Selasa, 05 September 2017

AADC 2 setelah purnama ke 17

Midnight menuju hari Selasa, 5 September 2017. Akibat isi ulang modem dan ada bonus layanan HOOQ, tergodalah saya untuk coba-coba. Setelah log in, yang pertama pengen ditengokin adalah film india. Pengen aja gitu terbahak – bahak atau malah nangis bombai ngikutin alur cerita film bollywood. Tapi ngeliat listnya kok terlihat ga sesuai. Scroll ke film superhero. Kirain ada film Thor terbaru, ternyata masih yang lama. Yasudah ke film Indo aja. Klik aja ke AADC 2. Film yang udah rilis setahun lewat. Tidak kurang dari 17 purnama. Haha.. betapa kudetnyaaa.. :3

Singkat cerita, setelah habis menonton film AADC 2 itu yang terlintas di pikiran adalah: “Hah, ternyata happy ending?!!!”. Wkwkwkwk.. tapi sungguh, ini diluar ekspektasi. Saya kira akhirnya si embak Cinta sama mas Rangga itu akan kembali menjali hidup mereka masing – masing. Ya pisah aja gitu. Nggak jodoh. Haha.. dan saya menggerutu sendiri karenanya. Semacam nggak terima. Klise banget menurutku. Gak seru. Ditambah sedikit perasaan iri dan dengki “kok happy ending sih? Ih ih...”

Ha ha ha haaa....

Tapi yaa sudahlah. Lagipula, apa itu sesungguhnya yang kita sebut “The end”? Akhir seluruh kisah, atau cuma sepenggal? Lagipula ini Cuma film. Lagipula.. kenapa saya harus pusing sendiri? Wkwkwk..

Anyway,, selain hal tersebut diatas, nyaris nggak ada kesan – kesan mendalam yang saya rasakan setelah nonton film ini. Kecuali saat Rangga bertemu Ibunya. Menurut saya, justru itulah adegan paling menyentuh dan mendalam dari seluruh scene di film itu. Mas Nico juga kece beudh ekspresinya disitu. Ibaratnya, saat berantem sama Cinta atau pisah aja nggak pernah_diperlihatkan_Rangga nangis. Justru saat ketemu Ibunya itu dia benar – benar terlihat emosional sekali. Entah nangis atau enggak. Karena gak keliahat air matanya. Tapi kurasa itu nangis. Nangisnya cowok. Haha..

Yang jadi pertanyaan, kenapa paketan data internetan ku tetep kesedot walopun katanya ada bonus nonton dari HOOQ? Dasarrrr....!!

Daaann,, akusuka puisi ini:

Gambar dari sini

Kamis, 10 Maret 2016

Go Visit Sari Ringgung Beach



Jadi, hampir bisa dipastikan, kemungkinanku untuk bisa jalan-jalan di Lampung adalah ketika jadi pendamping anak-anak. Sekolah maupun TPA. Haha… yaa.. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Setelah tahun kemaren dapet seat gratis ke Pantai Mutun, tahun ini Alhamdulillah pantainya ganti ke Sari Ringgung. Sebelum berangkat, desas-desusnya pantai ini bagus. Ada masjid apungnya. Ada pasir timbulnya. Dan ternyata itu benar semua saudara.

Kita berangkat hari Minggu, 7 Februari 2016. Pas Senin-nya adalah perayaan Imlek. Tanggal merah. Waktu dimana banyak orang berpikir untuk berlibur. Gak cuma itu, ternyata Februari ini adalah bulan Study Tour bagi banyak sekolah di Lampung. Dan mungkin karena Senin libur, maka banyak sekolah juga berpikir untuk melakukan study tour di tanggal 7 itu. Besides, banyak juga yang berpikir untuk mengunjungi Sari Ringgung. Jadi, pantainya penuh sekali. Masuknya juga antri. Sulit cari parkir dan tempat mangkal. Dan itu merubah mood-ku. Haaa…

Terlepas dari mood, pantai ini bagus. Asli bagus banget. Buening. Jenis pantai yang karang-karang di bawahnya bisa terlihat dari darat. Pasirnya putih. Tidak berombak dan landai. Saking landainya, bahkan di tengah lautnya pun ada pasir timbulnya. Semacam daratan pasir di tengah laut. Tapi tidak terlalu lebar untuk bisa disebut pulau. Selain itu sekitar berapa meter (aku jenis orang yang tidak bisa memperkirakan jarak) di tengah laut ada beberapa rumah apung dan masjid apung. Maka dari itu, ada boat dan perahu untuk menyeberang. Dari mas-mas yang nawarin boat, ternyata ada juga 4 spot untuk snorkeling. 1 spot bayarnya 200ribu tanpinyaaa… Aku jadi mikir, itu snorkeling atau diving? Karena aku sempat melihat gerombolan pelancong domestic yang terlihat amburadul sedang mengangkuti tabung-tabung oksigen turun dari kapal. Entahlah. Intinyamah gajadi nyoba semuanya. Ribet ngawasin anak-anak yang pada renang. Dari anak-anak yang renang ini juga aku tau kalau di pantai ini ada ubur-ubur. Beberapa dari mereka ada yang tersengat ubur-ubur. Oya, ada banyak perosotan juga disana. Juga gazebo-gazebo kecil maupun besar. 

Mini Dermaga

Nungguin sandal .-.
Di Sari Ringgung juga ada bukit lumayan tinggi (nggak tau berapa tingginya). Namanya PUNCAK INDAH SARI RINGGUNG. Sudah di setting sedemikian rupa sehingga mudah didaki. Ada gazebo juga di tengah bukit, yang sepertinya berisi café full music. Aku nggak nengokin. Karena jalur ke gazebo ini beda dengan jalur pendakian. Iya, aku mendaki bukit itu akhirnya. Sebagai kompensasi karena nggak bisa nyebrang. Katanya dari sana kita bisa ngeliat Gunung Krakatau. Aku mendaki bersama Mr. Fajar (teman sejawat di SD) dan si Ulfa (anak guru Agama di SD). Cuaca panas banget pas naik. Dan aku pede banget. Ngerasa udah pernah naik gunung beneran 2 kali walaupun nggak muncak. Haha.. tapi yang terjadi, sindrom kekurangan oksigen di kepala menyerangku. Aku kayak orang yang mau pingsan. Aku belum pernah pingsan beneran. Tapi sepertinya ya kayak gitu rasanya. Mata berkunang-kunang, badan lemes, perut mual pengen muntah dan keseimbangan berkurang. Mirip orang mabok kendaraan. Huh, orang sombong emang musti diberi pelajaran. Entah, itu sebenarnya karena apa. Padahal sebelumnya udah makan, minum, dan merasa bahagia. Tapi entah kenapa bisa bereaksi begitu tubuhku. Dan selalu pas naik bukit yang nggak tinggi-tinggi amat. Sebelumnya aku pernah mengalami hal itu pas naik bukit di Kelud. 4 bulanan sebelum meletus, aku pernah ke Kelud. Disana ada bukit batu yang ada tangganya. Aku juga mau pingsan disana.


Setelah dipaksa (tengsin dong gue kalo nggak nyampe atas) akhirnya nyampe di puncak bukit Sari Ringgung. Ada gubuk disana. Pemandangan diatas bagus banget. Manusia yang lagi tumplek blek di bawah keliatan semua. Keliatan seluruh bibir pantai, masjid apung, rumah apung, dan pasir timbul. Karena airnya bening, kita juga bisa ngeliat dasar laut yang ijo-ijo biru toska. Di sebelah… ngngng.. aku tidak yakin, tapi sepertinya Timur (berdasarkan arah masjid apung yang ada di bawah) terlihat siluet abu-abu tipis membentuk pyramid. Mungkin itu gunung Krakatau yang dimaksud. Jalan turun dari puncak Sari Ringgung beranak tangga dan ada pegangannya. Disini aku masih turun pelan-pelan. 

Masjid Apung dilihat dari Puncak Indah Sari Ringgung

Pasir di tengah lautan

Text yang ada di foto dibaca: Siluet piramid abu-abu ada di sebelah sana -->

Muka orang mau pingsan
Yang kurang dari pantai ini adalah fasilitas kamar mandi yang hanya ada satu blok berisi 4 atau 6 bilik. Aku nggak masuk kamar mandi, males liat antriannya. Selain itu, alangkah lebih baiknya jika di pantai ini ada semacam pos/ pusat informasi. Disitu disediakan katalog-katalog layanan, merchandise original, dll. Sebenarnya ada sih bangunan seperti kantor layanan tapi tutup. Selain itu hendaklah mengunjunginya saat bukan musim liburan, punya waktu luang banyak dan bersama orang yang asik. Haha.. Karena butuh banyak waktu kalau ingin mencoba semua wahana alam yang ada.

Jadi bagaimana kalau mau kesana? Hmmm inilah kelemahan orang yang bepergian ikut rombongan. Nggak tau arah. Haha… Tapi pantai ini sejalur dengan pantai Mutun. Kira-kira sekitar 30 menit dari pantai Mutun. Ada di Kabupaten Pesawaran Lampung. Cobalah kapan-kapan..

Rabu, 24 Juni 2015

Note noted

Hua.Blog ini sudah banyak sarang laba-labanya ��

###15 Evaluasi & Pengingat untuk Para Entrepreneur
Muda Pemula:###
.
.
1. Hati-hati dengan publikasi dan ketenaran... akan ada
masa-masa media akan menghampiri atau orang-orang
mengundang jadi pembicara... ini adalah pedang
bermata dua... inget, kita bukan artis atau pembicara,
kita adalah pebisnis... jangan sibuk jalan-jalan, namun
bisnis gak jalan... jangan sibuk ngomong, eh sama
karyawan malah diomongin dari belakang...
.
2. Menang lomba tidak menggambarkan sehatnya
bisnis kita. Juara lomba diputuskan oleh orang luar dan
sifatnya subyektif dan bisajadi yang jadi penilai juga
bukan praktisi, atau lebih nyeseknya lagi, lomba adalah
kepentingan dari pihak yang punya lomba, entah
kepentingan PR, branding, atau CSR biar laporan pajak
aman... sebenarnya mereka juga tidak peduli
sepenuhnya sama bisnis kita. Ikut lomba boleh, tapi
jangan melupakan how to build business... karena kita
bukan sedang berlomba, tapi sedang berbisnis.
.
3. Kita bisa tahu bisnis kita sehat itu sederhanya dari
melihat 3 hal: laporan laba rugi, neraca, dan cashflow.
Laporan laba rugi memperlihatkan seberapa untung
bisnis model yang kita jalankan... neraca
menggambarkan seberapa banyak asset yang kita
punya... dan cashflow memperlihatkan seberapa liquid
perputaran uang kita. Kalau 3 hal ini aja gak ngerti,
disarankan jangan bikin bisnis dulu...
.
4. Stop ikut seminar-seminar, training-training ketika
sudah 2 tahun tidak ada perubahan. Bisajadi kita
sedang terperangkap oleh genjutsu (ilmu
mempengaruhi 5 indra) dari pembicara. Untuk tahun-
tahun pertama sangat disarankan untuk ikut seminar-
seminar dasar tentang bisnis. Tapi, trendnya, masih
banyak yang tidak keluar dari jeratan seminar-seminar
atau training selama bertahun-tahun, bahkan malah ini
jadi salah satu industri sendiri yang menjamur... mereka
yang ikut seminar berkali-kali sampai hafal materi
pembicara dan akhirnya nyoba-nyoba buka seminar
sendiri. Tadinya mau bisnis kuliner, eh malah jadi
pembicara bisnis kuliner yang jika dilihat dengan poin 3
di atas sebenarnya bisnisnya amburadul. Di lapangan,
orang seperti ini banyak.
.
5. Jangan kebanyakan foto-foto sama orang yang kamu
anggap sukses... dikit-dikit foto... dikit-dikit foto...
sambil nunjukin jempol sukses... why? karena jika
begitu terus kita akan terperangkap pada level 'kagum'
dan tak akan pernah naik ke level 'dikagumi'.
Bahayanya di sini adalah, kamu kagum karena
pencitraan mereka... coba lebih kenal dalam dengan
mereka, kamu akan menemukan banyak hal yang
berbeda dari pencitraan orang-orang yang kamu
kagumi. Islam telah mengajarkan untuk mengenal orang
yaitu dengan cara: menginap bersamanya minimal 3
hari, berpergian jauh bersama, dan berbisnislah
bersama mereka. Jika sudah dilakukan, barulah kagum
atau tidaknya menjadi objective.
.
6. Segera hilangkan rasa bahwa diri ini hebat. Dunia ini
gak seluas daun kelor aja... mungkin komunitas atau
lingkunganmu bilang kamu tuh hebat banget, tapi di
luar sana ada yang jauhhhhhh berkali-kali lipat lebih
hebat dari kamu. Mungkin, saat ini kamu disandingkan
dengan para orang-orang hebat di luar sana, tapi
sebenarnya belum pantas. Yang terjadi akhirnya
jebakan 'merasa hebat' muncul... ketika sudah muncul,
maka kita akan merasa ilmu, pengalaman, kejeniusan
kita telah berada pada level/ruang orang yang
sebenarnya lebih tinggi dari kita. Apa yang akan terjadi
jika hal ini muncul? kita tak akan pernah bergerak
kemana-mana.
.
7. Jangan cepet-cepet mau jadi boss atau menjadi
orang atas. Ada sindrom pada anak muda jenius
merasa layak untuk diberi tempat dan penghargaan ini
itu... karena jarang sekali di usianya tersebut bisa
begini dan begitu. Akhirnya muncul keangkuhan dan
menilai apa-apa dari kacamata sendiri. Sering mau jadi
nomer satu, harus dihargai berlebih... padahal
perbandingan yang dipakai bukanlah perbandingan yang
objective... jika muncul seperti ini, kita tidak akan
pernah mau belajar dari bawah karena merasa sudah di
atas sehingga susah untuk bekerjasama jikalau
diposisikan jadi bawahan. Padahal, jikalau hidup rata-
rata manusia 65 tahun, gak apa-apalah dalam usia 22
tahun jadi bawahan selama 5 tahun, kan saat usia 27
tahun sudah jadi sesuatu... so, 5 tahun itu sebenernya
bukan jadi bawahan, tapi belajar bagaimana jadi
atasan... dan masih banyak usia yang lebih produktif
untuk melakukan sesuatu hingga 65 tahun kan...?
.
8. Hati-hati dengan pendapatan yang akan didapat.
Ketika bisnis mulai bagus, biasanya pendapatan akan
mulai terlihat. Uang sering lho mengubah karakter
orang... hati-hati dengan hati kita yang berbolak-balik,
pagi jadi malaikat, sore udah jadi iblis... uang hanyalah
alat tukar, bukan tujuan... kembali lagi ke tujuan awal
kamu mau bisnis untuk apa, diharapkan bisnis yang
membawa manfaat ya... pendapatan boleh naik, tapi
gaya hidup tetap sederhana aja ya dan sedekahnya
justru yang dinaikin...
.
9. Hati-hati dengan provokasi "Keluar Kerja!", "Pakai
Otak Kanan! Gak usah mikir" dan jebakan-jebakan
semangat lainnya yang kadang menghilangkan akal
sehat... lagi-lagi ini pisau bermata dua... maksudnya
secara positif di sini adalah penyemangat bagi orang-
orang yang sudah siap untuk berbisnis tapi belum juga
berani full berbisnis... semangat ini bukan buat mereka
yang putus asa, gak punya basic, dan masih labil...
karena ketika memutuskan berbisnis itu cuma dua
kemungkinannya: tambah sejahtera dan tambah
bangkrut. Dan segala hal yang diputuskan tanpa
persiapan selalu gagal pada akhirnya. Bisnis butuh
banyak sekali persiapan: coba cari referensi sana-sini
dulu sebelum memutuskan. Karena sebenernya ya,
banyak banget karyawan yang gajinya ratusan juta dan
hidupnya tenang-tenang aja... jadi kalau jadi pebisnis
itu untuk dapet uang lebih banyak gak selalu benar,
karena jadi karyawan pun SANGAT BISA. Suka lucu aja,
ngeliat orang yang ngatain karyawan padahal gue tau
banget pendapatan dia gak ada sepersepuluhnya dari
karyawan yang gue kenal... kok malah terkesan
sombong ya provokasinya . Sebelum berpikir positif
atau semangat gak jelas, kedepankan dulu berpikir
tepat dengan akal sehat yang objektif.
.
10. FOKUS! walau akan banyak peluang yang
terlewat... ketika fokus kita akan belajar memahami
kuda-kuda yang kuat, kesabaran, logika, pola, dan
kesiapan ketika ada peluang yang datang. Fokus
berbicara kesiapan... kesiapan menerima peluang,
apakah kita sudah siap menerimanya? siap tidak siap
dibentuk dari kefokusan.
.
11. Lebih baik, kamu kerja dulu di industri yang akan
kamu bisniskan nantinya... karena ketika kamu kerja
dulu maka kamu akan melihat dari hulu ke hilir
bagaimana keseluruhan industrinya sampai akar-
akarnya... hal ini akan sangat memudahkan kamu
ketika nanti berbisnis. Tapi, jangan keasyikan sampai
lupa bahwa mau dibisniskan... Jikalau tidak mau, maka
carilah partner yang sudah tau industrinya sampai ke
akar-akarnya. Pertanyaannya, memang ada yang mau
sama bocah bau kencur kecuali kamu direkomendasika
n oleh seseorang yang sangat terpercaya? hihihi...
.
12. Bisnis berbicara tentang angka, bukan perasaan.
Jikalau ditanya sales berapa, jawab dengan "1, 2, 3"
bukan "Laku bangettt brooo!"... semua harus tercatat...
PENCATATAN dalam bisnis adalah akar, pelajarilah
akuntansi... ini ilmu sendiri yang harus dipahami...
kalau gak ngerti ini, jangan buka bisnis dulu deh... kalau
gak mau ngerti, ajak temen kamu yang ngerti... tapi
emang ada yang mau diajak sama orang yang males
buat ngerti?
.
13. Buatlah bisnis untuk memenuhi KEBUTUHAN pasar,
bukan KEINGINAN pribadi/tim... di sinilah riset
diperlukan... kalau di online kita punya tools semacam
Google Keyword planner tools, google trend, FB
audience insight, hingga paper-paper baik secara makro
maupun mikro. Butuh sekali riset mendalam, jangan
level asumsi "Laku deh!", "Dari mana lo tau laku?
datanya?", "Mmmm... ya laku deh! temen gue banyak
yang beli.."... jangan asumsi ya, karena lo bukan lagi
main sinetron lho, bisnis itu dunia real apalagi jadi
backbone utama, kalau lo gak dapet pendapatan ya lo
bakal sengsara... urusan bersyukur dan tawakal beda
yaaa.. jangan salah paham...
.
14. Perbaiki hubungan dengan orang tua... karena
percaya gak percaya orang tua punya sambungan
energi rezeki... jika hubungan dengan orang tua
tersumbat, maka aliran energi rezeki
juga akan
tersumbat. Jika ortu sudah meninggal, carilah saudara
terdekatnya dan minta maaf... coba dicek lagi, jangan-
jangan segala usaha, ilmu, doa, tim kompak tapi kok
masih mentok juga, bisajadi kamu masih terhambat
karena punya dosa sama orang tua... beratnya,
memang kamu akan malu bahkan ego pribadi masih
bilang "Ngapain! dia aja gak nganggep gue anak...", ya,
inilah kerasnya kehidupan... kamu harus terima,
percaya gak percaya, rezeki sangat bisa tersumbat
ketika hubungan dengan ortu buruk... segera deh,
sebelum mereka meninggal... ortu kalau udah
meninggal gak akan pernah datang dua kali . Eh
tambah lagi, sama suami dan istri juga bro, kelupaan
nulis soalnya gue belom punya pengalaman kalau
suami istri hehehe...
.
15. Jadilah SUBYEK jangan jadi OBYEK... kamu harus
sadari memiliki diri, memiliki kuasa atas diri sendiri...
ketika kamu sudah menyadari itu, akhirnya kamu bisa
menentukan jalanmu sendiri... berbicara bisnis, paling
penting adalah masalah leadership... bagaimanakah jadi
pemimpin yang baik... ketika kamu masih jadi obyek
yang disuruh-suruh (bisa karena kamunya memang gak
inisiatif atau karena kamu gak berani mengemukakan
pendapat), maka bisnismu tak akan pernah maju...
jadilah subyek, sadari kuasa atas dirimu... mulailah dari
inisiatif atas masalah-masalah yang terjadi di
sekitarmu, ambil masalah itu selesaikan jangan nunggu
disuruh, karena kita bukan pesuruh... tapi juga bedakan
ya antara leadirship dan boss ya... boss itu nyuruh-
nyuruh, kalau leader dia nyuruh pake teladan... bukan
"Nyapu lo!", tapi dia akan ambil sapu, nyapu dan timnya
akan ngerasa gak enak hingga "Pak, maaf, saya aja
yang nyapu.."... leader itu menggerakkan dengan
teladan...
.
.
Semoga bermanfaat,
Depok, 20 Juni 2015 // Ramadhan hari ke 2
@maulaozier.                                       .                                                              .                                                                                                  .                                                              www.Karoseriambulan.com

Senin, 16 Maret 2015

Pantai Mutun

Alhamdulillah. Emang hidup ini nggak selamanya linear boiii.. Banyak hal yang datang dari arah atau cara yang tak disangka-sangka. Dari selama di Lampung pengen ke pantai, tapi gak tau gimana caranya. Arggghhh.. Pokoknya complicated. Ga semudah di Jogja yang motoran 30 menit udah sampe Pantai Depok atau dengan waktu yang sama di Surabaya udah sampe Pantai Kenjeran. Na disini, waktu segitu keluar kecamatan aja belum
Dan tibalah suatu masa dimana aku ditelpon sama Bu Tri (Guru Agama SD yang sempat kugantikan waktu beliau sakit): "Mbak Noor besok ikut nganter anak-anaj jalan-jalan yaa.. Udah dateng aja nggak usah bawa apa-apa". Asiiikk.. Then, Bapak ndak ngerebus dele. Liburrrrr...
Pertama sih ke museum Lampung dulu, baru ke pantai. Belakangan baru tau dari tetangga kalo kunjungan anak sekolah ke museum Lampung itu semacam wajib. Pantesan. Jadi semacam cuma menggugurkan kewajiban. Harusnya yaa.. ¥£=€=Π€`&%-$(%)%&()95$geh ahsudahlah~
Trus trus,, ke pantai deh. Nama pantainya: MUTUN. Pantai Mutun. Sebelumnya, baru tau.. Eh baru sadar kalo sebenernya Lampung tu banyak pantainya *senyummasygul dan bagus-bagus. Boiii.. Diliat di peta buta juga udah ketauan keleussss kalo situ peka n gahol. Ya secara garis pantainya aja luwass.. Ah suda suda,, emang aku ga gahol.
Pantai Mutun inniii ada diii.. Ngngng.. Haha aku gatau tepatnya. Pokoknya dari pusat kota Bandar Lampung ke arah Kemiling. Nah, sampe sana tanya aja. Boii,, sekarang Google map juga ada kan ya.. . Ingetnya ada pertigaan dari arah Balam. Ada jalan rame, ada jalan yang sepi. Na ini pilih jalan yang sepi. Dari situ perjalanan masih cukup panjang. Jangan tanya berapa jam, karena ga hobi liat jam. Dan sibuk liat pemandangan. Jalannya agak naik-turun. Tapi kalau diibaratkan gelombang, gelombangnya pendek dan lebar-lebar. Banyak perbukitan juga. Jalannya bagus.
Dannnn pantainya bagus. Bagus buat ukuranku. Ukuran orang yang ga gahol. Haha. Nggak terlalu rame pengunjung, padahal kesana hari Sabtu. Tapi rame secara pelayanan. Banyak saung-saung disana. Dan ada penunggunya hihihi.. Ada penyewaan ban karet, perahu macam perahu kayak, kapal buat nyebrang pulau dan penyewaan kamar mandi. Eh, saungnya juga nyewa cobaaa.. Ada tanjung kecil yang terlihat menyediakan kuliner. Terlihat aja soalnya nggak nyamperin.
Pantai ini teksturnya *dikate kulit apa?!_ macem-macem. Jadi di Utara bagian laut yang pinggirnya pasir. Habis itu ke arah selatan ada laut yang langsung nyemplung laut, ada karang-karangnya di bawah dan jarak sekitar 7 meter bisa buat nyalain mesin perahu. Disini inilah penyewaan perahu buat nyebrang. Trus ada laut yang pinggirnya pasir lagi dan landai, tempat yang pada mau berenang. Diujung jarak pandang ada tanjung kecil.
Aku ngapain?? Nyebrang dong ke pulau kecil di seberang. Namanya Pulau Tangkil. Seru. Seru aja. Ga pake banget. Karna seru banget itu kalau nyebrang dan turun ke pulau Tangkil-nya. Na, rombongan kita cuma muterin pulau. Heuheu. Harap maklum, namanya juga rombongan SD. Padahal pulau itu keren. Kecil. Jadi kayak pulau pribadi. Cuma sedikit orang yang keliatan ada disana. Ada saung-saung. Ada tulisan TANGKIL gede warna merah buat poto. Kayak LOSARI gitu *padahalbelumpernah.
Naik kapal ini bayar 10.000 buat anak-anak dan 15.000 dewasa. Minimal harus rekrut 10 orang baru jalan. Atau sewa pribadi sekitar 100-150 ribu. Kalau mau masuk pulau Tangkil, bayar lagi 6.000. Just FYI, sewa ban 10.000, perahu kayak 10.000, saung bermuatan 20 orang 150.000. Beli kacamata 15.000. Bayar kamar mandi 3.000. Heuheuu...
Pas nyebrang, keliatan pulau-pulau kecil lain. Keliatan ada kapal kargo (kata Bapak agen bus). Kapal orang mancing (emang keliatan ada banyak ikannya). Ada daratan panjang di seberang (bukan pulau) yang kayaknya masih Lampung, bukan Jakarta. Keliatan ada kamu juga. Hahaa..
Haaa begitulah. Begitulah kalau aku cerita,, ga jelas. Ga bisa dipake panduan jalan-jalan. Hahaa..
Well, because of kalo posting sama photo semacam ga kuat, jadi liat aja di Instagramku: @nunungnhd.
Haaaa.. Aku masih pengen ke Kiluan Dolphinnnn, Tanjung Pisang dlllllll... Haaaa..

Rabu, 10 Desember 2014

The things they carried

Kemarin saat pindahan Surabaya-Jogja-Lampung, packing barang-barang dan menemukan lagi buku dengan judul diatas. Buku yang belum selesai dibaca. Tulisan Tim O'brien. Beli dari taun jebot di pameran atau obral buku Gramedia, lupa! Yang pasti harganya murah.

Tim O'brien ini Veteran perang Vietnam. Terekrut karena wajib militer. Selesai dari tugasnya hidup damai di kotanya bersama keluarga. Kemudian menuliskan kisah-kisahnya selama perang secara fiktif_dia bilang begitu. Tapi aku yakin, sefiktif-fiktifnya pasti banyak yang sungguh-sungguh pernah terjadi.

Diceritakan secara garing dan datar luar biasa. Aku sampe mati bosan. Ini sebenernya juga belum selesai aku bacanya. Kurang 2 bab.

Bayangkan ada 2 atau lebih laki-laki (yang hidupnya keras) usia 40an. Duduk di kedai kopi atau angkringan. Mereka mengobrol sambil menerawang tentang kehidupan masa lalu yang penuh perjuangan sekaligus kekonyolan khas anak muda. Sambil sesekali menghisap rokok, menenggak kopi dan mengunyak kacang. Terbatuk, mendengus dan tertawa singkat, haha! Maskulin banget pokoknya. Yah begitulah kira-kira. Garing. Nggak asik.

Udah gitu, banyak kisah yang diceritakan berulang tapi dengan tujuan berbeda. Dengan sudut pandang beda. Sudut pandang ia waktu kejadian berlangsung banding sudut pandang saat ia menuliskan kisah tersebut. Kadang pengulangannya karna 2 tema berbeda. Satunya bicara tentang kematian. Satunya tentang keberanian yang banyak/ keberanian yang sedikit (pengecut).

Begitulah...

Tapi tiba-tiba, ada ide yang nyangkut di kepala gara-gara novel garing ini: bikin cerita kayak gini tentang relawan. Ha ha ha. Kalau dipikir-pikir, aku sekarang sedang ada di fase seperti O'brien saat menulis novel ini. Veteran relawan, tinggal kesepian di kota_desa_nya dan kurang kerjaan. Waha! Oh satu lagi, terlalu banyak kenangan untuk diendapkan begitu saja. Mweheee...

Lagipula, kalau diingat-ingat, meski aku sering nulis, aku jarang banget nulis tentang relawan. Di note FB kayaknya kurang dari 5. Di Blog sama sekali ndak ada. Kecuali tentang personalnya. Dan yang di FB itu lebih ke laporan kegiatan. Dan padahal kemaren ada lomba nulis cerita dari relawan. Temanya tentang berbagi. Aslinya pengen ikut. But have no idea.

Subuh-subuh bertapa mengaduk memori. Apa yang kurasakan tentang berbagi, slama ini, di relawan. Berharap bisa menimbulkan hasrat buat nulis. Tapi tidak terjadi apa-apa. Blank. Gelap! Kyaaa... Jadi curiga, jangan-jangan nikmat/hikmah berbagi selama ini belum pernah aku rasain. Kerasanya aku yang nerima banyak malahan. Kayaknya gitu. Hummm... Intinya nggak bisa nulis. Nggak ikut lomba dan nggak menang. Yeeee -_-

Jadi, tulisan-tulisan setelah ini adalah serial kerelawanan. Fiktif! Yang terinspirasi oleh kisah nyata dan akan segera difilmkan. Wohooo... Apabila ada kesamaan cerita/karakter/peristiwa itu adalah sebuah kesengajaan. Semoga ndak ada yang merasa dirugikan. Kritik dan saran bisa dikirim ke nunungnhd@gmail.com atau langsung aja komen :)

Sabtu, 06 Desember 2014

The rain will fall the rain will fall..

Hujan. Aku lupa, kapan terakhir kali sengaja menghujan-hujankan diri. Kalo ndak salah pas masih ngekos di Jogja di tempat jemuran :D

Kalau kehujanan di jalan sering. Pake atau nggak pake mantel. Atau pas ada kegiatan terus hujan padahal harus wira-wiri, hujannya ditabrak aja. Yang begitu juga sering. Nggak pernah mikir bakal kenapa-kenapa kalo kena air hujan. Kecuali barang-barangku yang bakal kenapa-kenapa kalau kena hujan. Kalo udah gitu milih nunggu sampe reda. Bersyukur banget kalo di tas lagi ada tas kresek. Barang masukin situ semua, baru dimasukin ke tas. Abis itu lanjuuut.

Aku punya kenangan yang pekat saat hujan. Tentang keceriaan, kepolosan dan jiwa tanpa bebannya kanak-kanak. Juga tentang kepasrahan sekaligus pengharapan yang sangat pada Yang Maha mengatur hidup. Meski masih kanak-kanak. Kenangan yang nggak akan pernah hilang. Kalau lagi nggak di rumah, trus hujan, trus inget kenangan ini bisa mewek dan kangen berat sama Babe.

Lama setelah masa kanak-kanak itu tak pernah memikirkan tentang hujan. Sampai saat pikiran suka mengejawantahkan satu-satu apa yang dirasakan. Dan yang terpikirkan saat aku abis kehujanan adalah, wajahku jadi seger dan berseri-seri. Semacam jadi agak cantik dikit. Huahuaaa... *tukan mau bikin tulisan melow gajadi

Alasan itu adalah alasan yang mirip dengan alasanku pake jilbab: Aku suka melihat bayanganku di siang bolong kalau lagi pake jilbab. Dengan kain menjuntai-juntai di kepala ala Annida. Ikon majalah muslimah waktu itu. Alasan yang aneh -_-"

Aku pernah cerita hal itu ke Bapak-bapak kantor, bahwa kalau lagi di jalan trus hujan aku malah menengadahkan kepalaku membiarkannya menyegarkan wajahku. Trus tau dong apa reaksi mereka. Iya, aku diketawain. Tapi biarin :p

Ada banyak lagu manis juga tentang hujan. Hujan-Utopia. Waktu hujan turun-SO7. Hujan jangan marah-ERK. Perempuan hujan-The Rain. Rindu pelangiku-Sherina. Menjemput impian-Kla Project. It's gonna rain-Ost. Samurai X. Tears drop in the rain-Lagu Korea gatau sapa yang nyanyi. Dan yang most Vavorito: The rain will fall-Mocca.

All that i need now
Is the rain to fall from the sky
To wash away my pain inside
All that i need now
Is the rain to fall from the sky
The rain will fall
The rain will fall

Hahaa.. Emang kalo mau nangis tapi nggak ketauan nangisnya sambil hujan-hujanan.

Kemaren abis hujan-hujanan di jalan. Senyum-senyum sambil ribut memanjatkan do'a. Salah satunya: semoga busi motornya nggak konslet dan bikin mogok lagi haaa... Sampe rumah disuruh nganter ibu kondangan. Langsung laksanakan tanpa ganti baju. Ikut masuk dan makan pake baju basah. Waaa...

Trus ini aku kutipkan tulisan kece badai tentang keberkahan hujan dari buku lapis-lapis keberkahan karya Salim A Fillah. Biar ni tulisan nggak cuma curhat doang. Hee...

Dalam hujan di lapis-lapis keberkahan, Nabi Shalallahhu 'Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk mentauhidkan Allah sebagai satu-satunya yang kuasa menurunkan karunia. Tersunahkan ucapan: "Umthirnaa bifadhlillaahi wa rahmatih. Kami dikaruniai hujan dengan karunia Allah dan rahmatNya"; agar kita tak menisbatkan rintik ataupun lebatnya pada bintang ini dan gemintang itu. Inilah yang akan menderaskan lapis-lapis keberkahan di dalam tiap butir-butir air yang berdebur.

"Perbanyaklah berdoa di kala hujan turun," demikian 'Abdullah ibn 'Abbas Radhiyallahu 'Anhuma menasihatkan, "sebab ketika itu pintu-pintu langit sedang dibuka." Adapun doa asasi yang diajarkan Sang Nabi ketika hujan turun dalam riwayat Imam Al-Bukhari adalah ucapan, "Allaahumma shayyiban naafi'an. Ya Allah, jadikanlah hujan ini penuh kemanfaatan.

"Disunnahkan untuk berbasah-basahan dengan hujan ketika ia turun," demikian ditulia Dr. Nashir ibn 'Abdurrahman Al-Juda'i dalam At-Tabarrak Anwa'uhu wa Ahkamah," serta mengeluarkan pakaian, perkakas, dan kendaraan agar terkena hujan." Ini didasarkan pada hadits Anas ibn Malik dalam Shahih Muslim saat beliau menyaksikan Sang Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyingkap pakaiannya agar air hujan mengenainya. "Kami bertanya," ujar Anas, "'Wahai Rasulullah, mengapa kau lakukan ini?' Beliau menjawab, 'Sebab hujan itu diturunkan dari sisi Rabbnya."

Demikian pula Imam Al-Bukhari mengetengahkan riwayat bahwa Ibn 'Abbas jika hujan turun, maka beliau memerintahkan agar pelana dan pakaian beliau dikeluarkan, kemudian beliau turut berhujan-hujanan sejenak sembari membaca Surah Qaaf ayat ke sembilan.

Dan sekarang, right here right now lagi huja. Kamar bocor. Ah biarin. Biar makin berkah :D

Ntms: apalin surat Qaafnya! Jangan lagunya :p

Kamis, 04 Desember 2014

How to train your (dragon) child

Hari ini baca poster dibawah dan mupeng luar biasa.

Beberapa kali denger temen promoin buku Prophetic Parenting dan mupeng tiada tara.

Akhir-akhir ini sering berurusan dengan anak-anak dan jadi pengen belajar banyak tentang mereka. Tentang cara mendidik mereka.

Aku si ga terlalu suka anak-anak. I mean, aku punya banyak temen yang langsung girang bukan kepalang kalo ketemu anak-anak, ngajak mereka main dan membina hubungan baik sama mereka sampe tingkat mendalam. Sebaliknya, anak-anak juga suka mereka. Menurutku itu yang dimaksud 'suka anak-anak'. Dan aku nggak gitu-gitu amat.

Cuma aku suka sama orang tua mereka_trus aku diketawain sama temenku coba. Menurutku, hidup ini terlalu singkat untuk dilewatkan sama anak yang menyusahkan. Meski ga sampe bikin bangga, tapi seenggaknya jangan nyusahin. Selain itu ada satu hal lagi yang membuatku ga bisa ga peduli sama mereka. Tapi rahasia :p

Nah bicara soal poster sama buku itu, bicara tentang cara mendidik anak. Itu pekerjaan seumur hidup bagi orang tua. Utamanya Ibu. Karna Ibu adalah Madrosatul Ula. Sekolah pertama bagi para anak. Yakalo jadi guru aja harus kuliah dulu, daftar PNS, ujian, penataran, sertifikasi apalagi jadi Ibu. Kalo jadi Murobbi aja harus belajar dulu, ikut dauroh dulu, banyak baca buku, apalagi jadi ibu.

Nyatanya juga, bahkan untuk bisa mengenali, menyelami sampe kemudian ngasih intervensi ke satu anak aja nggak gampang. Dan yaitu tadi, kita harus punya cara atau metode yang jadi pegangan. Dari banyaknya model dan gaya hidup masa kini, kita mau didik anak pake model apa? Ngikutin siapa?

IMHO, nggak cuma urusan didik anak sih, tapi di segala urusan kita udah dikasih role model yang sempurna, meski beselisih waktu milenia. Sudah dikasih kitab yang isinya cerita. Sudah dikasih aturan jelas dan adil mengenai hak dan kewajibannya. Tinggal mengkaji dan mengamalkan dengan ikhlas lanjut tawakkal.

Kalau dari hasil perenungan akibat terjun langsung aku menemukan beberapa cara. Aslinya pengen klarifikasi dulu ke seminar atau bukunya, tapi udah pengen cerita ini. Heheee...
Yaitu adalah:

1. Bagaimanapun anak-anak itu suka cerita. Buktinya mereka suka Mahabarata dan hafal kisahnya. Seringkali ditemukan bisa mengambil hikmah dari kisah itu.

2. Perlakuan dan kebutuhan anak perempuan dan anak laki-laki tu beda. Cara mereka tumbuh baik fisik, mental dan kejiwaannya aja beda. Maka, sistem pendidikan formal yang mencampur mereka itu bikin aku berkernyit, nyusahin guru_aku maksudnya.

3. Sepertinya mereka itu suka berkhayal. Ini masih spekulasi. Spekulasi primordial banget. Dan ini mungkin bisa dimanfaatkan.

4. Jangan remehkan kemampuan mereka untuk menyerap informasi, mengingat dan mengasosiasi. Meski tampaknya mereka nggak ngerti. Mereka hanya belum punya kemampuan dan cukup kosakata untuk mengeluarkan pemikirannya.

5. Ada masanya seseorang itu bisa sangat disenangi anak-anak padahal dia nggak ngapa-ngapain dan padahal biasanya anak-anak nggak suka sama orang itu. Katanya itu indikasi kematangan jiwa seseorang sehingga auranya keluar. Engngngng... Yang ini emang nggak nyambung :p

*maaf jika isi jauh dari ekspektasi anda dan nggak nyambung sama judulnya. Itu judul kece menurutku :D





Minggu, 30 November 2014

Hidupkan lagi mimpi mimpi

Mimpi. Dream. Bukan dalam arti kata 'bunga tidur' tapi sesuatu yang diangankan untuk diaraih. Seperti halnya mimpiku yang sering berubah-ubah, perspektifku dan caraku memperlakukannya pun berubah-ubah. Emang labil -_-".

Entah sejak kapan ya pembicaraan mengenai mimpi ini jadi begitu sering. Tapi menurut pendapat hamba yang dhoif ini, ini erat kaitannya dengan literasi. Dengan menggeliatnya lagi penerbitan buku-buku dan bahan baca lain. Referensi banyak bermunculan dalam berbagai bentuk paparan. Meski kenyataannya masih banyak_pake banget_kalangan yang nggak peduli hal-hal ghaib kayak gini.

Nah, beberapa referensi yang pernah kudengar, baca atau diskusikan ini yang membuatku suka labil. Kadang setuju dengan yang mengatakan mimpi itu harus jelas, pasang target, di breakdown de es te de es te. Trus aku akan membuat dreamlist. Tapi abis itu lupa. Buat alibinya, sok-sok setuju sama orang-orang yang ga punya mimpi tapi capaiannya luar biasa. Prinsipnya berbuat terbaik di titik dimana dia berada. Atau yang let it flow dan enjoy tapi tetep bermuara ke sebuah capaian.

Sebenernya yang model kedua itu bukannya gak punya mimpi. Punya, tapiiii... Tapi gimana ya *garuk2kepala. Mimpinya itu dia tempatkan sebagai kerangka besar, yang gerak-gerak kecilnya kadang kayak nggak nyambung. Dan dia nggak pusing sama prentil-prentil uraian, metode dan tata cara yang kaku. *semoga anda mengerti penjelasan ini.

Aku kasih contoh ajadeh. From my idol. The only one: Anis Matta. Jadi waktu itu di akhir bulan Ramadhan tahun 2010. Waktu dimana mahasiswa udah banyak yang mudik. Eeee kok ada acara RTT: Ri'ayah Tarbiyah Tulabiyah. Semacam tabligh akbar nya pelajar. Pengisi acaranya Anis Matta. Bertempat di kampus Magistra Utama Jl. Magelang.

Paparannya bikin tuing-tuing untuk ukuran mahasiswa spek otak rendah kayak aku. Lha tapi waktu itu Pak AM ini menjelaskan tahapan kehidupannya dari dia masih kecil secara singkat. Kayaknya gara-gara ada yang nanya soal mimpi/cita-cita nya bapak satu itu. Nah yang ini aku agak nyambung. Dia bilang, dia itu tidak pernah punya cita-cita. Tidak pernah punya gambaran yang jelas tentang cita-cita. Mau jadi apa. Mau mencapai apa. Tidak ada. Kalau pada akhirnya dia sampai di titik ini sekarang, itu karena dia melakukan dengan sungguh-sungguh tiap tahapan hidupnya. Nah, gimana tuh...

Contoh lain adalah apa yang baru kubaca dari blog temanku. Kisah tentang Dahlan Iskan. Bisa dibaca disini.

Trus aku tadi mau cerita apaya? ._.

Aku lagi belajar untuk menjadi seperti itu. Lebih karena merasa nggak cocok pake cara yang pertama_ngeles padahal. Well, memang bukan tipe orang yang bisa taat sama penjadualan apalagi yang dibuat sendiri. Suka ngerubah-rubah rencana. Ya labil itutadi -_-"

Jadi lebih ke fokus sama yang dikerjain sekarang. Berusaha yang terbaik. Tapiiiii... Tapi lagi. Kok ngerasa nggak keukur gini ya? Nggak bisa ngevaluasi. Padahal dulu waktu punya dreamlist juga nggak pernah dipake buat evaluasi. Heuheu...

Hummm...

Kemudian berpikir untuk kembali membuat tahapan buat reminder. Atau nggak dicampur metodenya. Sok-sok ngalir nggak punya mimpi, tapi diem-diem ngerekam dan nulis. Hahaa... Kalo yang terencana kan biasa namanya dreamlist, dreambook, renstra, pohon mimpi dll. Jadi ini namanya apa ya? Ngngngng... Sungai mimpi? Dreamflow. Dreamwork. Aihh meni serius pisan. Namanya.. Watercanon @@

Trus stuck lagi. Emang punya mimpi? Nyahahaha...

Punya. Enak aja. Even if you know it you will laugh me. I still call it with DREAM :p

1. Punya laptop. Dengan jalan apapun :)
2. Nana nana nana
3. Lala lala lala
4. ....

Ternyata aku tak sanggup menuliskannya. Asli. Banyak yang aneh dan ga penting. Nggak bisa ngerubah dunia. Hyaa...

Tapi bakal ketauan kok dari apa yang bakal aku cerita-ceritain di depan. Blog ini juga jadi kontrol.

Wujudkan lagi mimpi mimpi, cita cita, cinta cinta... Yang lama kupendam sendiri... Berdua.. *ah gajadi :p