNya"; agar kita tak menisbatkan rintik ataupun lebatnya pada bintang ini dan gemintang itu. Inilah yang akan menderaskan lapis-lapis keberkahan di dalam tiap butir-butir air yang berdebur.
"Perbanyaklah berdoa di kala hujan turun," demikian 'Abdullah ibn 'Abbas Radhiyallahu 'Anhuma menasihatkan, "sebab ketika itu pintu-pintu langit sedang dibuka." Adapun doa asasi yang diajarkan Sang Nabi ketika hujan turun dalam riwayat Imam Al-Bukhari adalah ucapan, "Allaahumma shayyiban naafi'an. Ya Allah, jadikanlah hujan ini penuh kemanfaatan.
"Disunnahkan untuk berbasah-basahan dengan hujan ketika ia turun," demikian ditulia Dr. Nashir ibn 'Abdurrahman Al-Juda'i dalam At-Tabarrak Anwa'uhu wa Ahkamah," serta mengeluarkan pakaian, perkakas, dan kendaraan agar terkena hujan." Ini didasarkan pada hadits Anas ibn Malik dalam Shahih Muslim saat beliau menyaksikan Sang Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyingkap pakaiannya agar air hujan mengenainya. "Kami bertanya," ujar Anas, "'Wahai Rasulullah, mengapa kau lakukan ini?' Beliau menjawab, 'Sebab hujan itu diturunkan dari sisi Rabbnya."
Demikian pula Imam Al-Bukhari mengetengahkan riwayat bahwa Ibn 'Abbas jika hujan turun, maka beliau memerintahkan agar pelana dan pakaian beliau dikeluarkan, kemudian beliau turut berhujan-hujanan sejenak sembari membaca Surah Qaaf ayat ke sembilan.
Dan sekarang, right here right now lagi huja. Kamar bocor. Ah biarin. Biar makin berkah :D
Ntms: apalin surat Qaafnya! Jangan lagunya :p
Kamis, 04 Desember 2014
How to train your (dragon) child
Hari ini baca poster dibawah dan mupeng luar biasa.
Beberapa kali denger temen promoin buku Prophetic Parenting dan mupeng tiada tara.
Akhir-akhir ini sering berurusan dengan anak-anak dan jadi pengen belajar banyak tentang mereka. Tentang cara mendidik mereka.
Aku si ga terlalu suka anak-anak. I mean, aku punya banyak temen yang langsung girang bukan kepalang kalo ketemu anak-anak, ngajak mereka main dan membina hubungan baik sama mereka sampe tingkat mendalam. Sebaliknya, anak-anak juga suka mereka. Menurutku itu yang dimaksud 'suka anak-anak'. Dan aku nggak gitu-gitu amat.
Cuma aku suka sama orang tua mereka_trus aku diketawain sama temenku coba. Menurutku, hidup ini terlalu singkat untuk dilewatkan sama anak yang menyusahkan. Meski ga sampe bikin bangga, tapi seenggaknya jangan nyusahin. Selain itu ada satu hal lagi yang membuatku ga bisa ga peduli sama mereka. Tapi rahasia :p
Nah bicara soal poster sama buku itu, bicara tentang cara mendidik anak. Itu pekerjaan seumur hidup bagi orang tua. Utamanya Ibu. Karna Ibu adalah Madrosatul Ula. Sekolah pertama bagi para anak. Yakalo jadi guru aja harus kuliah dulu, daftar PNS, ujian, penataran, sertifikasi apalagi jadi Ibu. Kalo jadi Murobbi aja harus belajar dulu, ikut dauroh dulu, banyak baca buku, apalagi jadi ibu.
Nyatanya juga, bahkan untuk bisa mengenali, menyelami sampe kemudian ngasih intervensi ke satu anak aja nggak gampang. Dan yaitu tadi, kita harus punya cara atau metode yang jadi pegangan. Dari banyaknya model dan gaya hidup masa kini, kita mau didik anak pake model apa? Ngikutin siapa?
IMHO, nggak cuma urusan didik anak sih, tapi di segala urusan kita udah dikasih role model yang sempurna, meski beselisih waktu milenia. Sudah dikasih kitab yang isinya cerita. Sudah dikasih aturan jelas dan adil mengenai hak dan kewajibannya. Tinggal mengkaji dan mengamalkan dengan ikhlas lanjut tawakkal.
Kalau dari hasil perenungan akibat terjun langsung aku menemukan beberapa cara. Aslinya pengen klarifikasi dulu ke seminar atau bukunya, tapi udah pengen cerita ini. Heheee...
Yaitu adalah:
1. Bagaimanapun anak-anak itu suka cerita. Buktinya mereka suka Mahabarata dan hafal kisahnya. Seringkali ditemukan bisa mengambil hikmah dari kisah itu.
2. Perlakuan dan kebutuhan anak perempuan dan anak laki-laki tu beda. Cara mereka tumbuh baik fisik, mental dan kejiwaannya aja beda. Maka, sistem pendidikan formal yang mencampur mereka itu bikin aku berkernyit, nyusahin guru_aku maksudnya.
3. Sepertinya mereka itu suka berkhayal. Ini masih spekulasi. Spekulasi primordial banget. Dan ini mungkin bisa dimanfaatkan.
4. Jangan remehkan kemampuan mereka untuk menyerap informasi, mengingat dan mengasosiasi. Meski tampaknya mereka nggak ngerti. Mereka hanya belum punya kemampuan dan cukup kosakata untuk mengeluarkan pemikirannya.
5. Ada masanya seseorang itu bisa sangat disenangi anak-anak padahal dia nggak ngapa-ngapain dan padahal biasanya anak-anak nggak suka sama orang itu. Katanya itu indikasi kematangan jiwa seseorang sehingga auranya keluar. Engngngng... Yang ini emang nggak nyambung :p
*maaf jika isi jauh dari ekspektasi anda dan nggak nyambung sama judulnya. Itu judul kece menurutku :D
Minggu, 30 November 2014
Hidupkan lagi mimpi mimpi
Mimpi. Dream. Bukan dalam arti kata 'bunga tidur' tapi sesuatu yang diangankan untuk diaraih. Seperti halnya mimpiku yang sering berubah-ubah, perspektifku dan caraku memperlakukannya pun berubah-ubah. Emang labil -_-".
Entah sejak kapan ya pembicaraan mengenai mimpi ini jadi begitu sering. Tapi menurut pendapat hamba yang dhoif ini, ini erat kaitannya dengan literasi. Dengan menggeliatnya lagi penerbitan buku-buku dan bahan baca lain. Referensi banyak bermunculan dalam berbagai bentuk paparan. Meski kenyataannya masih banyak_pake banget_kalangan yang nggak peduli hal-hal ghaib kayak gini.
Nah, beberapa referensi yang pernah kudengar, baca atau diskusikan ini yang membuatku suka labil. Kadang setuju dengan yang mengatakan mimpi itu harus jelas, pasang target, di breakdown de es te de es te. Trus aku akan membuat dreamlist. Tapi abis itu lupa. Buat alibinya, sok-sok setuju sama orang-orang yang ga punya mimpi tapi capaiannya luar biasa. Prinsipnya berbuat terbaik di titik dimana dia berada. Atau yang let it flow dan enjoy tapi tetep bermuara ke sebuah capaian.
Sebenernya yang model kedua itu bukannya gak punya mimpi. Punya, tapiiii... Tapi gimana ya *garuk2kepala. Mimpinya itu dia tempatkan sebagai kerangka besar, yang gerak-gerak kecilnya kadang kayak nggak nyambung. Dan dia nggak pusing sama prentil-prentil uraian, metode dan tata cara yang kaku. *semoga anda mengerti penjelasan ini.
Aku kasih contoh ajadeh. From my idol. The only one: Anis Matta. Jadi waktu itu di akhir bulan Ramadhan tahun 2010. Waktu dimana mahasiswa udah banyak yang mudik. Eeee kok ada acara RTT: Ri'ayah Tarbiyah Tulabiyah. Semacam tabligh akbar nya pelajar. Pengisi acaranya Anis Matta. Bertempat di kampus Magistra Utama Jl. Magelang.
Paparannya bikin tuing-tuing untuk ukuran mahasiswa spek otak rendah kayak aku. Lha tapi waktu itu Pak AM ini menjelaskan tahapan kehidupannya dari dia masih kecil secara singkat. Kayaknya gara-gara ada yang nanya soal mimpi/cita-cita nya bapak satu itu. Nah yang ini aku agak nyambung. Dia bilang, dia itu tidak pernah punya cita-cita. Tidak pernah punya gambaran yang jelas tentang cita-cita. Mau jadi apa. Mau mencapai apa. Tidak ada. Kalau pada akhirnya dia sampai di titik ini sekarang, itu karena dia melakukan dengan sungguh-sungguh tiap tahapan hidupnya. Nah, gimana tuh...
Contoh lain adalah apa yang baru kubaca dari blog temanku. Kisah tentang Dahlan Iskan. Bisa dibaca disini.
Trus aku tadi mau cerita apaya? ._.
Aku lagi belajar untuk menjadi seperti itu. Lebih karena merasa nggak cocok pake cara yang pertama_ngeles padahal. Well, memang bukan tipe orang yang bisa taat sama penjadualan apalagi yang dibuat sendiri. Suka ngerubah-rubah rencana. Ya labil itutadi -_-"
Jadi lebih ke fokus sama yang dikerjain sekarang. Berusaha yang terbaik. Tapiiiii... Tapi lagi. Kok ngerasa nggak keukur gini ya? Nggak bisa ngevaluasi. Padahal dulu waktu punya dreamlist juga nggak pernah dipake buat evaluasi. Heuheu...
Hummm...
Kemudian berpikir untuk kembali membuat tahapan buat reminder. Atau nggak dicampur metodenya. Sok-sok ngalir nggak punya mimpi, tapi diem-diem ngerekam dan nulis. Hahaa... Kalo yang terencana kan biasa namanya dreamlist, dreambook, renstra, pohon mimpi dll. Jadi ini namanya apa ya? Ngngngng... Sungai mimpi? Dreamflow. Dreamwork. Aihh meni serius pisan. Namanya.. Watercanon @@
Trus stuck lagi. Emang punya mimpi? Nyahahaha...
Punya. Enak aja. Even if you know it you will laugh me. I still call it with DREAM :p
1. Punya laptop. Dengan jalan apapun :)
2. Nana nana nana
3. Lala lala lala
4. ....
Ternyata aku tak sanggup menuliskannya. Asli. Banyak yang aneh dan ga penting. Nggak bisa ngerubah dunia. Hyaa...
Tapi bakal ketauan kok dari apa yang bakal aku cerita-ceritain di depan. Blog ini juga jadi kontrol.
Wujudkan lagi mimpi mimpi, cita cita, cinta cinta... Yang lama kupendam sendiri... Berdua.. *ah gajadi :p
Jumat, 28 November 2014
I Love the (t)rain
Pertama kali naik kereta api adalah pas umur 4 tahun. Gak main-main. Sekeluarga naiknya. Ples perabotan-perabotannya. Dari Jogja menuju Jakarta trus nyebrang ke Lampung untuk menetap. Nyebrangnya yapake kapal laut. Yes it calls transmigration. Masih kecil. Jadi lupa rasanya. Yang pasti kalo liat fotonya aku hepi-hepi aja. Ahahaa..
Abis itu puluhan taun berikutnya baru naik kereta api lagi. Pas udah di Jogja jadi mahasiswa. Naik pramex dari sta. Lempuyangan ke sta. Tugu, mbalik lagi ke Lempuyangan dalam rangka momong ponakan. Haaa... Kagak bayar! Emang kampungnya depan stasiun ya gitu deh. Dan waktu itu aturannya masih nggak beraturan. Rasanya biasa aja. Cuma seiprit doang.
Abis itutuuu. Perjalanan yang menentukan. Momen kebukanya satu sumpel di kepalaku yang penakut ini. Secara serabutan pulang ke Lampung ngeteng naik kereta ekonomi yang penuh sesak tapi bahagia minta ampuuun. Naik kereta busuk bareng ayam, sayur mayur, bak cucian pas dibelakang kepala kereta dimana tu kereta sering banget ngeluarin suara tuuuuut tuuuttt biar para penyebrang rel pada minggir dari simpangan yang nggak ada palangnya itu. Kereta yang berenti ribuan kali buat ngangkut penumpang yang habis mandi di kali. Yang dari Jakarta kota sampe Merak cuma bayar tiga rebu apaya? Hahaa.. Tapi ya masih bisa tidur.
Abis itu si nunung yang ribet maribet kalo mau bepergian, jadi nunung yang tinggal ngloyor aja kalo mau kemana-mana. Easy come easy go, do you let me go, Bismillah nowww, we will not let you go, o o o o o. Mamamia mamamia mamamia let me go beelzebub this is very very hard for mee for meee for meee... *
Abis itu abis itu naik kereta jadi sering. Gara-gara kerjaan. Bandung-Jogja, Surabaya-Bandung, Jogja-Jakarta, Jogja-Surabaya, Surabaya-Jogja. Ahhh aku jatuh cinta..
Trus kemaren waktu di Jakarta kerjaannya naik KRL. Uuuu...
I love the train :)
*Bohemian Rhapsody-Queen
Selasa, 25 November 2014
Cool places in hot city Surabaya
Ini anomali ni: Aku kangen Surabaya ._. Demi apaaaa coba. Hahaaa...
But well begitulah adanya. Surabaya. Meski ini bulan November, dimana udah musim ujan, di Surabaya we still need a cooler, fan or whateverthing yang bisa memproduksi angin atau udara dingin. Jemuran yang cuma di taro di balkon juga tetep kering. Selimut juga tetep ga kepake. Heuheu.
Tapiya. Ada beberapa tempat yang cool dan nggak kayak lagi di Surabaya kalau kamu kesini. Yaitu adalah mall. Hahah. Nggak ding. Ya mall mah emang dingin dan di Surabaya ada banyak. Tapi nggak alami. Yang berikut ini cool dalam arti keren, berangin, nyaman dan homy gitu.
Pertama adalah: Kampung Ilmu. Ada di Jl. Semarang dekat stasiun pasar turi. Ini adalah surganya buku-buku murah. Konon ceritanya banyak loakan buku bekas gitu di pinggir jalan. Terus sekarang masih gitu sih. Tapi ada satu tempat yang dibangun khusus untuk berkumpulnya para pedagang itu di satu lokasi.
Kios-kios berjajar di sekeliling komplek. Kayak pasar buku. Ditengahnya ada pendopo untuk berbagai kegiatan dan warung makanan. Ada wifi-nya. Ada juga ruang sekretariat di dekat pintu masuk sebelah kanan. Mushola kecil ples kamar mandi dan tempat wudhu ada di dekat tangga besi. Tangga besi ini akan menghubungkanmu dengan semacam balkon luas diatas yang lantainya terbuat dari kayu atau lembaran besi gitu, lupa. Dan hanya dipasangi pagar besi pada sepanjang tepian balkonnya bersambung dengan pegangan di pinggiran tangga. Pas sampai diatas, ternyata ada dua bangunan semi permanen yang sepertinya nyambung sama bangunan di bawahnya. Bangunan diatas ini berfungsi sebagai aula dan perpustakaan. Dua ruangan ini sudah tidak difungsikan dan kurang terawat.
Yang bikin cool nya apa dong? Haaa... Jadi kompleks ini dinaungi oleh rerimbunan daun dari pohon yang guedeeee pisan. Batangnya udah gabisa dipeluk sama orang dewasa. Udah gitu kombinasi bentuk batang, kulit kayu yang item, lekukan ranting dan daun-daunnya yang kecil tapi banyak bikin suasana jadi eksotis dramatis. Jadi, dengan daun-daun yang kecil itu berkas sinar matahari jadi indah. Terang tapi teduh. Kerennya lagi saking bongsornya ni pohon sampe tembus ke balkon atas ituuu... Jadi di atas pun teduh. Malah tambah sejuk karna jarak dengan dedaunannya yang lebih dekat. Tergapai sama tangan tapi nggak bikin orang harus merunduk saat lewat di bawahnya. Saking kerennya buat backround foto pasca wedding bisa banget nih. Aku udah nyoba, tapi sendirian :3
Masih di kampung ilmu. Disini kamu bisa dapet buku murah bahkan sampai 1/4 nya. Murah-murah gitu bukan berarti bajakan looo... Ya yang bajakan juga banyak, tapi banyak juga yang asli. Entah itu bekas, sortiran atau buku lawas. Bisa ditawar juga.
Aku kesini beberapa kali. Selalu sama jul. Dan selalu lupa waktu dan kalap belanjanya. Oya, kios yang diluar juga banyak. Berjejer-jejer sammmpe ke stasiun pasar turi. Kalo ke Surabaya main-mainlah kesana.
Kedua. Kolam renang Al-Hikmah. Namanya kolam renang ya dinginlaaah. Makanya masuk ke kategori "cool place". Ada di SMA IT Al-Hikmah tepatnya Al-Hikmah sport center. Di lantai satu. Karna lantai duanya lapangan badminton. Disini di kolam renang ini, kamu jungkir balik di dalemnya juga ga bakal keringetan. Haaaa... Tapi agak mahal cui. Entah karna kita sewa eksklusip buat akhwat atau emang udah tarif. Jadi sekali masuk 20 apa 25 rebu gitu. Padahal biasanya di Jogja cuma 7rebu. Fasilitas dan kualitas beda sih emang. Heuheu.
Ketiga: KenPark alias Kenjeran Park. Ini taman hiburannya pantai kenjeran. Cool karena luasss, banyak pohonnya dan relatif sepi pengunjung. Atau kamu bisa cari sudut yang gaada orangnya. Banyak suvenir murah-murah, makanan juga terjangkau. Dan namanya juga pantai, jadi banyak angin. Teduh. Plesnya lagi, lokasi ini deket banget sama pusat kota.
Keempat: Perpustakaan Bank Indonesia di jalan raya Darmo. Aslinya belum pernah berhasil masuk sini. Tapi dari luar aja tempat ini homyyyyy banget.
Masjid Al-Falah wa bil khusus lantai dua. Ini tempat sholat khusus akhwat. Kamar mandi dan tempat wudhu juga disitu tinggal melangkah manis. Dari situ juga tetep bisa liat dan dengerin kajian yang ada di bawah tanpa harus jaim. Mau glosoran kek, apa kek.. Santai aja. Tapi marbotnya tegas banget. Kalo ada yang tidur di oprak2 haghag.
Kelima: Warung pojokan jembatan prapen, Jl. Nginden. Haaaaags... Aslinya cuma sekali kesini tapi berjam-jam ga pulang-pulang. Selain kebanyakan cerita, tempatnya emang cozy. Dulu ini gatau warung apa, tapi pokoknya gak se cozy yang sekarang. Kalau sekarang ini warung mi jawa gitu. Ada nasi goreng dan magelangan juga, kalau di SBY namanya mawut. Daaaan sukanya, nasi gorengnya ala jogja yang bumbunya racik sendiri. Bukan asal campur saos sama kecap ples micin. Di pojokan ada pohon yang menaungi meja kursi di bawahnya. Karna di pinggir jalan jadi agak bising sebenarnya, tapi they don't care us anyway. Haha. Trus inikan deket sama kali jagir yang lumayan gede itu dan aku selalu suka ngeliatin sunset di kali jagir sore2 pas pulang kerja. Jadiiii, jadi gak ada hubungannya sebenernya.
Akkkk pengen ngasih foto tapi fotonya di HD ext. Dan aku ngetik ini di hape pfffffftttt...
Minggu, 09 November 2014
Ralat dan permintaan maaf
Aku tau blogku ini nggak terlalu banyak pengunjungnya. Meski begitu, rasanya tetep perlu untuk menyampaikan ralat dan minta maaf.
Jadi, ada beberapa tulisan yang menyatakan tentang fakta tapi ternyata tidak benar. Sebenarnya nggak niat seperti itu. Cuma emang dasar pemalas. Malas ngecek dulu kebenaran suatu berita dan hanya mengandalkan kesotoyan semata.
Setelah dicek, ternyata banyak juga. 1. Paling fatal nih. Yaitu aku tulis kalo Siti Nurbaya itu karangan HAMKA. Di tulisan dengan judul: TKVDW: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Dodol kan? Padahal yang bener itu karangan Marah Rusli. *semoga cuma satu blog ini yang bisa se-oon itu dan semoga gapernah dijadiin sumber referensi. Pak Marah Rusli, jangan marah ya.. :')
2. Aku tulis kalau buku The Da Peci Code itu karangan Asma Nadia. Padahal yang bener penulisnya Ben Sohib. Akkkkk... Karena efek nonton filmnya 3 hati 2 dunia 1 cinta. Biasa yang cerita-cerita gitu kan buatan Asma Nadia. Heuheu. Ini ada di tulisan berjudul: Nonton lagi 3 hati 2 dunia 1 cinta.
3. Di tulisan dengan judul: chocolate. Aku tulis kalau ada film yang judulnya Charlie and the Chocolate Company. Yang main Johny Deep. Padahal yang bener Charly and the Chocolat Factory. Kalo yang ini asli salah ketik.
4. Selanjutnya aslinya bukan salah sebut. Cuma sok-sokan kasih nama sendiri. Males cari info dan nanya. Di tulisan: Cieeee.. Naik gunung ciee... #Merbabu yeyyy! Aku nulis kalo kita berhenti lama di bidang datar luasss sekali yang penuh prrbukitan. Itu aslinya dikenal dengan nama bukit teletubbies.
Udah. Semoga tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dengan kesotoyanku. Kapokkk pokoknya : |