Senin, 30 Desember 2013

Memotret dengan Canon Power Shoot A810

Jaman sekarang DSLR itu bukan sesuatu yang terlalu istimewa. Maksudnya, sudah jadi barang konsumsi umum. Kalau dulu, kalau bukan fotographer professional kayaknya jarang yang punya. Sekarang asal punya kocek cukup, gampang aja mau punya. Masalah cara pakenya bisa belajar. 

Suatu kali waktu sharing2 dengan teman kantor soal mimpi2, salah satu mimpiku tu kan punya kamera. “Kamera pocket aja” kataku. Terus aku diketawain. Katanya, “Mbok ya sekalian DSLR gitu mbak”. Akunya kekeh, “Nggak pak, saya kamera pocket aja cukup”. Ha ha,, ini bukan semacam minder atau apa ya.. Cuman emang saya pengennya kamera pocket. Bisa disakuin. Dan poin pentingnya, kalau gambar yang kita hasilkan atau teknik yang kita kuasai atau minat kita sama fotografi nggak gede2 amat ngapain punya kamera DSLR. Mubadzir. Pemborosan. Nanti pabriknya mengira minat akan DSLR makin tinggi, maka dia meningkatkan produksi, maka akan menyedot banyak sumber daya alam untuk membuat sebuah kamera DSLR yang lebih rumit itu. He he.. 

Beberapa waktu lalu waktu jalan2 nyari tempat yang ijo royo2 di Big City Surabaya, saya bawa kamera Canon Power Shoot A810 punya kantor. Saya pergi bersama temanku. Temanku ini mimpi banget punya DSLR. Nah, pas dia tau kamera pocket yang kubawa ini bisa menimbulkan efek blur di belakang focus di depan dan sebaliknya, di excited. Katanya “waaa,, kayak DSLR jeuung, ini berapa MegaPixel?”. “Enam belas” jawabku. Dan dia makin heboh. Katanya, dia mau beli ini aja sebelum punya DSLR.

Ini hasil jepretan temanku:

 
Jadi kamera ini spesifikasinya sbb (yg sebenernya aku juga nggak ngerti ini maksudnya apa) :
  • Ukuran (L x W x H cm)     9.47 x 6.13 x 2.98 cm
  • Berat (kg)     0.12 kg
  • Ukuran Layar (in)     2.7
  • Zoom Optik     5.0
  • Megapiksel     16.0
  • Fitur     HD Recording|Image Stabilization|Wide Angle
  • Output     Component Video|Composite Video|USB
  • USB Port     Ya
  • Resolusi Layar     230000 dot
  • Tipe Baterai     AA
  • Format Foto     JPEG, DPOF
  • Ukuran File Foto     4608x3456
  • Format Video     MOV
  • Video HD     Ya
  • Resolusi Video     1280 x 720
  • Focal Length     5-25 mm
  • Image Stabilization     Ya
  • Range Aperture Lensa     f/2.8-6.9
  • Zoom Digital     4x
  • ISO Range     100 - 1600
  • Range Shutter Speed     1 - 1/2000 detik
  • Built in Flash     Ya
  • Tipe Memory Card     SD, SDHC, SDXC
  • Tipe Layar     TFT
 Sumber: http://hargakameraa.blogspot.com/2013/04/harga-kamera-canon-powershot-a810.html

Aku kan suka mootret wajah orang. Tapi belum pernah secara serius motret wajah orang pakai kamera ini.Cuma, masih di lokasi yang sama kita poto2an hi hi..


Tapi sepertinya kualitas foto dengan kamera ini tergantung banget sama ketersediaan cahaya. Foto diatas dilakukan sore hari di spot yang entah bagaimana mendukung. Coba kita bandingkan dengan jepretan teman saya di lain waktu, di bawah tenda biru: 

Atau di luar ruangan yang spotnya biasa aja kayak gini:

Hasilnya juga bisa sebiasa ini. Atau ini bagus ya sebenernya? Entah tekniknya entah modelnya : 
 
Dia agak bermasalah jika kekurangan cahaya. Atau perlu pengaturan khusus. Ini contohnya ketika mengambil foto malam hari baik jarak jauh atau yang di fokuskan ke objek:

Kecuali jika yang difoto adalah cahaya itu sendiri atau pemotret berada di bawah cahaya:

Nah, kalo ini asli pamer hasil jepretanku:


Jadi, Pocket Camera is not too bad you know.. Setidaknya sebelum saya melihat hasil jepretan saya pakai kamera DSLR, yang akan saya ceritakan di potingan berikutnya :)
 


Jodoh pasti bertemu--Sebuah resensi buku marketing

Judul: We are All Weird—Saatnya Menjadi Orang Aneh
Penulis: Seth Godin
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: Kaifa-Entrepreneurship, PT. Mizan Pustaka
Tahun: 2011
Tebal: 104 h; 20,5 cm
Perolehan: Beli sendiri dengan harga 5 ribu rupiah di IBF Malang bersama teman2 relawan tanggal 2/12/13 :p

Menurutmu dengan sampul seperti ini, ini buku tentang apa?
Source Gambar di sini
Haa,, kupikir ini semacam buku psikologi/kepribadian kontemporer. Atau setidaknya buku lawak. And I was wrong! Tottaly Wrong! Bahkan synopsis di belakangnya pun tak mampu membantuku untuk mengetahui jenis buku apa ini. Bahkan juga gambar kurva lonceng di belakang. Kupikir, novel saja ada yang pakai teori Fisika, kenapa buku lawak tidak mungkin. He he.. Kecuali jika aku lebih jeli memperhatikan logo penerbit yang ternyata ada tambahan kata “Entrepreneurship”nya. Atau barcode belakangnya yang ada tulisan “Bisnis Manajemen”.

Buku ini ditulis oleh Seth Godin. Ia sudah menerbitkan 13 buku, blogger popular & seorang entrepreneur sukses. Buku2nya telah diterbitkan ke dalam lebih dari 35 bahasa. Ia adalah pendiri dari Squidoo.com, salah satu dari 100 situs web paling popular di AS. Godin juga kolumnis di Fast Company & Harvard Bussiness Review. Ia juga sudah pernah ribuan kali menjadi keynote speaker di berbagai perusahaan, lembaga pemerintah dan lembaga nirlaba.

Ya, jadi tentang kurva lonceng yang saya sebutkan tadi, anda tau kan? Yang bentuknya seperti bukit atau punuk unta. Itu adalah kurva distribusi normal. Apa itu normal? Normal adalah yang ada di tengah dari kurva itu. Yang paling banyak jumlahnya. Kalau ahli statistika dalam hal ini cukup serius untuk mendefinisikannya: Dalam teori probabilitas, distribusi normal (atau Gausian) adalah distribusi kontinu… Ketinggian rata2 pria dewasa di AS adalah sekitar 70 inci (175 cm), dengan standar deviasi sekitar 3 inci (7,5 cm). ini berarti bahwa kebanyakan pria (Sekitar 68%, dengan asumsi distribusi normal) memiliki ketinggian lebih atau kurang dari 3 inci dari rata2, satu standar deviasi. Jadi jika tinggi anda Antara 167,5 cm atau 182,5 cm, orang di kelas statistic akan mengatakan Anda berada dalam standar deviasi dari rata2. Di kelas Bahasa inggris, anda akan disebut normal.
Source gambar di sini

Dalam buku ini selanjutnya dijelaskan dan dipaparkan banyak contoh yang intinya mengacu pada kesimpulan bahwa: Kurva distribusi normal itu makin lebar. Atau lebih parah, ada banyak kurva dalam satu diagram. Oh ya, kalau yang normal itu adalah yang ada di tengah kurva. Nah yang ada di pinggiran itu adalah yang aneh. Jadi kalau kurvanya melebar, yang aneh itu makin banyak.

Masalahnya disini bagi para pemasar, dan produsen. Atau industry, atau pabrik yang memproduksi dan memasarkan barang secara massal. Tiba-tiba mengurangi penurunan jumlah konsumen. Pabrik sepatu, pakaian, elektronik, minuman soda bahkan penyedian jasa hotel. Disini dicontohkan banyak sekali kasus. Tapi karena kasusnya adalah barang2 produksi AS yang tidak saya mengerti, saya ambilkan contoh yang saya mengerti saja:

Kata si penulis: Teman saya Chip memiliki jaringan hotel di daerah San Fransisco. Diawali dua puluh lima tahun yang lalu, setiap hotel bersifat personal dan autentik—serta berbeda. Ketika berjalan masuk ke dalam salah satu hotel itu, Anda akan berkata, “wow, tempat ini khusus untukku”. Atau mungkin anda berkata “Apa-apaan ini?”. Detailnya pas. The Phoenix berada di lingkunhan San Fransisco yang buruk, dan bahkan bukan sebuah hotel. Melainkan motel dengan kolam renang yang dilukis tangan dan pesta sepanjang malam.

Ketika tren hotel butik berubah dan bertumbuh, beberapa pelaku bisnis hotel pasar massal (seperti Hyatt) mulai melihat-lihat dan berkata, “Baiklah, ini adalah hotel-hotel murah dengan harga relatife tinggi. Mari kita tumbangkan sebagian dan naikkan harga untuk bagian baru dari pasar massal.” Saya menuliskan ini dari meja di kamar saya di Hotel Andaz, Los Angeles, upaya Hyatt untuk menjadi aneh. Tapi hotel ini tidak aneh, setidaknya bagi saya. Masih belum pas benar.

Di kasus barang-barang produksi massal ini lebih parah. Sekarang makin banyak produsen yang bahkan mau menyediakan sepatu yang bisa didesain sendiri. Jika anda hanya punya satu kaki, Anda dapat membeli sepatu tunggal dari Nordstrom Online. Merekalah yang akan mencarikan pembeli untuk yang sebelah lagi. –Intermezo: Saya jadi ingat Budi, teman saya yang Cuma punya satu kaki. Suatu kali saya pernah bertanya, “kamu kalau beli sepatu, yang sebelahnya diapain Budi?”. Dia menjawab agak bingung,”yaa dibiarin aja mbak, kalau yang bagus tak simpen he he”

Dan kenapa ini semua terjadi? Jawabannya adalah karena seluruh penduduk dunia sekarang ini bisa terhubung, kapanpun dimanapun.
  • Memang banyak jenis orang yang menekuni hobi aneh seperti mereparasi mesin tik, sepeda klasik, koleksi kaset/VCD klasik. Tapi sebelumnya mereka sendirian. Kini mereka bisa terhubung, dua arah dan bertukar informasi tentang keanehan mereka.
  • Menjadi vegetarian atau Zoroastrian di Amerika itu aneh. Tapi tidak di India. Mendukung dan mengkampanyekan partai politik di tengah masyarakat passive itu aneh. Tapi tidak sekarang ketika Anda terhubung dengan internet.
  • Internet juga memungkinkan anda untuk mencari benda teraneh, hobi teraneh, dan apapun aneh yang lain.
Factor lain adalah kenyataan bahwa masyarakat sekarang makin kaya. Masih menurut penulis: Kaya disini bukan berarti banyak harta. Kaya adalah istilah Saya untuk seseorang yang mampu untuk membuat pilihan, yang memiliki lebih dari sumber daya yang memadai untuk bertahan hidup. Anda tidak perlu pesawat pribadi untuk menjadi kaya, tetapi anda perlu cukup waktu dan makanan dan kesehatan dan akses agar dapat berikteraksi dengan pasar untuk barang-barang dan untuk ide-ide. Seorag Swami yang saya jumpai di India adalah kaya. Bukan karena ia memiliki rumah mewah atau mobil (dia tidak memilikinya). Dia kaya karena dia bisa membuat pilihan dan dia dapat membuat dampak pada sukunya. Bukan hanya pilihan tentang apa yang akan dibeli, tetapi pilihan tentang menjalani hidup. Haaa.. Aku suka definisi ini, karena kalau begini aku masuk kriteria kaya :D

Buku ini juga berbicara dengan baik tentang pendidikan yang juga produk massa. Anak-anak disiapkan untuk menjadi SDM pekerja yang menjadi komoditi pabrik pembuat produk massa.

Yah, jadi intinya aku tertipu. Ini buku tentang entrepreneurship/marketing/manajemen bisnis. Ya, semacam itu. Tapi karena aku adalah pembaca yang tidak mudah menyerah akhirnya setelah hampir sebulan selesai juga buku ini. Dengan ketipisannya harusnya 2 hari juga selesai. Tapi kenyataan bahwa dengan ketipisannya ini pada akhirnya aku tidak bisa berhenti untuk menulis reviewnya itu aneh. Aku jadi pengen semacam menulis ulang buku ini versi Indonesia supaya lebih bisa dipahami orang banyak. Kemudian menyebarkannya.
Terus terang di Review ini banyak alur dan kerangka pikir penulis yang aku bolak-balik. Mengikuti apa yang aku pahami setelah membaca buku ini. Karena seperti biasanya buku terjemahan, buku ini susah sekali dibaca. Aku bahkan tanpa sadar membaca ulang halaman 15 misalnya, padahal seharusnya aku sudah sampai halaman 24. Karena aku lupa sudah membaca halaman itu sebelumnya. Padahal fakta buku ini valuable banget. Menurutku.

Nih ya, aku bekerja di lembaga nirlaba. Tepatnya zakat. Aku cukup tau kalau lembaga ini, juga mungkin lembaga lain yang bergerak di bidang yang sama sedang mati2an mengejar target. Macam2 strategi dilancarkan. Di sisi lain—IMHO—menurut SWOT, di bagian treat itu, bayak sekali list ancaman dari luar. Dalam hal ini pesaing. Yang dalam hal ini juga pesaingnya aneh-aneh. #SR (Sedekah Rombongan) misalnya, komunitas SeBung (Sego Bungkus), Makelar Sedekah, mereka ini ngePOP baget gila! Dan cuman lewat Twitter! Catet! Lewat Twitter! Belum lagi kasus2 dadakan kayak: Koin untuk Prita, Tasripin dll. Mereka ini nggak cetak baliho, spanduk, banner. Nggak nerbitin majalah bulanan, laporan tahunanan dll. Nggak punya banyak karyawan yang harus digaji. Tapi apakah mereka pesaing yang tidak patut untuk diperhitungkan? He he.. nggak taulah, cuman arah trend jaman sekarang memang aneh. Oh ya, ini terlepas sama yang namany Fastabiqul Khoirot lhoo yaa.. 

Intermezo lagi. Mungkin saking keliatan aku berusahanya menyelesaika buku ini, teman kosku sampai berkata “Udah nggak usah dipaksaian kalau nggak suka”. Aku bersikeras “Aku tu pantang mbak baca buku nggak selesai. Sejelek apapun!”. Dan lagi (kali ini hanya dalam hati) aku ini sedang belajar mati2an untuk melihat segala sesuatu secara positive, lebih dekat serta mencoba menikmati apa yang ada. Dan memang, baru beberapa lembar baca buku ini (walaupun tersiksa), aku mulai agak optimis untuk memulai ide usaha kemasan untuk UKM atau menjual buku-buku Rekam Medik. 

Atau yang agak sedikit lebih gila, setelah diajak ngobrol tentang “Teh” sama temanku. Coffee Shop kan banyak ya? tapi kalau Tea Shop, ada nggak sih? Bikin satu kayaknya keren deh. Wakakak.. menyediakan Teh yang diseduh ala Jepang, ala orang Jawa, ala orang sunda, ala Bapakku. Yang mungkin di campur melati, bunga krisan, kayu manis, lemon, strawberi, nangka, wakakak. 

Haaah, akhirnya, satu kesimpulan absurd yang juga nggak nyambung (biar total anehnya) adalah keyakinanku bahwa, bertemu buku itu adalah jodoh. Kenapa dia sampai ada di tangan kita. Meski sepertinya itu mustahil. Jangan ketawa! karena aku benar2 pernah mengalami hal yang lebih magis. Dari aku yang salah duga tentang buku ini. Tentang sampul, judulnya dan isinya yang nggak sinkron. Sebel? Pasti. Tapi pada akhirnya ini sudah jadi milikku. Keputusan untuk menikmati atau merutukinya ada di tanganku. Keputusan untuk aku baca habis atau tidak juga ditanganku. Pada akhirnya setelah diupayakan, aku benar-benar mendapatkan ilmu yang keren.

Everything happen with a reason right? Jadi, kenapa aku sampai membeli buku ini juga pasti ada maksudnya. Emang udah jodoh. Jodoh pasti bertemu. Ha ha.. 

Oh ya, satu lagi. Disini penulisnya ngasih tau, kalau yang disampul buku itu namanya Jeremy. Salah seorang peserta kompetisi janggut dan kumis sedunia. Dia bangga menjadi aneh, dan cukup kaya untuk memilih passionnya. –beeh, dia nggak tau aja, di Indonesia banyak yang begini :D



Minggu, 22 Desember 2013

Kesan Natural di Film 99 Cahaya di Langit Eropa

Gambar dari sini
99 Cahaya di Langit Eropa. Judul film ini pasti tidak asing terdengar di telinga pecinta buku. Ya, ini adalah versi film dari buku berjudul sama: 99 Cahaya di Langit Eropa. Saya sendiri belum sempat membaca buku ini. Namun justru karena itu, disini saya akan benar-benar hanya menulis tentang filmnya tanpa membandingkannya dengan bukunya—suatu hal yang pasti terjadi dari film yang diangkat dari buku adalah pembandingan.

Film ini berkisah tentang pengalaman Hanum Rais (Acha Septriasa) di Wina Austria, dalam rangka menemani suaminya Rangga Almahendra (Abimana) menyelesaikan studi. Disana ia mengalami kebosanan karena tidak mempunyai kegiatan. Ia habiskan waktunya dengan jalan-jalan dan mencari pekerjaan. Namun karena Bahasa Jermannya yang kurang baik, hal itu agak susah. Hingga pada suatu hari ia membaca leaflet tempat kursus Bahasa Jerman. Ia benar-benar mengikutinya. Dan disanalah ia bertemu dengan Fatma (Raline Shah). Perempuan muslim asal Turki yang juga tinggal di Wina. Dari perkenalannya ia kemudian mengenal Aisye (Gecchae), anak Fatma yang periang dan menginspirasi orang-orang di sekelilingnya. Kisah selanjutnya adalah tentang Hanum yang banyak belajar tentang Islam pada Fatma dan Aisye. Bukan mengenai tata cara, karena Hanum sendiri sesungguhnya termasuk muslim cukup taat. Tapi lebih kepada bagaimana menjadi muslim seharusnya di tengah-tengah masyarakat. Mungkin itu tidak akan terlalu penting jika kita berada sebagai anggota mayoritas. Tapi di negeri orang, dimana muslim adalah minoritas, justru identitas muslim harus dijaga. Muslim yang sejatinya penuh dengan kasih sayang, penebar kebaikan, kedamaian dan toleransi . Bagaimana menjadi agen muslim yang baik. 

Tidak hanya perjalanan Hanum yang menjadi fokus cerita di film ini. Perjalanan suaminya, Rangga Almahendra (Abimana) yang sedang kuliah di sebuah universitas di Wina juga diceritakan dengan apik. Masih tentang bagaimana seorang muslim yang minoritas menyesuaikan diri dengan lingkungan yang mayoritas bukan muslim. Bagaimana ia bersama temannya yang sepertinya digambarkan sebagai muslim Asia Selatan/Tengah yaitu Khan (Alex Abbad) melaksanakan sholat di sudut ruangan kampus dan akhirnya harus pindah karena ditegur temannya Maarja (Marissa Nassution). Mereka diberitahu bahwa sudah disediakan tempat khusus untuk ibadah, yang setelah di lihat ternyata bercampur dengan tempat ibadah agama lain yang minoritas seperti Ko ngu chu, Budha dll. Berbeda dengan temannya yang tempramen dan frontal, Rangga adalah sosok yang lebih nrimo. Rangga juga mempunyai sahabat lain yang sering bertanya bahkan protes tentang agama Rangga (Islam) yaitu Stefan (Nino Fernandez)

Latar film ini tidak hanya ada di Wina-Austria. Dikarenakan proposal riset Rangga yang bagus menurut Prof. Reinhart (dosennya) ia diberi kesempatan untuk mempresantasikannya di Paris-Perancis. Hanum berkesempatan ikut dengan suaminya. Berkat bantuan dari Fatma, ia bertemu dengan Marion (Dewi Sandra). Sejarawan muslim yang juga teman Fatma. Disini pemahaman Hanum mengenai jejak-jejak peninggalan Islam di Eropa makin jauh dan memebekaskan kekaguman.

Kesan yang langsung terasa dari film ini adalah kesan alamiah, natural. Seperti bukan film melainkan kisah perjalanan yang direkam sendiri. Ya, semuanya begitu natural. Ceritanya, pemainnya, alurnya, plotnya bahkan dramanya. Mulai dari narasi tokoh utama pembuat cerita (:Hanum Rais) di awal film yang begitu personal. Perpindahan Bahasa baik dari Inggris atau Jerman ke Indonesia dalam percakapan yang begitu halus. Kemudian diperkuat dengan para pemainnya yang juga bermain sangat natural. Saya dan teman-teman saya terus terang selalu suka adegan dimana Hanum bercakap-cakap dengan suaminya Rangga Almahendra. Cara mereka bercanda, gimmicknya, pilihan katanya, semuanya natural. Seperti sedang tidak main film. 

Seperti saat pertama Hanum menceritakan kisah pertemuannya dengan Fatma kepada suaminya dan suaminya malah berkata bahwa istrinya itu akan terlihat cantik memakai jilbab, Hanum berdiri dan bergumam “kamu ah nggak nyambung” dengan reaksi yang natural. Comtoh lain adalah percakapan antara Rangga dan salah satu temannya atau keduanya yang seringkali bertema tentang agama selalu terdengar begitu renyah dan menggelitik penuh dengan anekdot. Ini juga menambah kesan natural dari keseluruhan film. Juga saat pertama kali Hanum dan suaminya bertemu dengan Marion yang ternyata berhijab. Cara memandang suaminya yang kemudian diprotes oleh Hanum membuat penonton ikut geli melihatnya. Seperti melihat teman kita sedang bercanda dihadapan kita.

Bukan hanya Acha dan Abimana, pemain-pemain lain tak kalah bagus tentunya. Gacchea sangat bagus dan natural dalam memerankan Aisye. Dewi Sandra, Nino Fernandes, dan Marissa Nasution yang sangat Eropa. Raline Shah dan Alex Abbad yang islami. Bahkan tetangga yang memprotes bau ikan asin dan suara TV yang terlalu keras itu juga bagus. Kalau ada satu karakter dan plot yang terkesan agak dipaksakan itu justru saat Hanum bertemu dengan Fatin yang sedang Syuting video clip. Walaupun terlihat juga usaha sutradaranya untuk membuatnya senatural mungkin.

Latar dan cerita di film ini tidak hanya memanjakan mata penonton dengan pemandangan tentang Eropa yang luarbiasa, tapi juga membuka wawasan penonton mengenai sejarah dunia dan sejarah Islam. Cukup provokatif dan membuat ingin merasakan dan melihat sendiri apa yang dipaparkan di film tersebut.

Jadi, salute buat para pemainnya, penyusun skenario, dan terutama sutradaranya: Guntur Soeharjanto yang meramu semuanya begitu apik, yang terus terang baru saya ketahui debutnya di film ini. Trimakasih.

Minggu, 24 November 2013

Buku yang susah dibaca :(

Gambar dari sini
Judul: JEJAK KAFILAH - Pengaruh Radikalisme TImur Tengah di Indonesia
Penulis: Anthony Bubalo dan Greg Fealy
Penerbit: Mizan
Jumlah halaman: 202
Perolehan: Beli sendiri :)

Haaa.. ini buku sudah kubeli dan langsung mulai kubaca dari… dari kapan ya? Dari 6 sampai 8 bulan yang lalu mungkin. Tapi tak habis-habis. Aku bukan tipe orang yang bosan karena tema. Tapi karena gaya tulis. Buku ini entah kenapa kurasa diterjemahkan dengan cara yang kaku. Atau memang naskah aslinya begitu. Atau otakku yang nggak nyampe. Satu rangkaian kalimat itu bisa dipenuhi istilah yang rumit dan independen. Tapi baiklah karena tema buku ini adalah tema yang kusuka, mari kita coba kaji lagi. Dan aku memilih untuk mencoba menelusuri kerangka pikir penulis.

Latar belakang buku ini bisa dilihat dari Sub Judulnya yang bahkan tertera di halaman sampul: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia. Kalau kita mau mengikuti tahapan penulisan karya ilmiah maka kita harus menjabarkan judul tersebut dalam pengertian-pengertian. Jejak Khafilah itu lebih ke judul komersil, jadi tak usah dibahas. Judul yang eye catching. Maka kita langsung ke Sub Judul saja.

Pengaruh: adalah hubungan 2 variabel dimana varibel bebas mempengaruhi variable terikat.
Radikalisme: berasal dari kata radic (=akar) dan Isme (=paham). Jika digabung menjadi suatu paham yang mempertahankan akar sebuah keyakinan. Dalam hal buku ini yang dimaksud radikalisme adalah salah satu aliran gerakan islam garis keras. Mudahnya Islam Radikal. Itu maksdunya.
Timur Tengah: Suatu kawasan yang terkadang disamakan dengan “Arab”. Ini adalah sebutan orang Eropa kepada dunia yang ada di Timur wilayahnya tapi tidak terlalu timur. Seperti orange asia menyebut Eropa dan Amerika sebagai “Barat”.
Indonesia: Negara kita.

Jadi kurang lebih penulis ingin mendeskripsikan sejauh mana pengaruh radikalisme itu mempengaruhi Indonesia. Kalau dilihat dari sini, berarti pertanyaan yang sebelumnya seharunya muncul yaitu: apakah ada pengaruh radikalisme Timur Tengah di Indonesia? Sudah terjawab. Jawabannya: Iya, positive ada pengaruh. Maka dari itu buku ini lebih kepada menjawab pertanyaan: Sejauh mana pengaruh radikalisme Timur Tengah di Indonesia dan Apa saja Pengaruhnya, Apa saja implikasi, Bagaimana menanganinya. Ya, kira2 begitu.
Latar belakang, tujuan dan batasan masalah yang asli tertulis di Bab Pendahuluan. Kurang lebih begini skemanya:

Jejak Kafilah: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia

Pendahuluan:
  1. Benturan Ideologi
Islam adalah ideology. Bersaing dengan ideology dunia lainnya yaitu: Komunis dan Kapitalis. Islam pernah bertemu dengan komunis di Perang Afghan. Komunis pernah bertemu Kapitalis di perang dunia I dan II. Islam bertemu dengan Kapitalis adalah saat ini.
  1. Islamisme, Timur Tengah, dan Indonesia
Islamisme itu ideology islam. Atau golongan orang yang menjadikan islam sebagai ideology karena ada juga yang tidak.
Timur Tengah: Episentrum ideology islam/islamisme
Indonesia: ya, kenapa Indonesia? Karena Indonesia adalah contoh par excellence masyarakat muslim yang awalnya cenderung lembut namun kemudian mengalami radikalisasi.

Tujuan dari penulisan ini:
  1. Kontribusi intelektual untuk memperkaya perdebatan lebih luas tentang peran yang dimainkan kelompok islamis di kancah politik Indonesia kontemporer.
  2. Menguji dampak gagasan-gagasan islamisme dari Timur Tengah di Indonesia
  3. Kontribusi untuk emmahami secara lebih luas evaluasi islamisme di Timur Tengah maupun di Indonesia
  4. Menguraikan beberapa aliran Islamisme Kontemporer dan religiositas islam yang berbeda-beda dan menjawab pertanyaan menyangkut hubungan islamisme dan demokrasi
  5. Memberikan masukan bagi para penentu kebijakan dalam menanggapi fenomena isamlamis di hampir semua dimensi dari penyebaran ide-ide yang mendasari terorisme hingga peran partai-partai islamis dalam proses demokratisasi
Kurasa sudah jelas arahnya ketika melihat pendahuluan ini. Maka selanjutnya isi dari buku ini dibagi menjadi 4 bab. Dan ditutup dengan kesimpulan dan saran-saran.

Isi dari buku ini setidaknya merangkum hal-hal sbb:

Bab I: Kebangkitan, radikalisme, dan Jihad
Isinya tentang berbagai gerakan atau aliran atau organisasi atau manhaj islam di timur tengah. Siapa tokoh-tokohnya dan bagaimana ia awalnya muncul, pola gerakan, visi umum gerakan dan penyebarannya. Tapi yang dipaparkan disini adalah gerakan Arus Utama atau yang dominan. Antara lain: Wahabi, Salafiyah, Ikhwanul Muslimin. Yang dari islamisme arus utama ini kemudian memunculkan gerakan-gerakan lain lagi entah dengan mengambil sepeduhnya nilai-nilai gerakan tersebut, mengelaborasi kedua atau ketiga gerakan tersebut atau menambahkan sedikit versi yang dikembangkan. Kemudian timbul salafi tradisional yang lebih mengurusi hal-hal tentang kesalehan pribadi, salafi kontemporer yang kemudian lebih “berjuang” dengan cara-cara radikal atau teroristik, Hizbut Tahrir yang visi besarnya adalah pendirian khilafah, Al-Qaeda, IM versi Sayyid Qutb dan juga radikal Syi’ah yang dimotori Ayatullah Khomeini. Kemudian penulis mencoba mengerucutkan mana yang radikal dan yang biasa saja. Ia melihat radikalisme utamanya dipengaruhi oleh Sayyid Qutb. Kemudian gerakan radikal ini mendapatkan wadah perjuangannya terutama saat Perang Afghanistan melawan Uni Soviet. Inilah awal mula munculnya Al-Qaeda dan kelompok jihadis lain. Selain juga apa yang kemudian terjadi di Palestine sebagai perlawanan kepada Israel.

Bab II: Politik Kegagalan
Ini adalah gambaran bagaimana gerakan-gerakan tersebut bergerak di negaranya masing-masing. Keberhasilan dan lebih banyak lagi kegagalan mereka. Dalam hal ini bahkan untuk menegakkan visinya di negaranya sendiri. Perjuangan melawan pemerintahan yang bersifat represif bahkan penghapusan gerakan tersebut oleh rezim yang berkuasa. Kemudian bagaimana gerakan-gerakan tersebut pada akhirnya meninjau ulang pola gerakan mereka. Antara lain kearah penyesuaian ide-ide Negara seperti demokrasi dalam nilai-nilai islam, penyelenggaraan Negara dan lain-lain. Namun ada pula yang kemudian mengganti pola perjuangan bukan untuk melawan pemerintah negaranya sendiri melainkan melawan Barat dalam hal ini lebih khusus pada Amerika. Lagi-lagi mengerucut pada geraka Al-Qaeda dan salafisme-jihadis. Yang menjadi bukti nyata adalah peristiwa 11 September di Amerika.

Bab III: Dari Timur Tengah ke Indonesia
Di bab ini, dipaparkan vector-vektor yang menyebabkan islamisme masuk ke Indonesia dan gerakan apa saja yang diimpor ke Indonesia. Transmisi islam ke Indonesia utamanya melalui antara lain:
  • Geraka-gerakan social
Yaitu hubungan yang secara alamiah timbul dari aktivitas social. Mulai dari perdagangan, belajar ke negara2 di timur tengah, bantuan-bantuan Negara-negara Timur Tengah kepada Indonesia melalui pemerintahan atau nonpemerintah (LSM), juga pengiriman mujahid2 dari Indonesia saat perang Afghan.
  • Pendidikan dan Dakwah
Bisa dari pelajar Indonesia yang belajar di Timur Tengah atau pendirian lembaga pendidikan oleh Timur Tengah di Indonesia, atau dosen-dosen Timur Tengah yang mengajar di Indonesia. Untuk yang pertama contohnya seperti Al-Azhar. Banyak pelajar Indonesia yang melanjutkan studi ke Universitas di Mesir itu. Untuk yang kedua contohnya seperti LIPIA. Untuk saluran ini, ide-ide yang tertransmisi adalah salafi-wahabi dan Ikhwanul Muslimin (yang sayangnya justru tidak diduga)
  • Publikasi dan Internet
Akses terhadap informasi yang makin mudah memungkinkan apa yang disebut dalam buku ini sebagai “umat virtual”. Dimana siapapun bisa mengakses informasi mengenai ide-ide gerakan tersebut dan kemudia menyebarluaskannya.

Bab IV: Setiap Benih yang Kau Tanam di Indonesia Pastilah Tumbuh
Bab ini membahas gerakan apa yang tumbuh subut di Indonesia. Yaitu antara lain:
  1. Ikhwanul Muslimin
Muncul sejak penghujung tahun 1970-an dan awal 1980-an. Lebih dikenal sebagai gerakan Tarbiyah. Di kampus gerakan ini mendapat respon massif. Tercatat turut serta menggulingkan pemerintahan Orde Baru melalui KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), dan mendirikan Partai Keadilan di Pemilu pertama pasca Orde Baru yang kemudian berubah menjadi PKS untuk memenuhi electoral threshold. Partai ini bertahan hingga sekarang
  1. Kelompok Salafi
Diwujudkan dalam institusi-institusi pendidikan seperti Yayasan Al-Sofwah, Yayasan Ihsa At-Turots, dan Al-Haramain Al-Khairiyah. Jumlah pengikutnya tidak terlalu banyak, tapi bukan berarti tak berpengaruh. Gerakan salafi yang tebesar dalam sejarah terakhir adalah Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jama’ah (FKAWJ) dan kekuatan paramiliternya Laskar Jihad.
  1. Kelompok Jihadi
Yang paling menonjol adalah Jama’ah Islamiyah. Dan kelompok asli local yaitu Darul Islam.

Untuk kesimpulan secara umum penulis menjelaskan bahwa islamisme baik yang ada di Timur Tengah maupun yang pada akhirnya bertransmisi di Indonesia tidaklah Monolitik. Visinya macam-macam dan mereka seringkali berseberangan. Gerakan-gerakan yang ada di Indonesia adalah gerakan yang khas Indonesia. Meski dipengaruhi dari TImur Tengah namun gerakan Indonesia mengalami "penyesuaian". Termasuk juga di dalamnya motiv-motiv lokal. Oleh karena keberagamannya harapannya para pengamat atau peneliti lebih teliti dalam memilah jenis gerakan. Perlu juga diperhatikan penamaan suatu pola gerakan yang dapat menyinggung pihak yang dimaksudkan. Saran yang lain adalah agar lebih sering menyelenggarakan diskusi-diskusi lintas agama yang melibatkan gerakan ini.


The -Must Read- Book: Dari Puncak Baghdad-Sejarah Dunia Versi Islam

Gambar dari sini
Judul: Dari Puncak Baghdad – Sejarah Dunia Versi Islam
Penulis: Tamim Anshari
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit Indonesia: Zaman
Tahun terbit Indonesia: 2012
Perolehan: Pinjem Esti. Esti pinjem “calonnya” ha ha..

Judul asli: Destiny Disrupted: A History of the World through Islamic Eyes
Penerbit Asli: Public Affairs
Tahun terbis asli: 2009

Apa ya?
Buku ini, emejing! Dan Asik!
Kalian tau kan sejarah dunia versi buku sekolahan? Tentang babilonia, yunani kuno, bizantium, konstantinopel, Roma, Zaman kegelapan Eropa, ekspedisi-ekspedisi maritime, penemuan benua Amerika, revolusi industry, munculnya Kristen protestan. Yah begitulah. Disisi lain di pelajaran agama atau di madrasah atau TPA sore hari, ustad bercerita atau memberi pelajaran tentang Tarikh Islam. Sejarah Nabi-nabi. Dan yang paling gamblang Nabi Muhammad. Nah, pernahkah anda terusik dengan pertanyaan. Waktu Nabi lahir itu Roma lagi ngapain ya? Kan Agama Kristen sudah menyebar tu dan jadi agama mayoritas disana. Trus katanya Nabi itu pernah mengirimi surat kaisar Roma ngajak masuk islam. Memang sejauh apa hubungan mereka? Bagaimana pada akhirnya konstantinopel pusat kerajaan kriten Eropa TImur jadi Turki dan jadi Negara muslim? Kenapa Timur (Dunia Islam) dan Barat (Eropa dan Amerika) itu kayak dua dunia yang berbeda? Apakah mereka tidak pernah saling bersentuhan? Lalu, pertanyaan paling penting: Sejarah Umat Islam yang kita pelajari di madrasah atau TPA yang begitu waow itu kenapa sedikit sekali dibahas di buku sejarah sekolah? Paling Cuma pas perang salib atau penakhlukan konstantinopel. Tidak lebih. 

Nah, jawabannya ada di buku ini. Maksudnya, kalau kita biasa memahami sejarah dunia di sekolah yang sumbernya banyak dari Barat. Maka ini adalah buku sejarah dunia tapi dari kacamata Dunia Islam.
Baiklah, pengantarku itu kurang menarik dan meyakinkan sepertinya. Maka saya kutipkan saja pengantar penulis aslinya yang ada di buku ini (yang dalam kasusku, membaca pengantarnya saja saya sudah tau kalau buku ini asik):

Sejarah dunia selalu merupakan cerita tentang bagaimana “kita” sampai di sini sekarang, sehinggan bentuk narasi secara mendasar bergantung pada siapa yang kita maksud dengan “kami” dan apa yang kita maksud dengan “di sini dan sekarang”. Sejarah dunia Barat tradisional mengandaikan bahwa di sini dan sekarang adalah peradaban industrial (dan pascaindustrial) demokratis. Di Amerika Serikat anggapan lebih lanjut menyatakan bahwa sejarah dunia mengarah pada kelahiran cita-cita pendirinya tentang kebebasan dan kesetaraan serta akibatnya pada kebangkitan sebagai sebuah adidaya yang memimpin planet menuju ke masa depan. Premis ini menetapkan arah bagi sejarah dan menempatkan titik akhir di suatu tempat di ujung jalan yang sedang kita tempuh sekarang. Itu membuat kita rentan terhadap dugaan bahwa semua orang sedang bergerak dalam arah yang sama, meskipun sebagiannya belum begitu jauh melangkah –entah karena mereka mulai terlambat, atau karena mereka bergerak lebih lambat—yang karena itulah kita menyebut Negara-negara mereka “Negara berkembang” (haa.. haaaa asik kan?)
Ketika masa depan ideal yang dibayangkan oleh masyarakat pascaindustrial demokratis Barat yang diambil sebagai titik akhir sejarah, bentuk narasi yang menuju ke di-sini-dan-sekarang mencakup tahapan-tahapan sebagai berikut:
  1. Kelahiran peradaban (Mesir dan Mesopotamia)
  2. Zaman klasik (Yunani dan Roma)
  3. Zaman kegelapan (kebangkitan Kristen)
  4. Kelahiran kembali: Renaisans dan Reformasi
  5. Pencerahan (penjelajahan dan ilmu pengetahuan)
  6. Revolusi (Demokrasi, Industri dan Teknologi)
  7. Bangkitnya Negara-Bangsa: Perjuangan demi Kerajaan
  8. Perang Dunia I dan II
  9. Perang Dingin
  10. Kemenangan Kapitalisme Demokratik
Tapi bagaimana kalau kita melihat sejarah dunia versi Islam? Apakah kita cenderung menganggap diri kita sebagai versi kerdil Barat, berkembang menuju titik akhir yang sama, tetapi secara kurang efektif? Saya kira tidak. Salah satu alasannya, kita melihat batas berbeda yang membagi tentang waktu menjadi “sebelum” dan “sesudah”: tahun nol bagi kita adalah tahun Nabi Muhammad bermigrasi dari Makkah ke Madinah, Hijrahnya, yang melahirkan masyarakat muslim. Bagi kami, komunitas ini mewujudkan arti dari “beradab”, dan menyempurnakan cita-cita ini akan terlihat seperti dorongan yang telah memberi bentuk dan arah sejarah.
Tetapi pada beberapa abad terakhir, kita akan merasa ada sesuatu yang kacau dengan arus itu. Kita akan tahu masyarakat itu telah berhenti berkembang, telah semakin bingung, mendapati dirinya dirasuki oleh arus berlawanan yang bergejolak, arah sejarah yang bersaing. Sebagai ahli waris tradisi muslim, kita akan dipaksa untuk mencari makna sejarah dalam kekalahan, bukan kemenagan. Kita akan merasakan konflik antara dua dorongan: mengubah pemahaman kita mengenai “beradab” agar sejajar dengan arus sejarah atau melawan arus sejarah untuk menyelaraskannya dengan pemahaman kita mengenai “beradab”.
Jika masa kini yang terhambat sebagaimana dialami masyarakat Islam itu yang akan diambil sebagai di-sini-dan-sekarang yang harus dijelaskan oleh narasi sejarah dunia, maka ceritanya barangkali akan terbagi ke dalam tahapan-tahapan sebagai berikut:
  1. Zaman Kuno: Mesopotamia dan Persia
  2. Kelahiran Islam
  3. Kekahlifahan: Pencarian Persatuan Universal
  4. Perpecahan: Zaman Kesultanan
  5. Bencana: Tentara Salib dan Mongol
  6. Kelahiran kembali: Era Tiga Kekaisaran
  7. Perembesan Timur oleh Barat
  8. Kemenangan Modernis Sekuler
  9. Reaksi Islamis
Nah, gitu. Kebayang ya, asiknya buku ini? Yang menjadi kabar bahagianya lagi si penulis itu mengibaratkan ia mengisahkan sejarah ini seperti misalnya kita bertemu dengannya di warung kopi kemudian bertanya “Apa sih sejarah dunia pararel itu?”. Begitu! Jadi tidak ada penanggalan yang rumit disini. Juga penyebutan garis keturunan suatu tokoh dalam sejarah Islam.
Maka, buku ini terdiri dari beberapa Bab sebagai berikut:
  1. Dunia Tengah
  2. Hijrah
  3. Kelahiran Kekhalifahan
  4. Perpecahan
  5. Kerajaan Bani Ummayah
  6. Zaman Abasiyyah
  7. Ulama, Filsuf, dan Sufi
  8. Masuklah orang Turki
  9. Malapetaka
  10. Kelahiran Kembali
  11. Sementara itu di Eropa
  12. Barat mendatangi Timur
  13. Gerakan Reformasi
  14. Industri, Konstitusi, dan Nasionalisme
  15. Munculnya Sekuler Modernis
  16. Krisis Modernitas
  17. Arus Balik
Buku ini layaknya novel yang kita tidak akan bisa berhenti membacanya sebelum selesai. Juga tidak akan membolak-balik halaman sebelumnya karena lupa rentetan ceritanya. Kita juga akan mempunyai gambaran yang cukup gamblang tentang pertanyaan “Kenapa?” yang sering menggelayut ketika melihat fenomena tentang Islam saat ini, tentang kapitalisme, tentang system ekonomi yang berkuasa, tentang demokrasi, tentang konflik antar Negara, tentang kekuasaan adidaya dll yang mungkin perlu belajar sejarah sampai S3 jika kita tidak bertemu dengan buku ini.

Jika ada kekurangan dalam buku ini adalah perasaan seperti.. “tabu” ketika sang penulis menggambarkan tentang islam. Seperti ini contohnya:
"Di antara banyak kuil di Makkah ada bangunan berbentuk kubus dengan sebuah batu yang dimuliakan di pojoknya, sebuah batu hitap mengkilap yang jatuh dari langit pada zaman dahulu kala –sebuah meteor, mungkin. Kuil itu disebut Ka’bah, dan dongen suku-suku mengatakan bahwa Ibrahim sendirilah yang membangungunnya, dengan bantuan putranya Ismail. Dst…"

Bagi kita yang biasa membaca sejarah Islam dari kitab-kitab tarikh atau Siroh, membaca ini rasanya pengen marah-marah karena penggunaan bahasanya. Tapi kemudian pikirkanlah bahwa buku ini terbit dan diedarkan di Amerika. Maka kita akan sedikit maklum. Terlepas itu, mungkin sang penulis dianggap sebagai orientalis yang oriental he he..

Nah, membaca buku ini atau resensi saya, mungkin timbul pertanyaan: “Memang penulisnya tu siapa sih?”. Maka, berikut saya kutipkan profil penulis yang ada di halaman belakang buku ini:

Tamim Anshari adalah sejarawan dunia, penulis memoir West of Kabul, East of New York. Dan penulis pendamping korban ranjau darat Afganistan Farah Ahmadi buku terlaris New York Times, The Other Side of the Sky. Dia telah memberikan kontribusi besar pada beberapa buku pelajaran sejarah sekolah menengah di Negara-negara Barat. Dia menulis kolom bulanan untuk Encarta.com dan telah menerbitkan esai dan komentar di San Fransisco Chronicle, Salon, Alternet, TomPaine.com, Edutopia, Parade, L.A. Times, dan di tempat lain. Direktur San Fransisco Writers Workshop ini sekarang tinggal di San Fransisco.

Dari pendahuluannya juga diketahui bahwa dia dibesarkan di Afghanistan muslim. Katanya lebih lanjut: 

Bukan saja saya dibesarkan di sebuah Negara Islam, tapi saya juga dilahirkan dalam sebuah keluarga yang pernah memiliki status social yang tinggi di Afghanistan berdasarkan sepenuhnya reputasi keshalehan dan pembelajaran agama kami. Nama belakang kami mengindikasikan bahwa kami adalah keturunan Ansar “penolong”, orang-orang Madinah pertama yang menganur Islam dan membantu Nabi Muhammad melarikan diri dari pembunuhan di Makkah dan dengan demikian memastikan kelangsungan hidup misinya.

Yang paling terakhir, kakek dari buyut saya adalah seorang mistikus muslim local terhormat yang makamnya menjadi tempat suci bagi ratusan pengikutnya sampai hari ini, dan warisannya berlanjut hingga ke masa hidup Ayah saya, menanamkan dalam marga kami rasa kewajiban untuk mengetahui hal-hal ini dengan lebih baik daripada rata-rata orang. Saya terbiasa mendengar anekdot muslim, komentar, dan spekulasi di lingkungan saya dan sebagiannya meresap dalam, meskipun temperamen saya sendiri entah bagaimana perpaling secara tegas kea rah sekuler. Setelah saya pindah ke Amerika serikat, saya lebih tertarik dengan Islam daripada yang pernah saya alami selama hidup di dunia muslim. Minat saya bertambah ketika adik saya memeluk islam “fundamentalis”. Saya mulai menyelidiki filsafat islam blab la bla..

Jadi buku ini is very very recomemded!

Senin, 18 November 2013

TKVDW: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Gambar dari sini

Judul: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Pengarang: HAMKA
Penerbit: Bulan Bintang
Tahun terbit: 2005 di cetakan ke 29
Jumlah halaman: 236 (21 cm)
Perolehan: Pinjem Esteh

Ini novel sastra jadul. Orang kadang menyebutnya Roman. Harusnya, aku sudah baca buku ini dari dulu. Tapi nyatanya memang baru ketemu sekarang. Aku tidak tau apakah karangan fiksi pada saat itu menggunakan bahasa seperti di buku ini atau tidak. Aku tidak tau, sebuah novel disebuat dimasukkan ke golongan buku sastra itu yang seperti apa. Atau roman. Aku tidak tau. Tapi memang tata bahasa yang dipakai di novel ini berbeda. Novel dari pengarang angkatan lama yang pernah say abaca selain ini adalah: Para Priyayi, Umar Kayam dan Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer. Keduanya bahasanya tidak seperti ini. Apa karena latar dan setting novel yang ada di ranah melayu minangkabau. Atau apakah ini memang gaya bahasa HAMKA? Aku tidak tau, karena baru satu inilah karya HAMKA yang pernah saya baca. Tapi intinya, gaya bahasa novel ini beda.

Kalau tentang muatan cerita, yaaa kisah cinta. Harusnya, dengan kisah seperti ini dan dengan masa terbit kisah ini pertama kali yakni tahun 1908, kisah ini bisa jadi roman cinta fenomenal. Romeo n Julietnya Indonesia. Atau Layla Majnunnya Indonesia. 

Mungkin, novel ini akan punya kekuatan seperti Romeo n Juliet atau Layla Majnun atau ohya! Sampek Ingtay jika judul novel ini adalah Zainudin Hayati.
*mbayangin buya HAMKA baca tulisan ini terus nyariin aku buat mentung kepalaku dan bilang: “Anak muda, kau tau apa?” haaaa. Tapi asli. Mendengar judulnya untuk pertama kalinya ditambah pengetahuan akan pengarangnya yang berasal dari tahun sebelum kemerdekaan, terpikirnya ini adalah buku yang bercerita tentang perjoeangan melawan pendjadjahan. Yang mungkin ada kisah tjintanya. Tapi tema besarnya adalah itu. Bukan soal budaya dan ras.  

Pesannya sampai kurasa. Di zaman itu, terbit tulisan seperti ini pastilah sangat cetar. Menggerakkan pemikiran. Menimbulkan kritik social. Menyadarkan beberapa orang akan ketimpangan karena adat budaya. Sangat pantas jika karya ini tak lekang. Karena bahkan hingga detik ini sekalipun isu ini masih sangat bisa dibahas dan diulas.

Ya. jadi buku ini isinya totally kisah cinta boiiii. Kisah cinta tak sampai. Karena adat yang kolot. Zainuddin, anak orang terbuang. Bapaknya minang yang matrilineal dan ibunya bugis yang patrilineal seperti kebanyakan penduduk dunia. Maka, ketika kedua orangtuanya meninggal. Dia bukan orang bugis dan bukan orang minang. Tak ada garis adatnya. Menjejakkan kaki di minang, tanah impiannya sejak kecil berkat dodoaian Ayahnya, ia harus menanggung kecewa karena kenyataan tersebut diatas. Beruntung ia orang yang berbudi baik. Jadi ia cukup disenangi oleh masyarakat minang walau tak sampai menganggap saudara. Hidup tak bersanak keluarga disana ia kesepian. Bertemulah ia dengan Hayati. Gadis minang kembang desanya. Bertemu kali pertama di pondok milik oranglain saat berteduh dari hujan. Terbitlah cinta itu. Cinta yang bagi zainuddin bak gelandangan menemukan sandaran dan bagi hayati cinta yang penuh empati belas kasihan.
Namun mereka tak bisa bersatu karena adat. Karena zainuddin tak berbako. Sebab bimbang pula hati hayati karena pemahaman dari teman-teman dan mamaknya tentang hal itu. Maka hayati lebih memilih orang lain yang lebih aman.

Kesedihan tak terperi melanda zainuddin. Tak lama berselang dari orang tua angkatnya yang juga meninggal ia harus menerima kenyataan ditinggalkan oleh hayati. Satu-satunya sandaran hidupnya. Tapi Allah masih berbaik hati. Menguatkan raganya. Juga jiwanya melalui orang-orang yang masih peduli dengannya.
Singkat cerita merantaulah ia ketanah jawa. Berbekal bakatnya dalam menulis dan pendidikan yang pernah ia tempuh di minang, ia menjadi penulis ternama. Dari Jakarta pindah ke Surabaya, nasib baik masih menaunginya. Di Surabaya juga akhirnya ia bertemu lagi dengan Hayati dan suaminya. Oleh karena beberapa sebab yang timbul lagi dari masa lalu, pernikah hayati dan aziz berakhir perceraian. Hayati diserahkan oleh aziz kepada zainuddin. Yang diserahi menolak. Dendam di hatinya terlalu besar. Hayati dipulangkannya ke minang naik kapal Van Der Wijck dari pelabuhan SOerabadja. Dalam pada itu, tenggelamlah kapalnya.
Di akhir cerita, hayati masih sempat bertemu zainuddin yang memag mencarinya setelah tau kabar itu. Mereka kembali. Zainuddin kembali menerima hayati, begitupun sebaliknya. Namun, taka da penyatuan raga. Hayati meninggal setelah dituntun membaca syahadat oleh zainuddin.
Haaa aku ketularan gaya bahasanya.

Ada kutipan yang aku senangi di dalam surat-surat zainuddin pada hayati:
"Bagaimanakah maka hati saya berkata begitu? Itu pun saya tak tau. Lantaran tak tahu sebabnya itu, timbul kepercayaan kepada kuasa gaib yang lebih dari kuasa manusia, kuasa gaib itulah yang menitahkan…"
Yah demikianlah kisah cinta ini berakhir. Sejak dulu beginilah cinta. He heee…

Oya, seorang teman yang asli Lamongan suatu kali bercerita kalau novel ini akan di filmkan. Dan dalam rangka membuat film itu, sang sutradara mencari sumber kebenaran cerita dari penduduk setempat. Kakek temanku itu adalah salah satu sumber yang dapat dimintai keterangan. Melalui anaknya (Ayah temanku) didapatkan cerita bahwa orangtuanya dulu ikut membantu mengevakuasi korban saat Kapal ini tenggelam di suatu malam menjelang subuh. Dan atas bantuannya itu kakek temanku itu mendapat hadiah perahu dari Belanda.

Kita tunggu saja ya filmnya.. semoga sebagus novelnya :)

Tutorial: Membuat laporan keuangan sederhana :)


Ha ha... kecemplung di dunia beginian ni ya sesuatu banget. Seorang Noor Hidayati jadi semacam administrasi keuangan di yayasan resmi! What a magic.. he he.. Kalau jadi bendahara ecek-ecek sih sering. Tapi ini? Harus bikin laporan tiap hari, akhir bulan menyusun semua bukti-bukti transaksi dll. Tadinya frustasi tingkat akut. Dan agak menggerundel. Tapi kalau dilihat sisi positifnya banyak banget. Jadi lebih teratur, rapih, juga disiplin. Dan akhirnya juga bisa sedikit sharing tentang membuat laporan keuangan sederhana. Terutama buat yang suka kerja proyekan dan disuruh bikin laporan keuangan. Ini penting bangetttt.. Kenapa pada akhirnya ku sharingin, karena memang ada beberapa temen yang benar-benar minta petunjuk soal ini ke aku. Ha ha.. magic ya.. cekidot...

Pentingnya kerapihan dan ketepatan dalam penyusunan laporan keuangan:
  1. Agar laporan keuangan mudah dipahami oleh pihak yang berkepentingan
  2. Laporan keuangan adalah hal yang rawan dan sensitive. Kesalahan sekecil apapun dapat menimbulkan masalah besar. Dan ini harus diminimalisir, baik oleh implementator maupun administrator.
  3. Kontroling jarak jauh menuntut keakuratan dan ketepatan tingkat tinggi, mengingat koreksi tidak dapat dilakukan secara langsung.
  4. Mempercepat proses implementasi project. Jika laporan keuangan tersendat karena kurang tepat maka proses pencairan dana selanjutnya pun akan terhambat. Dan pasti akan menghambat proses implementasi project.
Berikut langkah-langkah penyusunan laporan keuangan.
  1. Kumpulkan semua bukti - bukti transaksi yang akan dilaporkan
  1. Kelompokkan bukti – bukti transaksi menurut pos pendanaan.
Misal: di Project Penghijauan Kampung
  1. Peralatan
  2. Pertemuan Masyarakat
  3. Tanaman
  4. Operasional
Setelah itu kelompokkan lagi berdasarkan jenis transaksi yang sama. Misal: Pada pos dana operasional pisahkann nota Bensin, Pulsa, ATK dst

  1. Urutkan bukti – bukti transaksi yang sudah dikelompokkan berdasarkan tanggal transaksi.
Misal pada bukti pembelian bensin berikut ini: Tanggal yang paling awal diletakkan di paling belakang.
  1. Masukkan deskripsi pada bukti transaksi ke Laporan Realisasi Keuangan yang sudah tersedia. Memasukkannya berdasarkan urutan Pos Dana. Setelah itu isi kolom “No. Nota” dengan angka 1 dan seterusnya. Seperti yang dilihat dibawah ini, tabel terdiri dari 8 kolom sbb:
    1. No
    2. Tanggal
    3. Uraian
    4. Anggaran
    5. Realisasi
    6. Saldo
    7. Pos Dana
    8. Nomer Nota


    Ingat!! Meskipun di dalam satu bukti transaksi ada banyak rincian barang yang dibeli, cukup ditulis satu kali saja. Misal:

    Tidak perlu ditulis
    No Tanggal Uraian Anggaran Realisasi
    1. 16 Juli 2013 Iris

    50.000
    2.
    16 Juli 2013 Poring
    50.000
    3.
    16 Juli 2013 Sambung darah
    50.000




    Tapi cukup ditulis
    No Tanggal Uraian Anggaran Realisasi
    1. 16 Juli 2013 Iris, Poring, Sambung darah dll

    360.000



















    Sebaliknya, meskipun barang yang dibeli sama tapi bukti transaksinya ada 10, tetap harus ditulis 10 kali. Misal: Bensin yang dibeli 20 kali, tetap ditulis 20 kali, like this:


  2. Susun atau tumpuk bukti transaksi yang sudah di input kan ke laporan. Dari bukti yang pertama diiput sampai bukti terakhir. Jepit dengan penjepit kertas. Jangan di strapless/ Hackter karena akan di bongkar lagi 
  3. Berilah penomoran pada bukti transaksi sesuai dengan nomor yang ada di kolom “NO. Nota” pada Laporan Realisasi Keuangan. Penomoran di tulis kecil saja dengan pensil di pojok kanan atas. 



Nah, jika semua tahapan ini dilaksanakan dengan baik insyaAllah Laporan Realisasi keuangan lebih rapih dan benar. Laporan Realisasi Keuangan yang dilaporkan akan sama dengan bukti transaksi yang ada. Jika ada Laporan Realisasi Keuangan yang tidak ada Bukti transaksinya maka transaksi tidak akan diakui atau tidak di ACC. Sebaliknya, jika ada bukti transaksi yang tidak tercatat di Laporan, maka pihak keuangan akan mengkroscek kepada pelaksana.
Demikian Tutorial ini saya buat, dengan harapan bisa menjadi membantu he he...

Foto-foto koleksi pribadi :D

Tutorial. Cara membuat “BaKuSe”: Bakso Kuah Sederhana


Jeng jeng,, haaa jinja! I miss this blog sooo much. I miss to share some absurd things for you all. Mwe he he… Nah, kali ini saya akan berbagi cara membuat bakso yang very very simply. 

Jadi kalo kamu di suatu senja yang gerimis laper dan pengen makan bakso. Tapi dalam waktu itu juga malas tingkat dewa mau keluwar. Mau makan mi instan kok ya udah bosen. Cobalah buat menu sederhana ini.

Syaratnya, sebelum tiba waktunya males itu, kamu udah punya stok beberapa bahan di bawah ini:
  1. Mie instan/ Mie kuning biasa boleh
  2. Bakso
  3. Sawi Hijau/Kol/Sawi Putih atau berbagai macam sayuran hijau yang saat itu kamu temui di kulkas kepepetnya juga boleh deh..
  4. Seledri (Kalau ada)
  5. Bawang putih
  6. Bawang merah
  7. Merica bubuk (yang masih bulet berarti gimana caranya dibikin bubuk)
  8. Garam
  9. Gula
Then,, ikuti langkah-langkah memasak yang nggak sampe 10 menit ini:
  1. Rebus air kira-kira 500ml










  2. Kalau kamu punya panci satu lagi dan kompornya dua tungku, berarti rebus air juga di tungku satunya. Yang ini airnya terserah. Mau segentong juga boleh kalau pancinya muat. Atau, kamu nggak punya panci? Emm pake wajan juga boleh.
  3. Sambil nunggu air rebusannya menguap, kupas bawang merah dan bawang putih. Bersihkan sayur dan seledri dan cucilah mereka semua.
  4. Jika rebusan air yang 500ml sudah menguap, masukkan bakso kedalamnya.










  5. Bawang putih di keprek (dipukul pakai pisau yang posisinya ditidurkan) kemudian cincang halus. 










    Masukkan kedalam rebusan bakso. Masukkan juga merica bubuk, garam secukupnya dan gula sedikiiiiit aja.
    Merica buatan Rudi Chairudin he he











  6. Dalam perhitungan waktu seperti diatas, kalau anda memakai 2 panci tadi maka panci satunya juga pasti sudah mendidih. Jika iya, masukkan mie kuning atau mi instan ke dalamnya.










  7. Sambil menunggu keduanya matang, irislah bawang merah.










  8. Tiriskan mie kuning atau mie instan yang direbus. Ganti dengan wajan yang diberi minyak sedikit saja.
  9. Goreng bawang merah di wajan tersebut.
  10. Cicipilah kuah bakso yang tadi sudah anda buat. Jika rasanya aneh, saatnya mengeluarkan senjata rahasi: bumbu mie instan! (ingat sedikit saja) he hee.. atau anda bisa menambah garam+gula.
  11. Terakhir, potong-potong sayur sawi dan juga seledri.










  12. Bakso siap di racik dan dihidangkaaaaaan,, tadaaaa…


    Cuku demikian resep sederhana dari saya, yang sebenernya nyontek kakak. Selamat menikmati.



Sabtu, 31 Agustus 2013

Samitha membuatku pengen ke Mojokerto

Judul: Samitha
Pengarang: Tasaro GK
Penerbit: DAR! Mizan
Tahun terbit: 2008
Tebal: Lupa
Perolehan: Beli sendiri dung.

Baca novel berlatar sejarah itu selalu menimbulkan pertanyaan: Is that real? Kan sejarahnya sungguhan ada, tapi detail cerita seperti di novel tetap fiktif kan? Ha ha rancu. Setidaknya itulah yang kurasa ketika dulu membaca novel Taj Mahal dan novel Samitha ini. Novel kedua yang kusebut tak begitu terkenal. Ya setidaknya tak seterkenal Kinanthi yang ditulis oleh penulis yang sama: Tasaro GK.

Well, novel ini bercerita tentang Hui Sing alias Samitha yang dikisahkan sebagai murid perempuan laksamana Cheng Ho. Tau dong Laksmana Cheng Ho? Bahariawan yang beberapa kali mengunjungi Nusantari. Dimasa Majapahit berkuasa. Nah si Hui Sing ini ikut dalam ekpedisi gurunya ke tanah Jawa.

Singkat cerita dalam interaksi Hui Sing dengan orang-orang baru yang ia temui di bumi Majapahit. Ia berteman dan bersahabat dengan beberapa orang, bahkan jatuh hati. Orang-orang yang berinteraksi dengannya ini jugalah yang kemudian melibatkan Samitha dalam beberapa konflik.

Persahabatan dengan Ramya, anak Ki Legowo, Lurah Simongan yang juga mantan pejabat Bhayangkari Majapahit, berakhir pada cerita Ramya yang berubah menjadi siluman. Ia begitu karena perjuangan menuntut balas atas kematian Ayahnya oleh pasukan Majapahit dan terenggutnya kehormatannya sebagai seorang perempuan oleh salah satu wali Majapahit di suatu wilayah.

Di kerajaan Majapahit, Samitha berteman dengan Dewi Anindita. Perempuan yang digambarkan sangat halus dan mempunyai budi pekerti sangat tinggi layaknya Putri Ningrat. Ia juga bertemu Sad Respati ketua pasukan Bhayangkari Majapahit. Ketiganya terlibat cinta segitiga. Sad Respati dan Samitha saling menyukai ketika mereka berkenalan. Hanya saja saat tinggal hitungan hari Sad Respati harus menikahi Dewi Anindita. Cinta Samitha dan Sad Respati tak dapat bersatu karenanya. Meski pada akhirnya setelah melalui perjalanan yang panjang dan bertubi-tubi Respati dan Samitha bersatu dalam pernikahan dan mempunya anak bernama Soma.

Oya, Samitha juga punya 2 teman seperguruan yang ditengah cerita juga berkonflik dengannya. Diceritakan diantara Juen Sui dan Sien Feng, sala satunya dicurigai mencuri kitab Kutub Beku jurus andalan Laksamana Cheng Ho. Konflik ini berakhir dengan kematian Sien Feng, yang ternyata selain mencuri kitab juga bersekongkol dengan Dewi Anindita dalam aksi pembunuhan salah satu pejabat Majapahit. Bahkan bernafsu ingin membunuh Cheng Ho, gurunya sendiri.

Samitha juga diceritakan berhubungan baik dengan gerombolan pemberontak dari Blambangan. Saat ia bekerja di Rumah Makan yang menjadi kedok gerombolan itu.

Banyak sosok-sosok lain dalam cerita ini. Pada akhirnya cerita ini sempat Happy Ending dengan kebersamaan Samitha dan Respati. Tapi kemudian ada salah paham lagi yang terjadi antara padepokan yang didirikan Respati dengan pasukan Majapahit yang menimbulkan pertumpahan darah. Sedangkan anak Samitha yang baru saja lahir dicuri oleh Dewi Anindita, mantan istri Respati yang ternyata masih menyimpan dendam. Pencurian dilakukan saat Samitha sedang membantu suaminya melawan pasukan Majapahit.

Cerita berakhir dengan Samitha yang berhasil mempermalukan Raja Majapahit dalam aksi penuntutan balas atas kematian suaminya, tanpa membunuhnya. Samitha berjanji akan menghabiskan usianya untuk mencari anaknya.

Begitulah. Pada akhirnya... agak ngambang.

Hemm, membaca novel ini membuat saya ingin mencari tau falsafah-falsafah Jawa. Meski ini cerita orang China perantauan, tapi latar belakangnya yang budaya Jawa kuno sangat bagus disampaikan oleh penulisnya. Ia memperkenalkan banyak falsafah dan budaya jawa dalam latar dan percakapan antar tokoh. Nilai historical novel ini juga sangat kental, meski, sekali lagi, jadi susah membedakan mana fakta Sejarah, mana fiksi.

Trus aku juga jadi pengen pergi ke Mojokerto, untuk melihat kerajaan Majapahit langsung :) i will.

*tulisan nggak diedit karena keburu-buru. harap maklum :D

Minggu, 09 Juni 2013

Nasi goreng magelangan dari nasi sisa



Udah masak nasi banyakan tapi nggak dimakan dengan berbagai alasan. Trus nasi tersebut menguning, mengeras, dan membuat hilang selera tapi masih toyib? Mari kita ubah jadi sesuatu yang “pengen dimakan”

Pertama,
Siap kan nasi sisa itu dan diulen-ulen pakai sendok nasi (semacam gerakan yang sedimikian sehingga bisa memisah-misahkan nasi yang keras)





Kedua
Siapkan mie instan goreng/ rebus tapi lebih disarankan yang goreng.





Ketiga
Buat bumbu nasi goreng. Untuk yang ini cari sendiri ya.. kan ini bukan tips memasak, tapi tips Gerakan Pantang Mubadzir. Tapi sih tak cantumin aja deh.
Bumbu nasi goreng standar:
Untung dua centong nasi dan 1 mie instan:
-          2 buah cabai merah besar + 3 cabai kecil
-          5 siung bawang merah
-          3 siung bawang putih
-          Garam secukupnya
-          Gula seujung kuku

Keempat
Rebus mie instan tanpa ditaburi bumbu. Sambil menunggu matang uleglah bumbu nasi goreng tersebut diatas. Jika mie sudah matang, angkat dan tiriskan. Lanjutnya ngulegnya jika belum selesai.

Kelima
Goreng bumbu nasgor yang sudah diuleg sampai wangi. Pakai api kecil aja ya.

Keenam
Tuangkan nasi sisa ke sisa ulegan bumbu nasi goreng dan tekan-tekan dengan pelan menggunakan ulegan. Selain ini mampu membersihakan ulegan, juga agar bumbu yang nempel di ulegan termanfaatkan.

Ketujuh
Campur nasi sisa yang sudah di uleg dengan bumbu sisa ke bumbu nasi goreng. Aduk-aduk

Kedelapan
Jika sudah cukup rata, masukkan rebusan mie instan. Cicipi.


Kesembilan
Jika rasa nasi goreng magelangan tersebut aneh atau bahkan tidak ada rasanya, tambahkan bumbu mie instan yang tadi tidak terpakai. Dijamin pasti enak.



Kesepuluh
Berdo’alah sebelum makan =)
Nasi goreng magelangan dari nasi sisa
Semua foto koleksi pribadi